Afghanistan Minta PBB Cantumkan Taliban di List Teroris
Mahmoud Saikal, wakil tetap Afghanistan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta Dewan Keamanan organisasi ini mencantumkan Taliban di list kelompok teroris.
Saikal juga menuding Pakistan terlibat dalam serangan teror di negaranya. Ia meminta masyarakat internasional melakukan langkah-langkah untuk memberangus pusat dukungan teroris di luar perbatasan Afghanistan.
Saikal mengingatkan, hasil penyidikan bersama Afghanistan, Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini dengan jelas menunjukkan bahwa serangan 10 Januari lalu di Kandahar dirancang dari kota Quetta Pakistan.
Permintaan wakil tetap Afghanistan di PBB untuk mencantumkan Taliban di list kelompok teroris ditujukan untuk menekan milisi ini agar menghentikan perang di negara ini dan bergabung dengan proses perdamaian.
Permintaan ini dirilis ketika di era kepemimpinan Hamid Karzai, mantan presiden Afghanistan, atas permintaannya sejumlah nama petinggi Taliban dihapus dari list hitam PBB demi menarik milisi ini ke proses perundingan damai. Meski sejumlah anggota senior Taliban dicoret dari list hitam terorisme, namun tujuan pemerintah Afghanistan di kasus ini tidak terealisasi dan kelompok ini tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan oleh Kabul, yakni bergabung dengan perundingan damai dan mengakhiri perang.
Kini setelah lewat enam tahun dari keputusan Dewan Keamanan PBB menghapus nama sejumlah anggota senior Taliban dari list hitam, pemerintah Kabul menuntut nama-nama tersebut dan sejumlah lain komandan Taliban dimasukkan kembali ke list hitam teroris.
Di era kepemimpinan Mohammad Ashraf Ghani yang dimulai sejak September 2014, banyak upaya yang telah dilakukan Kabul untuk mendorong Taliban terlibat di proses perundingan damai, tapi sampai kini upaya positif tersebut belum juga menunjukkan hasil.
Pemerintah Afghanistan dengan menggulirkan permintaan untuk mencantumkan kembali nama anggota senior Taliban di list hitam PBB, berharap kebijakan ini efektif untuk keluar dari kebuntuan yang ada di proses perdamaian negara ini.
Ada asumsi bahwa kelompok Taliban tanpa mengindahkan sejumlah nama anggota seniornya dicantumkan di list hitam PBB atau tidak, mereka tidak memiliki sikap yang jelas terkait setiap upaya pemerintah Kabul dan pemain regional serta trans-regional untuk menghentikan perang dan kekerasan di negara ini atau paling tidak berdasarkan apa yang dinyatakan berulang kali dengan penarikan seluruh militer asing dari Afghanistan, peluang Taliban bergabung dengan proses perdamaian akan terbuka.
Taliban dua tahun lalu menyatakan bahwa salah satu syarat bagi perdamaian di Afghanistan adalah pencoretan dari list hitam PBB. Meski syarat tersebut terpenuhi selama beberapa tahun lalu, milisi ini masih belum menunjukkan reaksi positif.
Pengamat mengatakan, Taliban tidak memiliki sikap pasti terkait perdamaian di Afghanistan. Meski telah enam tahun sejumlah nama anggota senior Taliban dicoret dari list hitam PBB, namun milisi ini berbeda dengan syarat yang telah mereka tentukan sendiri, tidak mengambil langkah-langkah untuk menerapkan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.
Oleh karena itu, sejumlah elit politik dan media di Afghanistan mengatakan, bahkan jika syarat yang diajukan oleh Taliban seperti penarikan total militer asing dari negara ini, tidak ada jaminan kelompok ini akan bergabung dengan proses perdamaian. (MF)