Respon Keras Uni Eropa atas Kejahatan Arab Saudi
-
Jamal Khashoggi
Arab Saudi yang selalu bangga akan hubungan baiknya dengan Barat dan menyebutnya sebagai titik kuat negara ini, kini tengah menghadapi kesulitan besar di tingkat internasional karena kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan dan kritikus Riyadh di konsulat negara ini di Istanbul. Opini publik dan lembaga serta pemerintah dunia menuntut kejelasan berbagai dimensi kasus ini.
Respon serta reaksi internasional atas kejahatan Al Saudi ini semakin meningkat. Bahkan sekutu Eropa Arab Saudi dilaporkan mengambil sikap baru atas kasus ini dan sejumlah dari mereka mulai melakukan tekanan terhadap Riyadh.
Arab Saudi hari Sabtu (20/10) setelah dua pekan mendapat tekanan berat media, pada akhirnya mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di konsulatnya di Istanbul. Namun begitu, Riyadh mengklaim bahwa Khashoggi terbunuh akibat percekcokan mulut dengan pejabat serta tanpa sepengetahuan Mohammad bin Salman.
Sementara itu, tiga negara Eropa Perancis, Jerman dan Inggris hari Ahad (21/10) merilis statemen mengutuk keras pembunuhan Khashoggi dan menekankan bahwa tidak ada alasan yang dapat diterima terkait pembunuhan wartawan ini. Di bagian statemen yang dirilis bidang penerangan Kemenlu tiga negara Eropa ini disebutkan, "Meski selama beberapa hari terakhir ada kekhawatiran jika Jamal Khahshoggi terbunuh di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, namun pembenaran isu ini tetap saja membuat shok."
Ketiga negara ini meminta Arab Saudi terus melanjutkan penyidikan di kasus ini hingga hasil penyidikan sepenuhnya jelas dan pelakunya dijatuhi hukuman yang setimpal. Tiga negara Eropa ini menekankan, "Kualitas dan pentingnya hubungan kami dengan kerajaan Arab Saudi didasarkan pada rasa hormat yang kita dan pejabat Riyadh yakini bagi nilai-nilai di bawah hukum internasional."
Sejatinya Eropa memperingatkan Arab Saudi bahwa berlanjutnya proses saat ini oleh Riyadh sama halnya dengan upaya menyembunyikan realita dan justifikasi atas pembunuhan Khashoggi dan dinilai dapat berpengaruh negatif atas masa depan hubungan Eropa dan Arab Saudi.
Alasan sikap ini cukup jelas, pemerintah Eropa sepenuhnya sadar akan catatan Hak Asasi Manusia (HAM) Arab Saudi dan mereka berulang kali menyaksikan statemen dan protes lembaga serta organisasi HAM terkait kejahatan mengerikan Saudi di perang Yaman.
Dengan demikian sikap tiga negara ini harus dicermati karena represi opini publik di Eropa dan Barat. Pastinya tidak adanya respon atas kejahatan Saudi akan menimbulkan dampak negatif bagi pemerintah di Eropa teramsuk bagi pemerintah koalisi Jerman dan pemerintah konservatif Inggris.
Sepertinya ini adalah alasan yang mendorong Kanselir Jerman Angela Merkel hari Ahad (21/10) selain mengutuk pembunuhan Kahshoggi oleh agen-agen Saudi juga menyatakan selama belum ada kejelasan dari kasus ini, penjualan senjata ke Arab Saudi akan dihentikan. Merkel mengatakan, selama masih ada ketidakjelasan mengenai nasib Jamal Khashoggi, Berlin tidak akan menjual senjata kepada Riyadh.
Kini Arab Saudi dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dan sepertinya mengingat represi yang terus meningkat dari kalangan internasional, Riyadh akan terpaksa menerima penuh kejahatan ini. Di kondisi seperti ini harus ditunggu sikap Barat yang mengklaim sebagai pembela HAM terhadap Arab Saudi.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa Barat senantiasa menutup matanya atas langkah dan kebijakan anti kemanusiaan Arab Saudi dan tetap melanjutkan hubungan mesranya dengan Al Saud, khususnya di bidang militer dan senjata. (MF)