Petroyuan: Gempa Senyap yang Mengguncang Ekonomi Global
-
Petroyuan
Pars Today - Dari Selat Hormuz yang bergolak ke panggung keuangan dunia: Tiongkok secara diam-diam mulai menulis ulang aturan main minyak global, menggantikan dolar dengan yuan.
Gempa Senyap di Tengah Badai
Melaporkan dari IRNA, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Teluk Persia dan terhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, media melaporkan keputusan Tiongkok untuk menandatangani kontrak minyak dengan negara-negara Teluk berdasarkan yuan. Para analis menilai langkah ini sebagai upaya melawan dominasi dolar dan sebuah "gempa senyap" dalam ekonomi global.
Sejak dimulainya agresi koalisi AS-Zionis terhadap Republik Islam Iran dan tindakan Iran untuk mencegah lalu lintas kapal dan armada negara-negara yang memusuhi melalui Selat Hormuz, para analis ekonomi telah berbicara tentang menurunnya dominasi dolar, terutama di pasar energi global.
Pembayaran tol dalam yuan, izin lintas bagi kapal yang bertransaksi dengan yuan, penyelesaian pembelian minyak Iran dengan yuan, keputusan Rusia untuk menyelesaikan kontrak minyaknya dengan yuan, semua ini telah menjadi perhatian media ekonomi dunia, meskipun beberapa laporan ini tidak pernah dikonfirmasi oleh pejabat resmi dan masih sebatas spekulasi media.
Kontrak Petro-Yuan: Kenyataan atau Spekulasi?
Dalam berita terbaru, media mengumumkan bahwa Tiongkok telah mengganti kontrak petro-dollar dengan petroyuan untuk negara-negara Teluk. Bahkan dilaporkan bahwa dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, kilang-kilang India juga telah menyelesaikan pembelian minyak dari Iran menggunakan yuan Tiongkok.
The Wall Street Journal melaporkan negosiasi darurat Abu Dhabi dengan Washington untuk dukungan finansial dan jaminan ekonomi guna mencegah keruntuhan keuangan UEA. Surat kabar itu mengungkapkan bahwa di tengah kekhawatiran tentang perpanjangan konflik AS-Israel dan kelanjutan krisis Selat Hormuz, UEA mengadakan negosiasi mendesak dengan AS dan meminta dukungan finansial segera serta jaminan ekonomi dari Washington.
UEA memberi tahu Washington bahwa jika mereka tidak diberikan cadangan dolar yang cukup, mereka mungkin terpaksa menjual sebagian minyak mereka dengan mata uang asing lain, terutama yuan Tiongkok. Langkah ini akan menjadi pukulan signifikan bagi hegemoni dolar AS di pasar global. Pejabat UEA merujuk pada keputusan Trump menyerang Iran, yang telah menyeret kawasan ke dalam konflik destruktif dengan konsekuensi yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Dari Wacana ke Aksi Nyata
Faktanya, menurut pengamat pasar energi, perkembangan ini merupakan peringatan serius bagi dominasi dolar selama beberapa dekade di pasar minyak global. Para ahli berbicara tentang awal era baru dalam sistem keuangan internasional, sebagaimana WSJ dalam laporannya mengakui percepatan pengabaian dolar oleh negara-negara Asia Barat, dan meyakini hal ini akan mendorong dunia menuju sistem keuangan multipolar.
Selama bertahun-tahun, negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, Iran, serta kekuatan ekonomi baru lainnya telah berbicara tentang perlunya mengurangi ketergantungan pada dolar. Mereka bahkan mencari alternatif seperti mata uang tunggal BRICS. Namun apa yang terjadi hari ini adalah perubahan strategis dan praktis dalam transaksi minyak Teluk.
Mengapa Tiongkok Melakukan Ini?
Pertanyaan terpenting adalah: bagaimana Tiongkok berupaya mengalahkan dolar dengan memasuki dunia energi? Jawabannya: Tiongkok ingin mengurangi kerentanannya terhadap sanksi AS. Beijing percaya bahwa dolar adalah senjata politik dan ekonomi berbahaya yang dikuasai Washington. Negara mana pun yang berselisih dengan AS dapat dipotong dari sistem SWIFT dan akses ke dolar.
Tiongkok tidak ingin ekonomi terbesar kedua di dunia bergantung pada keputusan Gedung Putih. Pengamat internasional juga percaya bahwa dengan langkah ini, Tiongkok ingin meningkatkan kekuatan global yuan, menjadikannya mata uang internasional. Jika minyak dunia diperjualbelikan dengan yuan, itu akan meningkatkan nilai dan pengaruh ekonomi Tiongkok.
Apa Dampaknya bagi Dolar?
