Bertambahnya Pendukung JCPOA di Washington
https://parstoday.ir/id/news/world-i45357-bertambahnya_pendukung_jcpoa_di_washington
Menteri Pertahanan AS James Mattis, menanggapi sebuah pertanyaan tentang Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan implikasi negatif penarikan diri Washington dari kesepakatan itu selama pertemuan di Komite Angkatan Bersenjata Senat.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Okt 04, 2017 13:37 Asia/Jakarta

Menteri Pertahanan AS James Mattis, menanggapi sebuah pertanyaan tentang Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan implikasi negatif penarikan diri Washington dari kesepakatan itu selama pertemuan di Komite Angkatan Bersenjata Senat.

"AS akan diuntungkan dengan tetap mempertahankan kesepakatan nuklir, karena saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Iran telah melanggar JCPOA," kata Mattis.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford, telah mengkonfirmasi kepatuhan Republik Islam Iran terhadap kesepakatan nuklir.

Pernyataan tersebut tentu tidak mengherankan, karena Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam tujuh laporannya memverifikasi komitmen penuh Tehran terhadap JCPOA.

Meski demikian, suara beragam yang terdengar dari Washington menunjukkan bahwa pemerintah AS terutama Presiden Donald Trump, tampak kebingungan tentang bagaimana berurusan dengan kesepakatan itu.

Dalam delapan bulan terakhir, Trump sebagai Presiden AS tidak menyembunyikan rasa frustrasi dan kemarahannya, sampai-sampai ia menggambarkan JCPOA sebagai hal yang memalukan selama pidatonya di Majelis Umum PBB. Beberapa media juga mengabarkan, Trump sedang bersiap untuk mengumumkan ketidakpatuhan Iran terhadap JCPOA pada 15 Oktober mendatang.

Selain ditentang oleh dunia internasional terhadap potensi keluarnya Washington dari kesepakatan nuklir, di Amerika sendiri rencana Trump ini juga mendapat penolakan dari orang-orang berpengaruh.

Menlu dan menhan AS adalah dua pejabat kunci pemerintah yang menjadi teman diskusi Trump dalam menyusun pendekatan Washington mengenai kesepakatan nuklir.

Sekitar tiga bulan lalu, Tillerson dan Mattis bersama dengan Jenderal Raymond McMaster, Penasihat Keamanan Nasional AS, pada akhirnya mampu mengatasi penentangan Trump dan sejumlah penasihat garis kerasnya. Mereka meyakinkan presiden untuk mengumumkan kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir.

Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri AS Richard Haass mengatakan bahwa tetap bergabung dengan kesepakatan nuklir adalah pilihan terbaik bagi pemerintahan Trump.

Kini, dengan semakin dekatnya waktu hingga 15 Oktober, jumlah pendukung JCPOA di Gedung Putih semakin bertambah.

Bersamaan dengan itu, para pejabat pemerintah AS juga berusaha untuk mengintensifkan tekanan terhadap Iran dan pihak-pihak lain yang terlibat perundingan nuklir, sehingga Washington bisa memperoleh konsesi yang lebih besar.

Ada laporan bahwa tim penasihat Trump mencoba untuk merevisi undang-undang kepatuhan Iran terhadap JCPOA yang disebut UU Corker-Cardin. Jika ini terjadi, Trump tidak akan dipaksa lagi untuk mengkonfirmasi kepatuhan Tehran terhadap kesepakatan nuklir setiap tiga bulan sekali, meskipun pada akhirnya, AS masih terikat untuk memenuhi kewajibannya dalam kerangka JCPOA. (RM)