Mengapa Cina Batalkan Perundingan Dagang dengan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i69866-mengapa_cina_batalkan_perundingan_dagang_dengan_as
Beijing membatalkan perundingan dagang dengan AS, karena Washington dianggap menuntut terlalu banyak.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
May 06, 2019 15:26 Asia/Jakarta
  • Perang dagang As dan Cina
    Perang dagang As dan Cina

Beijing membatalkan perundingan dagang dengan AS, karena Washington dianggap menuntut terlalu banyak.

Setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penerapan tarif bagi barang-barang Cina senilai 200 miliar dolar, beberapa sumber Cina mengumumkan pembatalan perundingan putaran kesebelas antara kedua negara yang dijadwalkan digelar pekan ini di Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat sebelumnya dalam pesan Twitternya menulis, tarif untuk 200 miliar dolar barang-barang Cina akan meningkat sebesar 25 persen.

Mereaksi langkah Trump tersebut, Cina juga mengumumkan bahwa delegasi negosiasinya tidak akan dikirim ke Washington.

Putaran kesepuluh dari negosiasi perdagangan Cina dan AS diadakan Kamis di Beijing dengan kehadiran perwakilan kedua negara. Dalam putaran pembicaraan ini, Liu Hae, selaku anggota biro politik Komite Sentral Partai Komunis, Wakil Perdana Menteri dan Kepala Negosiasi Bilateral Cina bertemu dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS, Robert Leitzer.

Kedua pihak dijadwalkan akan kembali bertemu untuk mengadakan perundingan putaran ke-11 pekan ini di Washington DC. Pembatalan negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat yang diambil Cina sebagai reaksi natural dalam menghadapi langkah-langkah tidak produktif Trump.

 

Tindakan Presiden AS  mengumumkan kenaikan tarif 25 persen dari ekspor produk Cina ke AS senilai 200 miliar dolar, berlangsung di saat Beijing dan Washington sedang melanjutkan perundingan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan bilateral. Tentu saja sepak terjang Trump ini tidak profesional, dan bertentangan dengan aturan negosiasi internasional.

Kebijakan Trump yang tidak logis dan tidak produktif dalam menghadapi perundingan perdagangan antara AS dan Cina dengan memberlakukan tarif 25 persen untuk barang Cina yang diekspor ke AS senilai 200 miliar dolar, sebelum pembicaraan digelar, menunjukkan pendekatan represif Gedung Putih terhadap negara lain, sebagaimana dilakukan Trump terhadap negara lain.

Langkah blunder Trump ini bertujuan untuk memaksakan tuntutan Gedung Putih terhadap Beijing dalam negosiasi perdagangan kedua negara. Tapi Beijing mereaksinya dengan membatalkan perundingan putaran ke-11.

Pembatalan pembicaraan perdagangan putaran kesebelas dengan Amerika Serikat oleh pemerintah Cina menunjukkan bahwa Beijing tidak mau melanjutkan pembicaraan dengan Gedung Putih jika tetap memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap negaranya.

Terlepas dari kenyataan bahwa pemerintah Cina menjadi pihak yang mengakhir perang dagang dengan AS, tapi Beijing tidak bersedia untuk mengakhiri perang model kalah-menang sebagaimana diharapkan Washington.

Sementara itu, penentangan terhadap kebijakan unilateral AS di kancah internasional sedang meningkat, dan pernyataan bersama dari pejabat senior ekonomi dan perbankan Jepang, dan Korea Selatan menunjukkan bahwa kebijakan Trump, yang melanggar peraturan hubungan internasional, memicu reaksi dari kekuatan besar di tingkat global.(PH)