Absennya Afghanistan dalam KTT NATO
https://parstoday.ir/id/news/world-i38212-absennya_afghanistan_dalam_ktt_nato
Juru bicara pemerintah Afghanistan, Najibullah Azad mengatakan Kabul tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Brussels pada 25 Mei 2017.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
May 25, 2017 09:42 Asia/Jakarta
  • NATO dan Afghanistan
    NATO dan Afghanistan

Juru bicara pemerintah Afghanistan, Najibullah Azad mengatakan Kabul tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Brussels pada 25 Mei 2017.

"Mekanisme pelaksanaan misi NATO di Afghanistan akan dibahas pada sidang aliansi militer ini di Brussels, yang dimulai pada hari Kamis," tambahnya.

Najibullah Azad menjelaskan bahwa pemerintah Kabul berharap pertemuan tersebut akan membahas isu Afghanistan dan mekanisme untuk menekan Taliban berdasarkan Pakta Keamanan Kabul dan NATO.

Absennya Afghanistan pada pertemuan NATO menunjukkan bahwa para pejabat Kabul dan NATO memiliki pandangan yang berbeda mengenai misi tempur di negara itu.

Pada Selasa lalu, Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani mengatakan kendali operasi tempur di negaranya berada di tangan militer Afghanistan dan untuk itu, Kabul tidak akan menyambut kehadiran NATO.

Ia mengeluarkan hal itu dalam mereaksi kemungkinan pengiriman pasukan tambahan NATO ke Afghanistan.

Amerika Serikat dan NATO mengambil kebijakan yang bertentangan dengan sikap pemerintah Afghanistan dan mengejar kebijakan pengiriman pasukan yang lebih besar.

Berdasarkan proposal para komandan tinggi pasukan asing di Afghanistan, Departemen Pertahanan AS mengumumkan pengiriman 3.000-5.000 prajurit baru ke Afghanistan.

Pemerintah Afghanistan memilih absen di Brussels sebagai protes atas kebijakan agresif Barat yang ingin menumpuk pasukannya di sana. Keputusan ini bahkan akan membawa dampak negatif bagi hubungan kedua pihak. Pada dasarnya, Kabul ingin mengirim sebuah pesan yang jelas kepada para pemimpin NATO terutama Presiden AS Donald Trump.

Dalam perspektif pemerintah Kabul, kebijakan penambahan pasukan asing bukan solusi yang efektif untuk mengakhiri perang dan kekacauan di Afghanistan. Negara-negara Barat lebih baik memperkuat pasukan polisi dan militer Afghanistan melalui berbagai program ketimbang memperbanyak jumlah pasukannya di negara itu.

Kebijakan penambahan pasukan asing di Afghanistan justru memancing Taliban untuk melancarkan perang habis-habisan terhadap pemerintah. Pengiriman pasukan baru NATO akan selalu diikuti dengan meningkatnya serangan terorisme di Afghanistan. Oleh karena itu, para pejabat Kabul berkali-kali menyerukan penghentian kebijakan penambahan pasukan asing di negeri mereka.

Taliban sudah sering menyatakan bahwa selama pasukan asing masih beroperasi di Afghanistan, mereka tidak akan bergabung dalam proses perundingan damai dan akan terus melanjutkan perang.

Sebenarnya, program penambahan pasukan asing di Afghanistan telah gagal dan pemerintah Kabul berharap agar NATO mengadopsi sebuah langkah yang efektif untuk memerangi Taliban. (RM)