Pembengkakan Bujet Militer Cina
Pemerintah Cina di laporannya mengkonfirmasikan penambahan bujet miilternya untuk tahun 2018.
Dengan demikian bujet militer Cina di tahun 2018 akan bertambah sekitar 8,1 persen. Anggaran militer negara ini tercatat sekitar 175 miliar dolar. Menurut elit militer Cina, anggaran militer negara ini di banding dengan bujet militer Amerika yang mencapai 700 militer dolar, terhitung sangat kecil.
Meski demikian penambahan bujet militer Cina dapat dicermati sebagai respon atas kebijakan militer ofensif Amerika di Asia Timur yang semakin meningkat di era kepemimpinan Donald Trump selama satu tahun terakhir. Di doktrin strategis keamanan nasional Amerika, Cina disebut sebagai ancaman terbesar bagi hegemoni Washington dan negara ini menekankan untuk mengendalikan pengaruh Beijing.
Salah satu kebijakan strategis Amerika terhadap Cina adalah upaya untuk memaksa Beijing menambah anggaran militernya dan terlibat di persaingan militer dengan Washington beserta sekutunya di kawasan seperti Jepang dan Korea Selatan. Kebijakan ini dinilai Beijing sebagai mental perang dingin Washintgon dan Cina meyakini bahwa Amerika ingin membuat nasib Beijing seperti Uni Soviet. Oleh karena itu, meski Cina menambah bujet militernya, namun negara ini tidak berencana terlibat di persaingan militer dengan Amerika.
Nikita Danuk, deputi ketua institut riset strategis Rusia mengatakan, "Presiden AS Donald Trump tidak ingin merusak prinsip interaksi antara Washington dan Beijing. Ia fokus pada perubahan kebijakan luar negeri Amerika dewasa ini. Amerika akan bersikap hati-hati menghadapi Cina dan akan berusaha mengurangi pengaruh Beijing di kawasan."
Meski demikian Cina dengan baik menyadari bahwa program ekonomi Amerika akan sangat merusak, termasuk menaikkan tarif barang impor dari Cina dan membatasi investasi negara ini di samping memanfaatkan Taiwan sebagai alat represi terhadap Beijing. Oleh karena itu, Cina baru-baru ini melanjutkan program pengembangan militernya dengan batasan mampu membela diri terhadap Amerika. Tapi Cina masih tetap memandang perang terpenting yang dipaksakan Donald Trump adalah perang perdagangan dan negara ini berulang kali memperingatkan dampak perang tersebut.
Chad Bown, pakar ekonomi Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional menyatakan, "Donald Trump, Presiden Amerika berusaha mengabaikan hukum perdagangan internasional di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan dengan menyalahgunakan sebagian hukum teresbut, ia berupaya menekan ekonomi Cina sehingga mampu membatasi aktivitas negara ini di pasar Amerika."
Bagaimanapun, Amerika menganggap Cina sebagai satu-satunya negara yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi hegemoni global Washington di seluruh dunia. Oleh karena itu, Amerika menerapkan kebijakan komprehensif di sektor militer dan ekonomi anti Beijing. Di sisi lain, pemerintah Cina tengah berusaha mengendalikan krisis dan kebijakan Turmp, kebijakan yang dinilai Beijing sukses dan dengan kerja sama negara-negara regional, kebijakan ini akan dapat membantu stabilitas, perdamaian dan keamanan di kawasan. (MF)