"Pikun Bukan Kemunduran, Tapi Optimasi": Teori Baru Penuaan Otak
-
Orang tua
Temuan sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa otak sering kali tidak mengalami kemunduran di masa tua, melainkan beradaptasi.
Melansir ISNA, Selasa, 06 Oktober 2026, dengan bertambahnya usia, memori episodik kita yang dikelola oleh area "hipokampus" secara bertahap melemah. Jenis memori ini terkait dengan detail spesifik, misalnya di mana mobil diparkir atau jam berapa janji temu.
Di masa lanjut usia, memori semantik yang berada di bawah kendali korteks prefrontal otak, biasanya mengambil peran yang lebih dominan. Memori ini mencakup pemahaman umum, pengetahuan umum, dan konsep utama seperti mengetahui aturan sepak bola atau nama ibu kota negara.
Pandangan umum di kalangan ahli ilmu saraf telah lama bahwa perubahan dalam fungsi otak ini merupakan solusi untuk beradaptasi dengan erosi saraf bertahap dan semacam mekanisme kompensasi. Namun bagaimana jika perubahan ini merupakan pilihan yang sadar dan lebih tepat bagi orang lanjut usia, yakni mereka yang telah menyimpan volume informasi jauh lebih besar di otak mereka dibandingkan orang muda?
Kini peneliti Universitas Arizona menerbitkan studi di jurnal "Perspectives on Psychological Science" yang berargumen bahwa pergeseran pusat aktivitas otak dari hipokampus ke korteks prefrontal, bukanlah kemunduran, melainkan semacam optimalisasi fungsi otak.
Peneliti ini dalam artikel mereka menulis, "Teori-teori dominan tentang penuaan kognitif menggambarkan masa lanjut usia sebagai periode kemunduran yang disertai kompensasi. Yakni upaya mempertahankan fungsi meskipun ada kemunduran saraf bertahap. Kami sebaliknya mengatakan bahwa penuaan sebenarnya adalah kelanjutan proses pertumbuhan dan evolusi, semacam reorganisasi dan adaptasi dalam sistem memori yang terjaga secara genetik dan sejalan dengan perkembangan otak pada tahap-tahap kehidupan sebelumnya."
Peneliti untuk membuktikan klaim mereka merujuk pada beberapa studi sebelumnya. Sebagai contoh, terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa perubahan semacam itu juga terjadi pada periode kehidupan lain, misalnya pada masa kanak-kanak juga terjadi perubahan arah yang sama, tetapi dalam arah yang berlawanan.
Juga dapat diargumentasikan bahwa perubahan yang bergantung pada usia ini tidak menunjukkan hilangnya fleksibilitas saraf (plastisitas) secara keseluruhan, melainkan dianggap sebagai cara untuk mengalokasikan ulang sumber daya otak.
Kita tahu bahwa hipokampus sangat boros dalam hal konsumsi energi. Karena itu mungkin otak sedang menyimpan sumber daya untuk waktu ketika paling dibutuhkan.
Fakta lain adalah bahwa beberapa koneksi dan sirkuit otak bahkan diperkuat di masa lanjut usia, hal yang menegaskan ide bahwa otak tidak mengalami kelemahan dan ketidakmampuan, melainkan dengan cerdas sedang mengatur ulang dirinya.
Studi ini juga merujuk pada kasus serupa di dunia hewan. Dengan bertambahnya usia, tikus juga cenderung lebih mengandalkan pengetahuan yang akrab, sementara gajah betina Afrika di masa tua menjadi "gudang pengetahuan sosial". Mungkinkah kita manusia juga menjalani proses yang sama?
Peneliti mengatakan, "Kumpulan temuan studi hewan menunjukkan bahwa penataan ulang sistem memori di masa tua, bukan fenomena khusus manusia, melainkan prinsip umum di antara spesies dengan umur panjang dan struktur sosial yang kompleks."
Mungkin ini memiliki tujuan evolusioner. Bagi mereka di antara kita yang beruntung mencapai masa tua, prioritas bergeser dari mengingat detail kehidupan sehari-hari menjadi mentransfer informasi.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, tidak hanya mungkin mengubah cara menilai penuaan otak, tetapi juga dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang penyakit terkait usia, seperti Alzheimer. Sebagai contoh, temuan ini mungkin memungkinkan pemisahan yang lebih mudah antara gejala penyakit yang sebenarnya dari perubahan otak yang alami dan positif.
Dengan memperhatikan bahwa penyakit Alzheimer pada tahap awal disertai dengan aktivitas berlebihan hipokampus, ada kemungkinan juga bahwa penyakit tersebut mengganggu perubahan alami dan bermanfaat dalam prioritas otak yang seharusnya terjadi.
Penelitian ini tidak mengumpulkan bukti baru, melainkan dengan menafsirkan ulang penelitian sebelumnya, memberikan argumen yang kuat.
Langkah berikutnya sesuai apa yang disebut peneliti sebagai "hipotesis penuaan adaptif" adalah memantau subjek nyata seiring waktu dan menganalisis perubahan otak mereka untuk menentukan apakah tanda-tanda redistribusi saraf ini dapat diamati atau tidak. Hal ini jika terkonfirmasi dapat membuka perspektif baru di bidang penuaan otak dan pengobatan penyakit terkait usia.
Fabian-Xosé Fernandez, psikolog "Association for Psychological Science" menyatakan, "Jika kita memandang proses penuaan alami semata-mata sebagai proses kemunduran dan penurunan kemampuan, kita sebenarnya mengabaikan poin fundamental. Otak lanjut usia dioptimalkan untuk fungsi yang berbeda dari otak muda, fungsi yang terutama mencakup berbagi keahlian yang terakumulasi dan interaksi sosial."(Sail)