Konflik Internal Semakin Keras, Turki Diambang Disintegrasi
Presiden Turki mengancam akan mempidanakan Kilicdaroglu, Ketua Partai Rakyat Republik, CHP. Ancaman Recep Tayyip Erdogan itu dipicu salah satu pernyataan Kilicdaroglu yang memprotes penangkapan Enis Berberoglu, anggota CHP sekaligus jurnalis yang membocorkan bantuan senjata Erdogan untuk teroris Suriah dan ajakannya kepada masyarakat untuk melakukan aksi long march Ankara-Istanbul sepanjang 450 kilometer.
Enis Berberoglu adalah salah satu anggota Parlemen Turki dari CHP yang dijatuhi hukuman penjara 25 tahun setelah membocorkan bantuan senjata Erdogan kepada teroris di Suriah. Ini bukan untuk yang pertama kalinya Erdogan mengancam untuk menangkap dan menebloskan penentangnya ke penjara. Pasca kudeta militer gagal Juni 2016 lalu, Erdogan menjadikan kudeta sebagai dalih untuk menangkap sedikitnya 47.000 penentangnya.
Erdogan bahkan mencabut izin terbit koran-koran yang menentangnya dan memecat ribuan pegawai pemerintah yang dianggap melawan dirinya. Aksi pemberangusan luas Erdogan ini terus berlanjut sampai berujung dengan pemecatan para guru. Realitas ini menunjukkan bahwa Erdogan dengan impian menghidupkan kembali kejayaan Usmani, berusaha melemahkan prestasi bersejarah bangsa Turki yaitu negara republik.
Sepertinya Erodgan tak segan melakukan apapun untuk meraih impiannya, bahkan jika harus mendukung teroris di luar negeri dan menumpas kelompok-kelompok oposisi seperti Partai Rakyat Republik, CHP di dalam negeri. Presiden Turki yang pada tahun 2016 berhasil menyelamatkan diri dari kudeta berkat bantuan masyarakat, sekarang diduga sudah kehilangan sejumlah besar basis dukungan rakyatnya.
Sebelumnya, referendum amandeman Undang-undang Dasar yang didukung Erdogan, dengan susah payah berhasil menang dengan 51 persen. Sekarang CHP, rival utama Partai Keadilan dan Pembangunan, AKP mengajak masyarakat Turki melakukan aksi long march sepanjang 450 kilometer dari Ankara ke Istanbul untuk menunjukkan kekuatan massa di hadapan Erdogan.
Sebagaimana sebelumnya berhasil menggagalkan kudeta, saat ini rakyat Turki pun bisa mengisolasi Erdogan. Kenyataannya adalah aksi penangkapan massal dan pemberangusan hak politik yang dilakukan Erdogan telah membangkitkan kekhawatiran rakyat Turki.
Dexter Filkins, dosen dan peneliti di Universitas Harvard, Amerika Serikat sebelum digelarnya referendum amandemen UUD Turki menuturkan, referendum UUD Turki jika sampai menang, maka akan mengantarkan Erdogan menjadi seorang diktator. Sekarangpun Erdogan bukan saja diktator tapi sudah menjadi figur yang menakutkan bagi rakyat. Ia memperlakukan penentangnya dengan tangan besi dan seluruh aktivis sosial Turki terancam diberangus hak-haknya. Kondisi ini menyeret Turki ke jurang instabilitas.
Patut diduga bahwa bahaya besar saat ini sedang mengancam integritas rakyat Turki yang tengah berusaha menjadi sebuah negara maju dan telah mengeluarkan dana tidak sedikit. Akhir-akhir ini, ancaman partai-partai lama yang memiliki basis massa banyak di Turki, semakin tampak dan dinilai bisa memicu disintegrasi serta perpecahan di tengah masyarakat.
Pada saat yang sama, Erdogan harus tahu bahwa rakyat Turki yang dulu menggagalkan kudeta, sekarangpun mampu mencegah Erdogan berubah menjadi diktator yang sesungguhnya. (HS)