Kritik Rusia terhadap Kebijakan Barat
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, menilai kebijakan Amerika Serikat dan Barat sebagai pemicu penyebaran terorisme di Timur Tengah. Dalam sebuah pernyataan Jumat (21/10/2016), Lavrov menyoroti tekad Barat untuk mempertajam perselisihan dengan Rusia terkait isu Timur Tengah, dan mengatakan akibat ulah AS dan negara-negara Barat, saat ini ancaman kelompok-kelompok teroris telah menyebar ke seluruh kawasan.
Menurut menlu Rusia, intervensi Barat dalam urusan internal negara-negara Timur Tengah dan upaya untuk memaksakan demokrasi versi mereka, telah membuat kawasan dan dunia tidak stabil. "Pertikaian baru dan lebih buruk berpotensi muncul melalui campur tangan Barat, di mana krisis di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah contoh nyata dari intervensi itu," ujarnya.
Pemerintah Rusia sangat gusar dengan pendekatan Barat soal terorisme dan menganggap sikap mereka telah mendorong penyebaran terorisme di dunia. Pada dasarnya, Moskow sudah sering menekankan bahwa intervensi Barat di wilayah Timur Tengah adalah salah satu faktor utama penyebaran terorisme.
Menurut Rusia, Barat ingin mendominasi dunia dan memaksakan nilai-nilai mereka. Dalam hal ini, Lavrov berkali-kali menyinggung campur tangan Barat di sejumlah negara seperti, Libya, Suriah, dan Irak, dan menyebut langkah itu sebagai upaya langsung Barat untuk memaksakan hegemoni dan nilai-nilanya pada tingkat global.
Dapat dikatakan bahwa langkah pertama untuk memerangi terorisme dan ekstremisme adalah membentuk konsensus global dan kemudian mengambil tindakan kolektif untuk menumpasnya. Namun, selama sebagian negara masih mengejar kepentingannya dengan cara mendukung kelompok-kelompok teroris, maka kita harus siap menyaksikan peristiwa serangan teror yang lebih banyak di berbagai belahan dunia.
Kritik Moskow terhadap kebijakan dan tindakan Barat terutama Washington sebenarnya berada dalam konteks konfrontasi global Barat dan Rusia. Kedua pihak sekarang sedang berseteru di banyak isu internasional. Selain berbeda pandangan dan pendekatan terkait isu terorisme, Rusia dan Barat juga terlibat ketegangan serius dalam isu-isu lain di benua Eropa.
NATO – sebagai lengan militer Barat – bertindak agresif untuk memperbesar kehadirannya di Eropa Timur guna melawan Rusia dan memancing kemarahan negara itu. NATO mengambil langkah-langkah baru untuk memperluas ekspansinya termasuk penempatan pasukan AS di Norwegia.
Langkah itu mendapat respon keras dari Moskow, di mana juru bicara Kedutaan Besar Rusia di Oslo, Maxime Gourov mempertanyakan alasan Norwegia untuk meningkatkan kemampuan militernya dengan menerima kehadiran pasukan AS.
"Dengan melihat pernyataan yang dibuat oleh para pejabat Norwegia tentang tidak adanya ancaman dari Rusia terhadap mereka, kami ingin memahami mengapa Norwegia begitu tertarik untuk meningkatkan potensi militer, khususnya melalui penempatan pasukan AS di Trondheim," ujar Gourov.
Rusia sudah sampai pada kesimpulan bahwa aksi-aksi Barat bertujuan untuk memperlemah negara itu. Dengan melihat masalah ini, Moskow meminta Barat agar meninjau ulang kebijakan dan tindakannya serta mendesak Dewan Keamanan PBB untuk proaktif dalam perang kontra-terorisme sehingga manuver liar Barat dapat terkontrol. (RM)