Menteri Zionis Akui: Tel Aviv Sukses Seret AS ke Perang dengan Iran
-
PM Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump
Pars Today - Menteri Pertanian Rezim Zionis dalam pernyataan terbarunya mengakui bahwa rezimnya berhasil menyeret pemerintahan Trump ke dalam perang terhadap Iran.
Melaporkan dari Pusat Informasi Palestina, IRNA pada Senin, 20 April 2026, Avi Dichter, Menteri Pertanian Rezim Zionis sekaligus anggota Knesset, dalam wawancara dengan radio berbahasa Ibrani Reshet Bet mengakui bahwa "Israel telah menyeret Amerika Serikat ke dalam perang dengan Iran".
"Faktanya adalah bahwa level politik di Israel, termasuk Perdana Menteri Netanyahu dan mantan Menteri Ron Dermer (Menteri Urusan Strategis), secara praktis berhasil mendorong AS ke dalam perang sesungguhnya di sisi Israel," katanya. "Hasil perang ini sangat signifikan."
"Tanpa AS, Ini Tak Bisa Dilakukan Sendiri"
Pejabat rezim Zionis ini juga mengatakan bahwa Iran adalah poros sentral permusuhan terhadap Israel. "Bahwa AS berada di sisi kita dalam perang terhadap Iran, ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sejak berdirinya Israel. Tanpa AS, ini tidak akan bisa dilakukan sendiri," ujarnya.
Pernyataan Dichter ini mengonfirmasi pernyataan Kamala Harris, mantan Wakil Presiden Biden dan kandidat Demokrat dalam pemilihan presiden AS.
Harris, Sabtu malam (18/4/2026), menuduh Netanyahu telah mendorong presiden AS untuk melakukan aksi militer terhadap Iran, sesuatu yang ditentang rakyat Amerika.
Harris menggambarkan pemerintahan Trump sebagai pemerintahan paling korup, paling kejam, dan paling gagal dalam sejarah AS. Ia menyebut Trump sendiri tidak memiliki kepercayaan diri. Mengenai alasan serangan dan perang terhadap Iran, Harris mengatakan, "Ini adalah upaya putus asa untuk mengalihkan perhatian dari dokumen Pulau Epstein."
Skandal Epstein: Alasan di Balik Perang?
Sebelum perang, dokumen yang dirilis tentang Jeffrey Epstein, pedagang seks, penjahat kemanusiaan, sekaligus agen dan mata-mata rezim Tel Aviv, telah memicu kontroversi besar. Foto-foto Trump bersama penjahat terkenal ini memunculkan kemungkinan bahwa presiden AS tersebut terlibat dalam kejahatan jaringan Epstein.
Akhirnya, seorang menteri Zionis mengakui secara terbuka apa yang selama ini diduga banyak pihak: Israel-lah yang menyeret Amerika ke dalam perang dengan Iran. Bukan karena ancaman eksistensial, bukan karena nuklir, tetapi karena kepentingan politik Tel Aviv.
"Tanpa AS, ini tak bisa dilakukan sendiri", sebuah pengakuan jujur bahwa Zionis lemah sendirian. Mereka butuh kekuatan AS untuk melakukan "pekerjaan kotor" mereka.
Kamala Harris menambahkan lapisan lain: perang ini juga bertujuan mengalihkan perhatian dari skandal Epstein, di mana Trump sendiri diduga terlibat. Jadi, rakyat Amerika dan Iran sama-sama menjadi korban: satu kehilangan nyawa, yang lain kehilangan uang dan stabilitas, sementara para politisi dan lobi Zionis bermain api di belakang layar.
Pertanyaan sekarang: setelah pengakuan ini, apakah rakyat Amerika masih akan diam melihat negaranya diseret ke dalam perang demi kepentingan asing?(sl)