Sidang Darurat OKI Pasca Aksi Teroris di Selandia Baru
https://parstoday.ir/id/news/world-i68529-sidang_darurat_oki_pasca_aksi_teroris_di_selandia_baru
Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi mengatakan sidang darurat tingkat menlu anggota OKI akan digelar di Istanbul, Turki pada 22 Maret 2019.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Mar 18, 2019 14:20 Asia/Jakarta
  • Pawai global melawan terorisme
    Pawai global melawan terorisme

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi mengatakan sidang darurat tingkat menlu anggota OKI akan digelar di Istanbul, Turki pada 22 Maret 2019.

Mahmood Qureshi menjelaskan bahwa sidang darurat Dewan Menlu OKI bertujuan untuk menyatukan umat Islam dalam melawan Islamofobia, dan mengimplementasikan solusi efektif untuk melawan kebencian terhadap Islam serta mengkaji dampak bahayanya. Menurut menlu Pakistan, keputusan itu diambil setelah pembicaraan telepon dengan sejawatnya dari Turki, Mevlüt Çavuşoğlu sehari sebelumnya.

Pada Jumat terjadi serangan teroris yang dilakukan terhadap jemaah shalat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan sedikitnya 50 orang dan 47 lainnya luka-luka. Brenton Harris Tarrant, pelaku teror tersebut berulang kalimelontarkan ujaran kebencian terhadap imigran Muslim di media sosial.  Pria Australia berusia 28 tahun ini menulis manifesto 74 halaman yang memandang Trump sebagai "lambang kebangkitan identitas kulit putih dan tujuan bersama". Di media sosial, Brenton merekam aksinya dengan kamera yang dipasang pada bagian kepala dan menyebarkannya lewat layanan streaming atau siaran langsung di Facebook. 

Kini, Islamofobia menjadi masalah serius yang dihadapi masyarakat Muslim, terutama yang berada di negara-negara Barat. Gelombang peningkatan migrasi besar-besaran Muslim setelah kerusuhan di Suriah, Irak dan Afghanistan ke negara-negara Barat jelas membutuhkan dukungan dari pemerintah dan negara-negara Muslim. Di sisi lain, meluasnya Islamofobia bersamaan dengan masifnya propaganda negatif dari sayap kanan ekstrem terhadap Muslim yang menyulut peningkatan aksi-aksi kekerasan terhadap komunitas Muslim di berbagai negara dunia.

Tampaknya, fenomana Islamofobia dengan dampak negatifnya tidak hanya terbatas pada komunitas imigran Muslim saja, tapi juga akan mempengaruhi keputusan pejabat tinggi negara dan pemimpin masyarakat di negara-negara Barat terhadap negara-negara Muslim.

"Islamofobia tidak boleh diremehkan. Setiap kali Islamophobia dibiarkan, maka akan berefek negatif terhadap opini publik mengenai umat Islam," kata HA Hellyer, seorang peneliti Muslim di Dewan Atlantik.

Oleh karena itu, negara-negara Muslim harus mengambil langkah-langkah diplomatik dan politik untuk menekan negara-negara Barat supaya menghentikan maraknya Islamofobia, terutama penyebarannya yang meluas melalui media sosial yang tidak dapat diterima dengan dalih kebebasan berekspresi.

Di sisi lain, negara-negara Muslim juga harus mengambil langkah-langkah penting untuk melindungi Muslim yang terkena dampak buruk islamofobia dengan menerima imigran Muslim di negara-negara terdekat, sehingga kelompok yang rentan ini bisa hidup tenang. Tampaknya, agenda besar inilah yang harus didorong dalam pertemuan darurat OKI yang akan digelar beberapa hari lagi.(PH)