Putaran Kedua Negosiasi Lebanon-Israel Digelar Kamis di AS
-
Rezim Zionis, Amerika Serikat dan Lebanon
Pars Today - Putaran kedua negosiasi langsung antara pejabat Lebanon dan rezim Zionis akan digelar pada Kamis pekan ini di Amerika Serikat.
Melaporkan dari IRNA, seorang pejabat tinggi Lebanon yang enggan disebut namanya mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa negosiasi akan berlangsung, meskipun rincian resminya akan diumumkan kemudian.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun, pada hari Senin, 20 April, bertemu dengan Duta Besar AS untuk Beirut, Michael Isa. Pertemuan membahas hasil negosiasi pekan lalu di markas Departemen Luar Negeri AS serta cara-cara mempertahankan gencatan senjata.
Kedubes AS: Dukung Pengembalian Kedaulatan Penuh Lebanon
Di sisi lain, jaringan Al Jazeera melaporkan bahwa Kedutaan Besar AS di Beirut mengeluarkan pernyataan tentang pertemuan diplomatik duta besar dengan pejabat senior Lebanon mengenai penguatan kedaulatan nasional.
Kedutaan AS menyatakan bahwa dalam pertemuan dengan Presiden dan Ketua Parlemen Lebanon, duta besar AS menekankan dukungan penuh Washington terhadap pengembalian kedaulatan penuh Lebanon.
Dalam pernyataan itu, duta besar AS kembali, dengan cara mencampuri urusan internal Lebanon, mengklaim bahwa Washington mendukung proses monopoli senjata di bawah lembaga resmi dan kedaulatan Lebanon.
Aoun Ingin Bertemu Trump Tanpa Netanyahu
Sementara itu, media Lebanon melaporkan bahwa Presiden Lebanon ingin bertemu dengan Presiden AS Donald Trump tanpa kehadiran Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu.
Berita ini dirilis setelah pekan lalu CNN melaporkan bahwa Aoun berbicara melalui telepon dengan Trump. Pembicaraan itu dilakukan setelah Aoun menolak berbicara melalui telepon dengan Netanyahu.
Penolakan Aoun untuk berbicara dengan Netanyahu terjadi setelah Trump sebelumnya menulis di Truth Social, "Presiden Lebanon dan Perdana Menteri Israel akan berbicara hari ini dalam kerangka upaya mengurangi ketegangan antara kedua pihak. Pembicaraan ini akan terjadi setelah 34 tahun sejak pertemuan terakhir para pemimpin kedua pihak."
Setelah pesan Trump dipublikasikan, Aoun menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, tidak ada ruang untuk pembicaraan semacam itu. Sebelum segalanya, serangan Israel ke Lebanon harus dihentikan dan gencatan senjata harus diterapkan.
Dubes AS Temui Aoun dan Berri
Duta Besar AS untuk Lebanon, setelah kembali ke Beirut, untuk pertama kalinya sejak pengumuman gencatan senjata sementara 10 hari, bertemu dengan Aoun dan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri.
Aoun, dalam pernyataan yang dirilis kantor media kepresidenan Lebanon, menyatakan bahwa tujuan dari opsi negosiasi adalah menghentikan permusuhan, mengakhiri pendudukan wilayah selatan oleh Israel, dan menempatkan tentara di perbatasan selatan yang diakui secara internasional.
Presiden Lebanon melanjutkan bahwa negosiasi mendatang terpisah dari negosiasi lainnya, karena Lebanon dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan perang dengan konsekuensi kemanusiaan, sosial, ekonomi, dan kedaulatannya, atau bernegosiasi untuk mengakhiri perang ini dan mencapai stabilitas berkelanjutan. "Saya telah memilih negosiasi, dan saya berharap dapat menyelamatkan Lebanon," ujarnya.
Lebanon memilih negosiasi. Di tengah kehancuran dan ancaman pendudukan, Presiden Aoun berharap dialog dapat menghentikan perang dan memulihkan kedaulatan.
Namun, di balik meja perundingan, AS masih dengan tegas "mendukung monopoli senjata oleh lembaga resmi Lebanon", sebuah intervensi terselubung yang mengingatkan bahwa mediasi sering kali datang dengan syarat.
Aoun menolak berbicara dengan Netanyahu, tetapi bersedia bertemu Trump. Itu menunjukkan bahwa Lebanon lebih percaya pada Washington daripada Tel Aviv, meskipun sejarah menunjukkan bahwa keduanya seringkali seirama.
Pertanyaannya: apakah negosiasi ini akan membawa Lebanon keluar dari krisis? Atau hanya akan menjadi babak lain dari dominasi asing dengan kedok perdamaian?(sl)