KTT ASEAN Manila Dibayangi Ketegangan AS-Korut
Pertemuan empat hari petinggi negara-negara ASEAN di selenggarakan di kota Manila, Filipina di bawah bayang-bayang ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Korea Utara.
Krisis rudal Korea Utara dari dua sisi dapat memberikan dampak negatif pada KTT ASEAN di Filipina. Pertama, kebijakan militerisasi Amerika dan Korea Utara yang terus melanjutkan uji coba rudalnya, telah membangkitkan kekhawatiran negara-negara ASEAN terkait kemungkinan pecahnya perang yang sangat sulit untuk dikontrol. Kedua, langkah baru Amerika untuk mengisolasi Korea Utara dengan mendesak ASEAN agar memutuskan hubungannya dengan Pyongyang, yang merupakan langkah interventif.
Filipina sebagai ketua periodik ASEAN menolak permintaan Amerika tersebut, akan tetapi karena kebijakan asasi ASEAN adalah menciptakan interaksi dengan Korea Utara, maka krisis rudal Pyongyang tetap menjadi tema penting pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN di Filipina.
Hingga kini, Amerika telah menggunakan berbagai cara untuk memaksa Korea Utara menyerah dan mengucilkan negara itu, namun semuanya gagal. Di antara cara yang digunakan Amerika untuk membuat Korea Utara bertekuk lutut adalah instruksi Barack Obama, mantan Presiden Amerika pada tahun 2014 terkait upaya menghadapi kemampuan rudal Korea Utara lewat serangan cyber dan perang elektronik yang sepertinya tidak terlalu berhasil.
Sir Malcolm Rifkind, salah seorang mantan pejabat Inggris mengatakan, Amerika mungkin saja memancarkan radiasi elektromagnetik dalam serangan cyber ke sistem-sistem dan sirkuit-sirkuit elektronik di dalam roket dan mengacaukan sistem target rudal-rudal Korea Utara, akan tetapi berlanjutnya uji coba rudal Pyongyang telah mempertipis kemungkinan suksesnya serangan Amerika itu.
ASEAN mengkhawatirkan dampak berlanjutnya ketegangan Amerika dengan Korea Utara karena, pertama, Amerika bukan saja sama sekali tidak punya program untuk menyelesaikan krisis rudal di Semenanjung Korea, bahkan tidak pernah menunjukkan keinginan untuk itu, kedua, Korea Utara yang menerapkan kebijakan "kekuatan lawan kekuatan" terus memperkuat kemampuan pencegahannya dalam menghadapi potensi serangan Amerika, dan jika hal ini terjadi, maka perang dengan Korea Utara tidak akan sama dengan perang Afghanistan dan Irak.
Direktur Pusat Sudi Militer Rusia mengatakan, masuknya pasukan Amerika ke wilayah Korea Utara tidak akan semudah masuknya mereka ke Afghanistan dan Irak, karena pasukan Korea Utara akan melancarkan serangan besar kepada agresor termasuk Korea Selatan dan mungkin saja minimal mereka akan bertahan mati-matian selama enam bulan.
Mengingat perekonomian negara-negara ASEAN sebagian besar bertumpu pada sektor bisnis dan ekspor, maka instabilitas di sektor-sektor ini akan sangat berdampak negatif, dan di sisi lain, memburuknya situasi keamanan, bukan tidak mungkin akan memperluas kehadiran kelompok-kelompok teroris di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, ASEAN menjadikan upaya menjaga keamanan dan perang melawan terorisme serta interaksi dengan Korea Utara untuk menghindari segala bentuk perang, sebagai tema sentral pertemuan kali ini di Filipina. Namun realitasnya, sampai sekarang ASEAN masih belum berhasil mempengaruhi kebijakan-kebijakan provokatif dan haus perang Amerika di kawasan. (HS)