Skenario Baru Trump untuk Rakyat Palestina dan Al Quds
https://parstoday.ir/id/news/world-i48635-skenario_baru_trump_untuk_rakyat_palestina_dan_al_quds
Presiden Amerika Serikat yang sedang berusaha lari dari tanggung jawab setelah melakukan langkah yang memperkeruh konflik kawasan Timur Tengah, meski ditekan masyarakat internasional, tetap mengirim pesan negatif terhadap rakyat Palestina dan Muslimin dunia.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Des 24, 2017 15:23 Asia/Jakarta

Presiden Amerika Serikat yang sedang berusaha lari dari tanggung jawab setelah melakukan langkah yang memperkeruh konflik kawasan Timur Tengah, meski ditekan masyarakat internasional, tetap mengirim pesan negatif terhadap rakyat Palestina dan Muslimin dunia.

Akar sikap anti-Palestina dan anti-Islam Donald Trump dapat dilacak dari keyakinannya sebagai seorang pendukung Zionis-Kristen. Di level global, Presiden Amerika juga tidak meyakini metode apapun terkait hidup rukun dan mengatasi krisis di tingkat regional atau internasional. Oleh karena itu, sejak pertama kali memimpin, Trump mulai melakukan langkah provokatif yang justru memperkeruh krisis.

Sikap provokatif Trump mengumumkan Al Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel dan keputusannya memindahkan kedubes Amerika dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, adalah salah satu indikasi keyakinan tersebut. Pada saat yang sama, menurut sejumlah laporan terpercaya, pemerintah Amerika dalam waktu dekat bermaksud melancarkan proyek berbahaya terkait Al Quds dan Palestina.

Sehubungan dengan hal ini, Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas menegaskan, dengan memperhatikan informasi yang diterima dari sejumlah sumber terpercaya, pemerintah Amerika bermaksud melancarkan proyek berbahaya terkait Al Quds dan Palestina, dalam waktu dekat ini.

Haniyeh menambahkan, di antara langkah tersebut adalah keputusan Amerika mengakui Israel sebagai negara Yahudi berdaulat, menggabungkan distrik-distrik Zionis ke dalam wilayah pendudukan dan mengumumkan pembatalan rencana pemulangan pengungsi Palestina ke tanah airnya.

Tujuan asli Trump dengan mengakui secara resmi Israel sebagai sebuah negara Yahudi berdaulat adalah mempersiapkan kondisi bagi pengusiran seluruh warga Palestina dari wilayah pendudukan dan mencegah berdirinya negara Palestina merdeka beribukota Al Quds, artinya secara umum menginjak-injak hak bangsa Palestina.

Al Quds

Namun realitasnya, menganalisa sikap dan sepak terjang Presiden Amerika yang mantan pebisnis itu bukan urusan mudah. Sebagian kalangan mengatakan, satu-satunya target Trump adalah merusak sistem yang berlaku agar Zionis meraih keunggulan baru, dengan cara menekan Palestina. Sementara yang lain percaya, Presiden Amerika adalah orang yang haus popularitas dan supaya namanya selalu terpampang di halaman muka surat kabar dunia, maka ia harus terus mempertontonkan perilaku bodoh.

Sebagian yang lain meyakini bahwa Presiden Amerika sedang berusaha menepati satu persatu janji kampanyenya setelah setahun duduk di kursi kepresidenan, kepada pemilih. Dengan begitu ia bisa memenuhi janji-janji tak terukurnya itu tanpa memperhatikan lagi dampak atau konsekuensinya.

Seorang jurnalis Amerika seperti Thomas Friedman menyerupakan Trump dengan sosok teroris yang kehilangan bisnya. Trump ingin dunia terbiasa dengan bersandar kepada seorang presiden baru Amerika yang memiliki keputusan-keputusan tidak terduga di Gedung Putih. Untuk meningkatkan akseptabilitas publik, Trump sengaja mengambil kebijakan-kebijakan berbahaya termasuk soal Al Quds.

Akan tetapi langkah Trump tersebut tidak menghasilkan apapun kecuali semakin mengobarkan semangat perjuangan Intifada ketiga Palestina untuk mereaksi keputusan Presiden Amerika itu terkait Al Quds. Intifada ketiga Palesitna yang memiliki cakupan luas dan disebut-sebut sebagai Intifada Arab dan Islam itu, harus diakui telah merusak perimbangan kekuatan Israel.

Perkembangan kawasan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kegagalan kebijakan regional Amerika sebagai akibat sikap keras kepala Trump. Semakin terisolasinya Amerika di arena internasional dan menurunnya pengaruh negara itu, menjadi bukti dimulainya hitung mundur keruntuhan kekuatan Amerika di masa Trump baik di bidang politik maupun diplomasi. (HS)