AS Tuding Eropa Kini Jadi "Sarang Terorisme" Imbas Gagal Kontrol Imigrasi
https://parstoday.ir/id/news/world-i189610-as_tuding_eropa_kini_jadi_sarang_terorisme_imbas_gagal_kontrol_imigrasi
Pars Today - Pemerintahan Amerika Serikat, yang akhir-akhir ini berselisih dengan negara-negara Eropa mengenai sejumlah isu, termasuk penolakan mereka untuk ikut campur dalam agresi militer terhadap Iran, serta ketegangan tarif dagang, kini dalam sebuah laporan baru menuduh Eropa, karena tidak mampu mengendalikan imigrasi, telah berubah menjadi "tempat berkembang biaknya terorisme".
(last modified 2026-05-07T07:35:12+00:00 )
May 07, 2026 14:32 Asia/Jakarta
  • Uni Eropa
    Uni Eropa

Pars Today - Pemerintahan Amerika Serikat, yang akhir-akhir ini berselisih dengan negara-negara Eropa mengenai sejumlah isu, termasuk penolakan mereka untuk ikut campur dalam agresi militer terhadap Iran, serta ketegangan tarif dagang, kini dalam sebuah laporan baru menuduh Eropa, karena tidak mampu mengendalikan imigrasi, telah berubah menjadi "tempat berkembang biaknya terorisme".

Dilansir IRNA, 7 Mei 2026, harian The Guardian menulis bahwa laporan setebal 16 halaman yang disusun di bawah arahan Sebastian Gorka (sekutu Donald Trump) ini menempatkan kartel narkoba Amerika sebagai pusat upaya kontra-terorisme.

Saat pemerintahan Trump meningkatkan serangan politik terhadap para lawannya, strategi kontra-terorisme baru AS yang diumumkan pada hari Rabu (6/5) juga berfokus pada pembasmian "ekstremis sayap kiri yang kejam", termasuk kelompok-kelompok yang disebut "pendukung ekstrem transgender".

Namun, bagian terkeras dari laporan tersebut dikhususkan untuk Eropa, di mana sekutu-sekutu AS kini akan merasa khawatir karena kembali menjadi sasaran pemerintahan Trump.

Laporan itu menyatakan, "Jelas bagi semua orang bahwa kelompok-kelompok bermusuhan terorganisir mengeksploitasi perbatasan terbuka dan cita-cita globalis yang terkait dengannya. Semakin besar budaya asing ini tumbuh, dan semakin lama kebijakan Eropa saat ini berlanjut, terorisme akan semakin terjamin."

"Eropa, sebagai tempat lahirnya budaya dan nilai-nilai Barat, harus segera bertindak dan menghentikan kemerosotannya yang disengaja," demikian bunyi strategi baru AS tersebut, seraya mengakui bahwa negara-negara Eropa tetaplah "mitra utama dan jangka panjang AS dalam perang melawan terorisme." Namun laporan itu juga menyatakan, "Dunia lebih aman ketika Eropa kuat, tetapi Eropa sendiri sangat terancam, menjadi korban terorisme sekaligus tempat berkembang biaknya ancaman teror."

Kritik baru ini muncul hanya beberapa bulan setelah dalam dokumen Strategi Keamanan Nasional Trump yang baru dinyatakan bahwa Eropa menghadapi "pemusnahan peradaban" akibat migrasi.

Trump baru-baru ini juga mengkritik sekutu-sekutu Eropa di NATO karena menolak membantunya dalam perang terhadap Iran.

Sementara itu, dengan dalih memberantas penyelundupan narkoba, AS telah melancarkan puluhan serangan militer terhadap kapal-kapal yang dicurigai dikendalikan kartel, dan terus menekan Kuba. Serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai di perairan Amerika Latin telah dimulai sejak awal September hingga kini, dan telah menewaskan 191 orang.

Dalam beberapa hari terakhir, keputusan sepihak Washington untuk menarik 5.000 personelnya dari Jerman semakin memperburuk ketegangan antara kedua sisi Atlantik. Para pejabat Eropa telah berusaha mencari cara untuk membujuk Trump agar AS tetap berada di dalam NATO, meskipun ketegangan hebat akibat perang Iran. Namun, langkah tiba-tiba presiden AS tersebut merupakan indikasi terbaru betapa terbatasnya upaya tersebut, dan ketidakpastian akan keberhasilannya.

Sekutu Eropa AS kini menerima hinaan bertubi-tubi dari Washington. Mulai dari 'penghapusan peradaban' hingga kini 'sarang teroris', semuanya terjadi karena Eropa menolak menjadi pion dalam proyek perang Trump. Ironisnya, AS sendiri yang selama ini mengedepankan 'perbatasan terbuka' sebagai nilai universal, kini menuduh Eropa karena menerima konsekuensi dari nilai yang sama. Keretakan transatlantik tidak pernah sedalam ini.(Sail)