Kompetisi Energi Asia Tengah
Presiden Uzbekistan mengeluarkan keputusan mengenai implementasi program pengembangan energi tenaga air di Uzbekistan selama lima tahun mendatang. Berdasarkan kepres tersebut, selama lima tahun mendatang jumlah pembangkit listrik tenaga air harus mencapai 42 buah.
Instruksi presiden Shavkat Mirziyoyev mengenai implementasi program pengembangan energi tenaga air Uzbekistan selama lima tahun mendatang menunjukkan arah baru kebijakan energi negara Asia Tengah. Masalah ini berkaitan dengan kebutuhan energi negara ini yang relatif bergantung kepada negara tetangganya. Meskipun Uzbekistan memiliki cadangan minyak dan gas yang memadai, tapi negara ini masih bergantung kepada Tajikistan dan Kyrgyzstan.
Kondisi tersebut berlanjut pasca berpisahnya negara-negara Asia Tengah ini dari pemerintahan Uni Soviet. Energi gas bagi Uzbekistan, dan energi air dan listrik yang dihasilkannya dari pembangkit listrik tenaga air bagi Kyrgyzstan dan Tajikistan menjadi alat masing-masing untuk menekan pihak lain demi mengubah sikap politik lawannya.
Kini, negara-negara kawasan Asia Tengah selama beberapa tahun terakhir berupaya mengurangi ketergantungannya dengan menjalankan berbagai proyek baru untuk memenuhi kebutuhan energi demi meningkatkan posisi tawar dan independensinya masing-masing. Oleh karena itu, Presiden Uzbekistan menetapkan tenggat waktu pembangunan 42 pembangkit listrik tenaga air selama kurun waktu lima tahun mendatang.
Pada saat yang sama Tajikistan juga mengembangkan industri energinya. Bantuan bank dunia terhadap Tajikistan sebesar 226 juta dolar untuk pengembangan sistem energi negara ini bertujuan untuk merenovasi dan meremajakan pembangkit listrik tenaga air Narik di Tajikistan.
Menelisik program pengembangan industri energi di Uzbekistan dan Tajikistan, yang saling bersaing dalam masalah energi, termasuk energi gas, listrik tenaga air dan kebutuhan sumber air masing-masing, pada tahap awal menunjukkan upaya masing-masing negara untuk memodernisasikan pembangkit listriknya masing-masing dan kemudian membangun pembangkit listrik tenaga air baru. Proyek ini disikapi oleh Uzbekistan secara hati-hati karena mempertimbangkan keterbatasan air di negaranya dibandingkan kompetitornya di kawasan.
Meskipun para pejabat Uzbekistan memandang program peningkatan pembangunan pembangkit listrik dan modernisasi pembangkit yang ada saat ini sebagai sebuah kebutuhan penting negaranya, tapi ketergantungan Tashkent terhadap sumber air negara tetangganya terutama Tajikistan dan Kyrgyzstan yang relatif memiliki cadangan air lebih besar dan disebut-sebut sebagai sember air Asia Tenggara menimbulkan pertanyaan besar.
Pasalnya, Uzbekistan pada tahap awal bersedia mengeluarkan biaya besar untuk membiayai proyek ini, termasuk kebutuhan airnya. Kini sebagian besar kebutuhan air Uzbekistan dipergunakan untuk memenuhi sektor industri pertanian negara ini. Dalam kondisi demikian, persaingan masalah energi antara Tajikistan dan Uzbekistan berada dalam pengaruh politik yang tidak menimbulkan friksi. Tampaknya, apa yang dilakukan Uzbekistan dan Tajikistan untuk merenovasi dan membangun pembangkit listrik tenaga air dengan bantuan luar negeri sebagai kebijakan kedua negara untuk meredam friksi dan menurunkan tingkat perselisihan di antara mereka.