Duterte dan Pengusiran Militer AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i28531-duterte_dan_pengusiran_militer_as
Rodrigo Duterte, Presiden Filipina menyatakan, Amerika Serikat harus menyiapkan diri untuk pembatalan kerjasama militer dengan Manila.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 18, 2016 12:36 Asia/Jakarta
  • Rodrigo Duterte
    Rodrigo Duterte

Rodrigo Duterte, Presiden Filipina menyatakan, Amerika Serikat harus menyiapkan diri untuk pembatalan kerjasama militer dengan Manila.

Presiden Filipina pada Sabtu (17/12) mengimbau untuk bersiap-siap menghadapi pencabutan kesepakatan penempatan pasukan dan perlengkapan latihan, dengan mengatakan "selamat tinggal Amerika", dan "kami tidak butuh uang kalian".

 

Namun, Duterte mengindikasikan bahwa hubungan Filipina-AS bisa meningkat di bawah Presiden Donald Trump. "Saya suka mulut Anda (Trump, red), sama seperti (mulut) saya, ya, Bapak Presiden. Kita serupa, orang-orang yang memiliki kesamaan."

 

Soal pemerintahan AS saat ini, yang telah melancarkan kritik terhadap Duterte menyangkut laporan pembunuhan semenan-mena dalam perang yang dilancarkannya terhadap narkoba, Duterte mengatakan, "Kami tidak perlu kalian."

 

Dalam jumpa pers di Manila usai kunjungan ke Kamboja dan Singapura, Duterte mengatakan, "Siap-siap tinggalkan Filipina. Siap-siap menghadapi pencabutan VFA nanti."

 

VFA yaitu Visiting Forces Agreeement, ditandatangi pada 1998 dan menjadi ijin bagi ribuan personel pasukan Amerika Serikat yang telah dirotasi di Filipina untuk melakukan latihan militer serta operasi-operasi bantuan kemanusiaan.

 

Menurut Duterte, keputusannya itu akan diterapkan "dalam waktu dekat" setelah meninjau ulang kesepakatan militer lainnya, yaitu Perjanjian Peningkatan Kerja Sama Pertahanan. Ia juga menekankan bahwa Filipina tidak lagi memerlukan bantuan dana dari Amerika Serikat, mengingat Cina sudah berjanji akan memberikan bantuan lebih banyak.  

 

Keputusan larangan penggunaan pangkalan militer di Filipina oleh Amerika Serikat, pembatalan patroli kolektif maritim dan manuver bersama kedua negara, jawaban positif Manila atas penjualan senjata Beijing dan program pembelian senjata dari Rusia, merupakan rentetan episode gejolak dalam hubungan militer dan keamanan Manila-Washington.

 

Kesepakatan terbaru pasukan penjaga pantai Filipina dan Cina untuk memperluas kerjasama kolektif juga termasuk di antara dampak dari gejolak tersebut. Pemerintah Cina melirik gejolak tersebut sebagai peluang bagi Beijing dalam meningkatkan kerjasama pertahanan dan militernya dengan Manila. Hal ini juga sejalan dengan kepentingan nasional Cina karena melemahnya hubungan AS-Filipina berarti mengerutnya peluang intervensi dan interferensi AS di Laut Cina Selatan.

 

Untuk saat ini, Duterte tampak akan fokus pada pemutusan atau pembatasan kerjasama militer dengan Amerika Serikat. Di saat kekhawatiran Gedung Putih terhadap politik Duterter meningkat, sambutan Cina dan juga Rusia atas politik Presiden Filipina itu juga semakin hangat.

 

Namun yang pasti Amerika Serikat akan mengerahkan segala saranya dan upaya untuk mengubah politik Duterte, termasuk di antaranya pengurangan bantuan finansial untuk Manila dan juga penggerogotan kebijakannya dalam menindak para penyelundup narkoba di Mahkamah Pidana Internasional.(MZ)