Jika yuan menggantikan dolar, apa yang akan terjadi pada pasar dolar? Beberapa pakar ekonomi percaya bahwa langkah ini akan menyebabkan jatuhnya permintaan global terhadap dolar. Jika minyak dibeli dengan yuan, negara-negara tidak perlu lagi memegang miliaran dolar cadangan devisa untuk membeli minyak.
Penurunan permintaan dolar berarti penurunan nilainya terhadap mata uang lain. Pasar keuangan AS, termasuk obligasi Treasury, saham, real estat, sangat bergantung pada modal asing yang menganggap dolar sebagai mata uang aman. Dengan menurunnya kredibilitas dolar, modal akan mengalir ke yuan, emas, atau mata uang lainnya, yang berarti jatuhnya bursa saham, kenaikan suku bunga, dan resesi mendalam di AS.
Siapa yang Dirugikan oleh Jatuhnya Petrodolar?
Pergeseran ke yuan dalam kontrak minyak, terutama di kawasan yang menjadi tujuan pengiriman minyak ke Asia Timur, tidak hanya berdampak pada AS. Beberapa negara juga akan dirugikan, termasuk negara-negara pengekspor minyak Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain.
Negara-negara ini harus memutuskan apakah akan mengubah cadangan devisa mereka dari dolar ke yuan. Keputusan ini bahkan dapat sangat mempengaruhi hubungan politik mereka dengan AS, masalah yang terlihat jelas dalam laporan WSJ tentang korespondensi UEA dengan Washington.
AS Akan Melawan, Mungkin Tak Mampu Menghentikan
Meskipun Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi, analis JP Morgan percaya bahwa AS pasti akan memberlakukan sanksi sekunder terhadap India dan negara-negara yang membeli minyak dengan yuan. Upaya untuk memperkuat dolar melalui kenaikan suku bunga dan melancarkan perang mata uang melawan Tiongkok melalui instrumen keuangan dan perdagangan akan menjadi opsi yang mungkin ada di atas meja.
Namun, JP Morgan juga mencatat bahwa mengingat pengaruh ekonomi Tiongkok dan bergabungnya negara-negara secara bertahap ke dalam petro-yuan, AS tampaknya tidak memiliki kemampuan untuk sepenuhnya menghentikan proses ini.
Petrodolar Mulai Terpinggirkan
Setelah runtuhnya standar emas Bretton Woods untuk nilai tukar dolar AS pada awal 1970-an, AS mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi bahwa harga minyak akan ditetapkan dalam dolar. Sejak itu, pasar energi global menyaksikan fenomena "petrodolar", yang tidak hanya menjadikan dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, tetapi juga memungkinkan penguasa Gedung Putih menciptakan likuiditas dengan mencetak uang tanpa dukungan aset, serta menarik pendapatan minyak dalam bentuk investasi asing.
Media terkemuka seperti Reuters dan Bloomberg pekan lalu, selama Konferensi Perdagangan Tiongkok-UEA di Beijing, melaporkan penandatanganan 24 nota kesepahaman kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan fokus pada penyelesaian menggunakan yuan dan dirham. Pernyataan akhir konferensi juga menekankan penyelesaian transaksi keuangan minyak dengan yuan.
Yuan Jadi Mata Uang Kedua Perdagangan Minyak
Data terbaru tentang transaksi keuangan SWIFT menunjukkan bahwa pangsa yuan Tiongkok dalam total penyelesaian perdagangan minyak global pada Maret 2026 telah melampaui 14 persen, menjadikan yuan sebagai mata uang kedua dalam perdagangan minyak.
Analis senior Wall Street percaya bahwa dominasi dolar dalam perdagangan global sedang hancur. Dalam proses ini, perang agresif AS dan Israel terhadap Iran adalah kesalahan strategis terbesar Gedung Putih di Timur Tengah, karena telah mempercepat "penggantian yuan sebagai pengganti dolar" dalam kontrak minyak dan energi.
Tiongkok tidak pernah mengumumkan perang terhadap dolar secara terbuka. Namun dengan tenang, melalui kontrak minyak, jalur perdagangan, dan pengaruh ekonominya, Beijing sedang mempersiapkan panggung untuk era baru: era petro-yuan.
AS mungkin masih memiliki militer terkuat, tetapi dalam perang mata uang, senjata tidak selalu menentukan pemenang. Ketika UEA, sekutu dekat Washington, mengancam akan beralih ke yuan, itu adalah sinyal bahwa dominasi dolar mulai retak.
Perang terhadap Iran, yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan AS, kini menjadi bumerang: ia mempercepat de-dolarisasi, mendorong negara-negara Teluk Persia untuk mencari opsi lain, dan memberi Tiongkok momentum yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.
Dunia mungkin belum sepenuhnya meninggalkan dolar. Namun gempa senyap telah terjadi. Dan ketika pusat gravitasi ekonomi global bergeser, tidak ada yang akan tetap sama.(sl)