Menakar Ketulusan Trump Berunding dengan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i60224-menakar_ketulusan_trump_berunding_dengan_iran
Amerika Serikat telah memusuhi Iran selama 40 tahun sejak berdirinya Republik Islam. Permusuhan ini kian gencar dikobarkan oleh Presiden AS saat ini, Donald Trump baik pada masa kampanye pilpres 2016 maupun setelah ia terpilih. Dia berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir dengan Iran dan menyebutnya kesepakatan terburuk dalam sejarah Amerika.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jul 25, 2018 14:58 Asia/Jakarta
  • Presiden Rouhani,
    Presiden Rouhani, "Tuan Trump! Anda jangan bermain dengan ekor singa, sebab, respon kami akan membuat Anda menyesal."

Amerika Serikat telah memusuhi Iran selama 40 tahun sejak berdirinya Republik Islam. Permusuhan ini kian gencar dikobarkan oleh Presiden AS saat ini, Donald Trump baik pada masa kampanye pilpres 2016 maupun setelah ia terpilih. Dia berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir dengan Iran dan menyebutnya kesepakatan terburuk dalam sejarah Amerika.

Trump pada 8 Mei 2018 mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan penerapan kembali sanksi terhadap Iran. Dia menganggap kesepakatan nuklir sebagai malapetaka bagi Amerika.

Dalam beberapa hari terakhir, perang verbal antara Tehran dan Washington semakin memanas. Ahad lalu, Presiden Hassan Rouhani memperingatkan Trump agar tidak mengancam Iran, karena respon kami akan membuat Anda menyesal. Sebaliknya, Trump dalam menanggapi peringatan itu menulis via akun Twitternya, "JANGAN PERNAH MENGANCAM AMERIKA SERIKAT LAGI ATAU ANDA AKAN MERASAKAN KONSEKUENSI YANG SAMA SEPANJANG SEJARAH YANG PERNAH DIDERITA SEBELUMNYA…"

Namun, Trump dalam pernyataan terbaru mengaku bahwa ia siap untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Dalam pertemuan dengan para veteran perang Amerika di Kansas City, Trump mengatakan, "Kami siap untuk membuat sebuah kesepakatan yang sebenarnya dengan Iran."

Lalu, kesepakatan macam apa yang siap dicapai Trump dengan Iran? Dengan mempertimbangkan posisi dan 12 tuntutan pemerintah AS kepada Iran yang pernah disampaikan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dapat dikatakan bahwa negara itu akan bersedia mencapai kesepakatan dengan Iran ketika semua tuntutan Washington dipenuhi oleh Tehran tanpa tawar-menawar. Jelas ini bukan sebuah kesepakatan, tetapi ketundukan mutlak pada AS.

Mungkin inilah mengapa tuntutan pemerintahan Trump ini ditertawakan oleh banyak kritikus di dalam dan luar Amerika.

Mantan Deputi Menlu AS, Wendy Sherman menyebut Trump seperti seorang anak sekolah dengan mengatakan, "Sekarang kita melihat seorang anak sekolah yang berbicara keras dan menunjukkan betapa kuat dan berkuasanya dia, padahal sebenarnya semua yang kita lihat adalah kelemahan dan tidak adanya keamanan. Orang-orang Iran tidak akan menyerah."

Selama ini Iran selalu menolak tunduk dan melawan berbagai konspirasi dan tekanan Amerika. Sekarang Trump mengira bahwa dengan menerapkan tekanan besar pada sektor ekonomi, Republik Islam tidak punya jalan lain kecuali menyerah. Trump dengan instrumen sanksi berupaya membuat kondisi kehidupan rakyat Iran lebih sulit dan lebih berat, sehingga dengan anggapannya, situasi ini akan mendorong ketidakstabilan dan kerusuhan di Iran.

Kebijakan AS ini merupakan bentuk campur tangan dalam urusan internal Iran dan sebuah tindakan yang sepenuhnya melanggar hukum internasional serta bertentangan dengan Piagam PBB.

Pendekatan Trump terhadap Tehran membuktikan bahwa ia sama sekali tidak mengenal watak rakyat Iran. Pengalaman 40 tahun terakhir menunjukkan persatuan dan solidaritas rakyat Iran semakin erat seiring dengan meningkatnya tekanan eksternal terhadap negeri mereka.

Di samping itu, AS bergerak sendirian dalam petualangan barunya terhadap Iran, sementara negara-negara lain termasuk sekutu Washington, memilih tetap berkomitmen dengan kesepakatan nuklir dan menolak bergabung dengan sanksi sepihak AS.

Pada dasarnya, dunia sekarang secara kompak menentang tindakan Trump terhadap Iran. (RM)