Popularitas Abe Merosot
Popularitas Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dilaporkan merosot tajam menyusul terkuaknya skandal terbaru.
Jajak pendapat yang dirilis oleh Kantor Berita Kyodo pasca terkuaknya skandal terbaru perdana menteri Jepang menunjukkan bahwa popularitas Abe turun 10 persen dan mencapai 44,9 persen.
Baru-baru ini Departemen Pendidikan Jepang merilis dokumen yang menurut kubu oposisi pemerintah, Shinzo Abe melalui praktek kolusi berusaha membangun sekolah tinggi ilmu kedokteran hewan baru untuk salah satu temannya di zona khusus ekonomi di negara ini. Kubu oposisi menuding Abe menyalahgunakan kekuasaan.
Meski Abe menepis tudingan ini, namun menyebarnya berita ini di tengah masyarakat Jepang menjadi pukulan lain bagi posisi perdana menteri. Di jajak pendapat yang dirilis Kyodo, sekitar 85 persen responden mengatakan tidak menyakini penyidikan pemerintah akan menguak kebenaran skandal ini dan 74 persen responden mengaku tidak puas dengan penekanan pemerintah bahwa dalam proses ini tidak ada kesalahan.
Ini artinya kepercayaan publik Jepang terkait kinerja pemerintah berkuasa (Liberal Demokrat) menurun tajam. Pasca terkuaknya skandal finansial terbaru dua menteri di kabinet Abe yang berujung pada pengunduran diri keduanya, statemen direktur sekolah di parlemen Jepang yang menuding Akie Abe, istri perdana menteri memberi suap sebesar satu juta yen sangat merusak citranya dan keluarga sang perdana menteri.
Yasunori Kagoike saat mengucapkan sumpah di parlemen mengatakan, “Akie Abe memberikan kepadaku amplop senilai satu juta yen dan mengatakan, tolong terima uang ini. Uang ini dari Shinzo Abe. Istri Abe sepertinya akan mengatakan tidak ingat masalah ini, tapi karena hal ini berkaitan dengan kebanggaanku, maka saya mengingatnya dengan baik.”
Kesaksian Kagoike di parlemen Jepang disiarkan secara langsung oleh empat kanal televisi Jepang. Isu ini sangat sensitif bagi perdana menteri Jepang, bahkan ia mengancam jika klaim ini terbukti kebenarannya maka dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya.
Kubu oposisi mengkritik keras program partai berkuasa dan pribadi Abe dalam meratifikasi undang-undang keamanan dan upaya amandemen konstitusi Jepang untuk memiliki sebuah militer yang kuat dan berpartisipasi di operasi luar perbatasan. Namun mengingat kubu ini tidak memiliki kemampuan menolak pengesahan program Abe di parlemen, maka mereka melancarkan strategi menguak skandal perdana menteri, keluarga dan kabinetnya. Dengan merusak citra dan posisi perdana menteri, kubu oposisi akan menjegal implementasi program-program pemerintah.
Baru-baru ini, Senat Jepang meratifikasi draf anti terorisme dan mendapat penentangan luar biasa. Kubu oposisi meyakini bahwa jika mereka tidak melawan program Partai Liberal Demokrat, partai ini bersama perdana menteri akan menyelewengkan masyarakat Jepang dari proses demokrasi ke arah diktatorisme Timur.
Oleh karena itu, kubu oposisi memanfaatkan berbagai sarana dan metode untuk merusak posisi perdana menteri. Penentangan terhadap kebijakan Abe terkait amandemen konstitusi guna memberi kekuatan lebih besar kepada militer, pengoperasian kembali reaktor nuklir dan penempatan pasukan Amerika di Okinawa mendorong warga Jepang selama dua tahun terakhir mengungkapkan protes mereka dengan berdemo di tempat-tempat umum serta tempat tingga Shinzo Abe.
Dalam hal ini, baru-baru ini salah satu warga Jepang dalam protesnya terhadap program reformasi pemerintah Abe, melakukan bunuh diri dan hal ini kian menambah penentangan warga terhadap pemerintah berkuasa. (MF)