Keputusan Trump Soal Kesepakatan Nuklir Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sedang mencoba menghancurkan kesepakatan nuklir Iran dengan cara apapun. Kali ini, ia kembali mengklaim bahwa Tehran bertindak tidak sesuai dengan semangat kesepakatan nuklir atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
Trump dalam sebuah pertemuan dengan para komandan militer AS di Gedung Putih, Kamis (5/10/2017) mengatakan bahwa ia akan segera mengumumkan keputusannya mengenai apakah akan mengkonfirmasi kepatuhan Iran atau tidak. "Kita tidak boleh membiarkan Iran untuk memperoleh senjata nuklir," ujarnya.
Trump – dengan mengabaikan sepak terjang badan-badan intelijen AS dalam membentuk dan mendukung kelompok teroris di Timur Tengah – mengklaim bahwa Iran mendukung terorisme dan mengeksploitasi kekerasan, pembantaian, dan kekacauan di Timur Tengah, itulah sebabnya ambisi nuklir Iran harus diakhiri.
Sikap Trump terhadap Tehran dipenuhi dengan amarah dan bertentangan dengan realitas. Sikap ini konsisten dengan rezim Zionis Israel yang terbakar api kemarahan karena kekuatan dan pengaruh Republik Islam di kawasan.
Pada dasarnya, pernyataan Trump tidak bersumber dari kekuatan Amerika, tapi mencerminkan rasa frustrasinya atas aksi unjuk kekuatan yang dilakukan oleh Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei sudah memberi tanggapan atas pidato Trump di Majelis Umum PBB, yang menyerang Iran.
"Pidato Trump tidak muncul dari kekuatan, tapi karena rasa marah, kehabisan cara, dan frustrasi. AS benar-benar marah, karena proyek jangka panjangnya di Asia Barat gagal total berkat kehadiran efektif Republik Islam Iran," kata Ayatullah Khamenei.
Statemen terbaru Trump dapat dievaluasi dalam konteks menciptakan kondisi sebelum membuat keputusan final tentang JCPOA.
Dunia menyadari fakta bahwa Iran sungguh-sungguh memerangi terorisme dan demi mewujudkan keamanan dan stabilitas di kawasan, Iran sedang berperang menumpas teroris yang didukung oleh pemerintah AS dan rezim Zionis Israel.
Retorika Trump, yang mirip dengan retorika Netanyahu terhadap Iran, tidak akan pernah mengubah fakta bahwa Amerika dan Israel adalah sponsor utama terorisme dan penyebar kekerasan dan kekacauan di Timur Tengah.
Gelagat Trump sebelum Departemen Luar Negeri AS mengirim laporan ketiga ke Kongres mengenai apakah Iran mematuhi kesepakatan nuklir atau tidak, menyiratkan pesan bahwa ia tidak akan mengkonfirmasi komitmen Tehran terhadap JCPOA.
Laporan ketiga Deplu AS akan diterbitkan pada 15 Oktober 2017, dan saat ini sudah terdengar suara-suara dari Gedung Putih, yang menentang rencana Trump.
Kantor berita Reuters menulis, "Seorang pejabat tinggi AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan Donald Trump diprediksi tidak akan mengesahkan kepatuhan Iran; sebuah langkah yang berpotensi merusak kesepakatan nuklir."
Surat kabar Amerika The Washington Post juga mengabarkan bahwa Trump akan menolak mengkonfirmasi kepatuhan Iran.
Jika tindakan itu dilakukan, Kongres AS memiliki waktu 60 hari untuk membuat keputusan tentang nasib sanksi-sanksi nuklir Iran.
Menteri Pertahanan AS James Mattis dalam sebuah statemen mengatakan, "AS akan diuntungkan dengan tetap mempertahankan kesepakatan nuklir, karena saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Iran telah melanggar JCPOA."
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford, juga mengkonfirmasi kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir.
Selain mereka, Senator Demokrat Elizabeth Warren pada hari Kamis, memperingatkan Trump tentang implikasi meninggalkan kesepakatan nuklir dengan Iran.
Apa yang dicari Trump adalah merevisi JCPOA dan melakukan negosiasi ulang, dengan tujuan memaksakan pembatasan lebih ketat terhadap Iran; sebuah rencana yang ditentang oleh negara-negara lain dan Uni Eropa. (RM)