Perundingan Maraton yang Berujung Tanpa Kesepakatan
-
Perundingan Republik Islam Iran dan Amerika Serikat di Pakistan
Pars Today - Putaran lain negosiasi antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung dari Sabtu hingga Minggu malam dengan mediasi Pakistan di Islamabad, setelah sekitar 21 jam pembicaraan intensif, berakhir tanpa kesepakatan akibat tuntutan berlebihan dan permintaan tidak logis Amerika.
Menurut laporan Pars Today, Senin, 12 April 2026, putaran terakhir negosiasi trilateral dimulai pukul 01.05 dini hari waktu setempat dan berakhir pukul 03.12.
Negosiasi berlangsung di dua tingkat: teknis serta delegasi utama trilateral. Bersamaan dengan itu, tim teknis kedua pihak saling bertukar naskah dan mengkaji proposal.
Berbagai komite Iran terlebih dahulu mengadakan beberapa kali pertemuan, mengkaji posisi-posisi, dan dengan kohesi penuh bersiap memulai negosiasi. Setelah atmosfer negosiasi trilateral mulai serius, pembicaraan memasuki fase teknis. Sebagian anggota komite khusus delegasi Iran berangkat ke lokasi negosiasi, dan proses ini masih terus berlangsung.
Akhirnya, setelah melalui tahapan teknis, negosiasi kembali ke level trilateral utama antara Iran, Amerika, dan Pakistan. Hal ini menunjukkan upaya pengambilan keputusan di tingkat politik di samping kelanjutan konsultasi teknis.
Komposisi Delegasi
Dalam putaran pembicaraan ini, delegasi tingkat tinggi kedua negara hadir:
Iran: Mohammad Bagher Ghalibaf, Seyed Abbas Araghchi, Ali Akbar Ahmadian
Amerika Serikat: J.D. Vance, Steve Witkoff, Jared Kushner
Peran Pakistan dalam Keberlanjutan Negosiasi
Sementara itu, Pakistan dengan peran mediasinya berupaya menjaga kelangsungan proses negosiasi. Proposal perpanjangan pembicaraan dari Islamabad dinilai dalam kerangka yang sama.
Tuntutan Tak Logis Amerika
Sumber-sumber Iran menyatakan bahwa tuntutan berlebihan dan permintaan tidak logis Amerika dalam sejumlah isu, termasuk Selat Hormuz, merupakan salah satu hambatan utama negosiasi untuk mencapai kerangka kerja yang jelas.
Jaringan CNN dini hari tadi mengutip "sumber keamanan Iran" yang mengatakan selama Iran dan Amerika belum mencapai "kerangka kerja bersama" untuk melanjutkan negosiasi, status Selat Hormuz akan tetap tidak berubah.
Sumber yang tidak disebutkan namanya itu menambahkan bahwa "tuntutan berlebihan" pihak Amerika dalam beberapa isu, termasuk Selat Hormuz, menghalangi kedua pihak mencapai landasan bersama untuk melanjutkan pembicaraan.
Inisiatif Bukan di Tangan Washington
Media Eropa, seraya meliput secara luas negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat dengan mediasi Pakistan di Islamabad, menekankan bahwa delegasi Amerika yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance berpartisipasi dalam pembicaraan ini dengan opsi terbatas, dan inisiatif tidak berada di tangan Washington.
The Guardian dalam laporannya menulis bahwa Vance memasuki negosiasi dalam situasi di mana pihak Iran, setelah bertahan terhadap serangan besar-besaran Amerika dan rezim Zionis serta perkembangan terkait Selat Hormuz, memandang dirinya berada dalam posisi superior. Hal ini mengubah keseimbangan negosiasi merugikan Washington.
Media Inggris ini menegaskan bahwa misi Vance adalah mencapai kesepakatan berkelanjutan, tetapi mewujudkan tujuan ini memerlukan keputusan sulit antara memberikan konsesi kepada Iran atau menerima risiko kegagalan negosiasi yang juga menghadapi penentangan di dalam Amerika.
Posisi Iran; Keseriusan Bersyarat pada Perilaku Lawan
Sejalan dengan itu, Presiden Masoud Pezeshkian, seraya menekankan keseriusan Iran dalam negosiasi, menyatakan keberhasilan proses ini bergantung pada pendekatan lawan, dan menegaskan pengupayaan pemenuhan kepentingan nasional.
Presiden juga dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah mencari ketegangan atau perang, dan selalu menekankan penyelesaian masalah melalui dialog berdasarkan hukum internasional. "Namun, kami tidak ragu dalam membela hak-hak sah dan integritas teritorial negara kami," tegasnya.
Presiden, seraya mengingatkan ingkar janji Amerika dalam negosiasi, pemaksaan dua perang terhadap Iran, dan berbagai kejahatan terhadap bangsa Iran, mengatakan, "Kami memasuki negosiasi Islamabad dengan kesungguhan dan keseriusan, tetapi keberhasilannya bergantung pada pendekatan pihak lawan."
Negosiasi Berakhir Tanpa Kesepakatan
Negosiasi Iran dan Amerika di Islamabad, Pakistan, telah berakhir, dan tuntutan berlebihan Amerika menghalangi tercapainya kerangka kerja bersama serta kesepakatan.
Pihak Amerika menuntut Iran membuka Selat Hormuz dan menyerahkan uranium yang diperkaya.
Sumber tersebut menambahkan bahwa J.D. Vance, pimpinan tim negosiator Amerika, berusaha menyalahkan Iran atas berlarutnya proses negosiasi. "Tetapi yang selama ini menghambat proses ini hanyalah tuntutan berlebihan pihak Amerika."
Terkait isu penghentian perang di semua front, sumber dekat tim negosiator Iran menambahkan bahwa sejauh ini sekutu regional Amerika, yaitu rezim Zionis, yang berulang kali melanggar gencatan senjata. Bahkan semalam, rezim tersebut juga mencemari wilayah selatan Lebanon dengan bom-bom fosfor.(sl)