Seruan Rusia untuk Gabung CTBT
https://parstoday.ir/id/news/world-i6019-seruan_rusia_untuk_gabung_ctbt
Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan para pemimpin dunia untuk menunjukkan tekad politik yang nyata dan secepatnya bergabung dalam Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledak Nuklir (CTBT).
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 12, 2016 18:22 Asia/Jakarta
  • Seruan Rusia untuk Gabung CTBT

Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan para pemimpin dunia untuk menunjukkan tekad politik yang nyata dan secepatnya bergabung dalam Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledak Nuklir (CTBT).

Dalam satu pernyataan pada Senin (11/4/2016), Putin mengatakan Rusia menyesalkan bahwa sejumlah negara, termasuk mereka yang berusaha untuk memposisikan diri sebagai pemimpin dunia, belum meratifikasi CTBT.

Presiden Rusia menegaskan bahwa CTBT sebagai sebuah mekanisme, penting untuk membatasi penyebaran senjata nuklir dan memperkuat stabilitas internasional.

Sementara itu, para menteri luar negeri Kelompok Tujuh (G7) pada hari Senin juga mengeluarkan Deklarasi Hiroshima yang menyerukan dunia bebas dari senjata nuklir.

Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledak Nuklir (CTBT) diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 10 September 1996, dan mulai ditandatangani pada akhir September 1996 di Markas Besar PBB. Traktat ini melarang negara-negara anggota dari segala bentuk uji ledak nuklir di semua lokasi yang berada di bawah kontrol negara anggota.

Sebanyak 183 negara dunia telah menandatangani CTBT. Sejuah ini lebih dari 160 negara telah meratifikasi dan mendapat persetujuan dari parlemen masing-masing anggota. Meski demikian sejumlah negara masih enggan bergabung dengan perjanjian itu.

Komentar Presiden Rusia sepertinya ditujukan kepada Amerika Serikat yang belum meratifikasi CTBT. Meski rajin memberi janji, Washington sampai sekarang belum mengambil langkah praktis di bidang ini.

Alasan utama tidak terlaksananya CTBT sampai sekarang adalah karena delapan negara anggota Daftar 44 belum meloloskan perjanjian itu. Daftar 44 mencakup kekuatan nuklir dan negara-negara eksportir bahan nuklir, di mana mereka perlu meratifikasi CTBT untuk menjamin implementasinya. Dengan kata lain, 44 negara tersebut harus berbagung dengan traktat ini sehingga ia menjadi undang-undang internasional yang wajib ditaati.

AS sama sekali belum mengambil langkah praktis di bidang itu dan terus menambah stok nuklirnya serta menyebarkan rudal nuklir di berbagai belahan dunia. Negeri Paman Sam tidak mengindahkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledak Nuklir (CTBT). Mereka aktif melakukan uji coba nuklir dan menjalankan program modernisasi senjata atom.

Washington mengalokasikan dana 355 miliar dolar dalam jangka waktu 10 tahun untuk program modernisasi bom atom, memperbarui sistem peluncuran, dan juga meningkatkan kualitas laboratorium militer. Alokasi biaya besar ini tidak hanya ditujukan untuk pengembangan persenjataan strategis, tapi juga untuk uprade senjata taktis.

Untuk itu, AS enggan meratifikasi CTBT karena akan mengganggu program pengembangan generasi baru senjata nuklir mereka, yang tentu lebih mematikan dari yang ada sekarang. Negara itu akan menggunakan stok senjata nuklirnya untuk mengintimidasi bangsa-bangsa lain dan juga memajukan kepentingan luar negerinya. (RM)