Upaya Cina Berperan Aktif dalam Penyelesaian Persoalan Timteng
https://parstoday.ir/id/news/world-i48031-upaya_cina_berperan_aktif_dalam_penyelesaian_persoalan_timteng
Menteri Luar Negeri Cina mengabarkan penyelenggaraan pertemuan "Perdamaaian Timur Tengah" dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah Palestina. Pertemuan yang akan digelar di Beijing dalam waktu dekat ini akan melibatkan pihak-pihak terkait dalam isu tersebut.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Des 11, 2017 13:35 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Cina mengabarkan penyelenggaraan pertemuan "Perdamaaian Timur Tengah" dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah Palestina. Pertemuan yang akan digelar di Beijing dalam waktu dekat ini akan melibatkan pihak-pihak terkait dalam isu tersebut.

Wang Yi dalam pernyataan terbaru mengatakan, masa depan Timur Tengah harus ditentukan berdasarkan dialog dan sesuai dengan resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejak lama, pemerintah Cina mendukung kelompok-kelompok Palestina dalam menghadapi rezim Zionis Israel, namun tidak pernah berkonfrontasi dengan rezim ini dan Amerika Serikat dalam masalah Palestina.

Pengumuman pemerintah Cina untuk menyelenggarakan pertemuan tentang Timur Tengah dengan fokus pada pendekatan Palestina menunjukkan upaya Beijing untuk berperan lebih aktif dalam transformasi regional dan internasional dan juga menunjukkan penerimaan tanggung jawabnya.

Namun pernyataan Menlu Cina bahwa jika akan diambil suatu keputusan tentang al-Quds harus didasarkan pada dialog dan peraturan internasional menunjukkan posisi kompromi Wang Yi dan pernyataan ini tentunya bertentangan dengan pandangan umat Islam. Sebab, umat Islam tidak menerima rezim Zionis sebagai sebuah entitas politik dan al-Quds juga merupakan wilayah yang tidak dapat dipisahkan dari Palestina. Dengan demikian, masalah itu tidak bisa dinegosiasikan.

Ardan Zenturk, seorang pakar politik Turki mengatakan, masalah al-Quds bukan khusus untuk dunia Arab, namun merupakan masalah bagi semua negara Muslim, di mana mereka harus berupaya untuk menghadapi fitnah berbahaya ini dan menciptakan front kuat anti-keputusan bodoh Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, yang mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel.

Pada dasarnya, melalui penyelenggaraan pertemuan tentang tranformasi di Timur Tengah, Cina ingin menunjukkan bahwa kondisi di kawasan sekarang ini sensitif. Mengingat Cina juga mengimpor energi dari Timur Tengah, maka negara itu tentunya memerlukan stablitas, keamanan dan perdamaian di kawasan tersebut.

Selain itu, pasar-pasar yang menarik di Timur Tengah sangat penting bagi Cina untuk mengekspor produk-produknya. Atas alasan ini, Cina –melalui penyelenggarakan pertemuan perdamaian Timur Tengah– ingin mengajak umat Islam untuk menahan diri dan mencegah munculnya krisis dan ketidakamanan baru di kawasan ini.

Yang pasti, Cina memerlukan suasana damai dan stabil di kawasan serta kerjasama dengan negara-negara di Timur Tengah untuk mewujudkan program-program ekonominya di kawasan terutama inisiatif yang dikenal dengan "One Belt, One Road."

Li Xiao Xi'an, seorang pakar politik mengatakan, kawasan Timur Tengah memerlukan perdamaian, stabilitas, rekonstruksi dan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan basis stabilitas. Seperti yang diketahui masyarakat dunia, Cina berusaha untuk merealisasikan inisiatif One Belt, One Road. Pelaksanaan inisiatif tersebut akan sangat berguna bagi pembangunan ekonomi di Timur Tengah. Secara politis, Cina merupakan kekuatan positif dalam memulihkan tatanan politik di Timur Tengah dan ingin memainkan peran positif untuk menciptakan stabilitas dan rekonstruksi politik Timur Tengah di masa depan.

Cina sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) akan bisa berperan positif dalam menciptakan perdamaian dan keamanan ketika negara ini menggunakan kemampuan dan kapasitasnya terutama hak-haknya di DK-PBB untuk mendukung posisi negara-negara Muslim termasuk dalam isu Palestina.

Tidak diragukan lagi bahwa kelanjutan kebijakan Cina yang berhati-hati dalam menghadapi AS dan rezim Zionis terkait dengan transformasi di kawasan tidak akan mampu menjamin harapan negara itu di Timur Tengah. (RA)