Jalan Terjal Trump 'Bunuh' Kesepakatan Nuklir Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i45003-jalan_terjal_trump_'bunuh'_kesepakatan_nuklir_iran
Pejabat tertinggi militer Amerika Serikat mengakui kepatuhan Republik Islam Iran terhadap kesepakatan nuklir atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Sep 27, 2017 12:20 Asia/Jakarta

Pejabat tertinggi militer Amerika Serikat mengakui kepatuhan Republik Islam Iran terhadap kesepakatan nuklir atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford, dalam sidang dengar pendapat dengan Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengatakan bahwa Iran mematuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan nuklir. Dia juga menilai penarikan sepihak AS dari JCPOA akan merusak kredibilitas Washington dalam perjanjian dengan negara-negara lain di dunia.

Pengakuan pejabat tertinggi militer AS tentang kepatuhan Iran terhadap perjanjian nuklir sepenuhnya bertentangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB baru-baru ini, Presiden Trump, yang juga memimpin seluruh Angkatan Bersenjata AS, menuduh Republik Islam Iran mengabaikan komitmennya yang tertuang dalam JCPOA. Ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat, pemerintah AS akan mengumumkan sikap resmi mengenai kesepakatan nuklir antara Iran dan Kelompok 5+1.

Sebelum ini, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, dalam pidatonya di American Enterprise Institute, mengatakan bahwa Trump pada akhir tenggat waktu 90 hari untuk meninjau kepatuhan Iran terhadap JCPOA, kemungkinan akan menyatakan ketidakpatuhan Tehran.

Jika ini terjadi, Kongres Amerika memiliki waktu 60 hari untuk melanjutkan sanksi-sanksi yang ditangguhkan atas kegiatan nuklir Iran. Tindakan ini akan menghancurkan kesepakatan tersebut.

Di tengah upaya intensif untuk membatalkan JCPOA di dalam dan di luar Amerika, negara-negara dunia, masyarakat internasional, kelompok politik dan tokoh berpengaruh sedang berusaha untuk mencegah Washington agar tidak menarik diri secara sepihak dari kesepakatan nuklir.

Selain Sekretaris Jenderal PBB, kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, dan puluhan politisi dan tokoh internasional, para pejabat Amerika sendiri berbeda pandangan tentang cara Gedung Putih berurusan dengan JCPOA. Misalnya saja, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson membenarkan kepatuhan Iran terhadap JCPOA dengan istilah "kepatuhan teknis." Jenderal Dunford juga mengakui komitmen penuh Iran terhadap kesepakatan nuklir.

Para pejabat AS tentu saja tidak bisa mengabaikan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), di mana sudah tujuh kali memverifikasi kepatuhan Iran terhadap JCPOA.

Menurut beberapa media Amerika, Komunitas Intelijen AS, yang terdiri dari 16 badan intelijen dan keamanan di negara itu menyatakan bahwa Iran sama sekali tidak melanggar kewajibannya dalam kesepakatan nuklir.

Saat ini, Deplu AS, angkatan bersenjata, dan badan-badan intelijen negara itu bersikeras agar Washington tetap mempertahankan kesepakatan nuklir, namun Trump justru menyebut JCPOA sebagai kesepakatan terburuk dan ingin menarik diri.

Trump tampaknya tidak akan mudah melakukan itu, meskipun ia memperoleh dukungan dari beberapa penasihatnya yang anti-JCPOA dan pada akhirnya dapat mempengaruhi pandangan lembaga diplomatik, angkatan bersenjata, dan Komunitas Intelijen AS. (RM)