Perubahan Sikap AS Soal Penarikan Pasukan dari Suriah
-
Mike Pence
Meski Presiden Amerika Serikat sudah mengumumkan penarikan pasukan negara itu dari Suriah pada 19 Desember 2019, namun pernyataan dan sikap kontradiktif pejabat Washington menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu memahami apa yang mereka lakukan dan bagaimana cara mewujudkannya.
Keputusan Presiden Amerika, Donald Trump menarik pasukan dari Suriah cukup mengejutkan terutama karena ia tidak menawarkan program yang jelas dan jadwal waktu yang pasti terkait keputusannya itu.
Berbeda dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyatakan bahwa alasan penarikan pasukan Amerika dari Suriah karena kekalahan Daesh, baru-baru ini Wakil Presiden Amerika, Mike Pence menegaskan pasukan Amerika akan tetap bertahan di Suriah sampai Daesh dikalahkan total.
Aksi yang dilakukan Daesh beberapa hari terakhir dan tewasnya tentara Amerika membuktikan bahwa klaim Trump itu bohong. Dengan kata lain hingga kini walaupun terbatas, Daesh masih melancarkan aksinya di wilayah-wilayah yang diduduki oleh sekutu-sekutu Amerika.
Dalam wawancara dengan wartawan Fox News, Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo mengatakan Daesh hampir dikalahkan total dan kami akan tetap di Suriah sampai hal itu terjadi.
Tapi Pompeo tidak menjelaskan apa maksud dari kekalahan total Daesh itu, karena sampai sekarang Daesh di Deir Ezzor masih ada dan melancarkan bom bunuh diri. Para teroris itu bisa melakukan aksinya bahkan di daerah-daerah yang diduduki oleh pasukan Kurdi dukungan Amerika.
Pasca ledakan bom terbaru di kota Manbij, Suriah yang menewaskan empat tentara Amerika dan diakui oleh Daesh sendiri, protes atas keputusan Trump menarik pasukan dari Suriah kembali meluas.
Beberapa pejabat Amerika berbicara soal bangkitnya kembali Daesh di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Kurdi, Suriah. Senator Amerika, Lindsey Graham meyakini serangan di Manbij adalah buah dari keputusan Trump menarik pasukan dari Suriah sehingga membuat Daesh berani.
Banyak kalangan hingga kini menyangsikan tekad Amerika menumpas kelompok teroris Daesh terutama karena pengakuan sejumlah pejabat tinggi negara itu bahwa Amerikalah yang melahirkan kelompok teroris itu.
Rekam jejak Amerika di Suriah menunjukkan, sejak tahun 2011 hingga 2014 di saat Daesh menduduki sebagian besar wilayah Suriah, pasukan Amerika justru membantu para teroris itu dan memasok logistik dan dana untuk mereka.
Target Amerika sebenarnya lebih kepada melindungi Daesh yang terkontrol sehingga dapat dipakai sebagai alat untuk melawan militer dan pemerintah Suriah serta sekutu-sekutunya. Trump bahkan mengklaim kehadiran Amerika di Suriah justru menguntungkan Iran dan Rusia. (HS)