Manuver AS Tingkatkan Ketegangan di Timur Tengah
-
Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak terpilih, memiliki perhatian khusus terhadap kawasan Timur Tengah atau Asia Barat, bahkan lawatan luar negeri pertamanya dilakukan ke Arab Saudi sehingga ia menunjukkan urgensi kawasan Asia Barat dalam kebijakan luar negeri Amerika dan posisi sekutu Washington di kawasan ini, namun di sisi lain Trump beberapa kali terang-terangan menghina Riyadh.
Dalam beberapa hari terakhir, upaya pemerintah Trump untuk meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah tampak semakin gencar dilakukan. Dalam hal ini setelah ancaman pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat pembom strategis B52 ke Teluk Persia, sekarang Trump berencana mengirim pasukan tambahan ke kawasan ini.
Pada hari Jumat (24/5/2019) Presiden Amerika Serikat mengatakan akan mengirim 1500 pasukan tambahan ke Timur Tengah dengan dalih meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Padahal dalam kampanye pilpresnya Trump sempat menentang pengiriman pasukan ke Timur Tengah dan berjanji jika menang pemilu akan memulangkan semua tentara Amerika dari kawasan tersebut. Di sisi lain untuk menyamarkan agar seolah-olah pengiriman pasukan tambahan itu tidak penting, Pentagon mengumumkan pasukan yang akan dikirim hanya teknisi.
Menurut keterangan departemen pertahanan Amerika, di antara 1500 tentara yang akan diberangkatkan ke Asia Barat hanya 900 tentara baru dan 600 tentara yang sudah ada dan kehadirannya diperpanjang. Langkah Trump ini mendapat banyak penentangan.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR Amerika, Adam Smith, Jumat (24/5) memprotes rencana pengiriman pasukan tambahan ke kawasan Asia Barat dengan dalih untuk menghadapi ancaman Iran. Smith menilai keputusan Pentagon memperkuat kehadiran militer di kawasan sebagai hal yang mengkhawatirkan.
Ia menuturkan, sepertinya penambahan pasukan dan peralatan perang tanpa strategi yang jelas adalah langkah tidak bijak, sekaligus langkah terbuka dan rutin untuk meningkatkan ketegangan dengan Iran.
Langkah terbaru Washington menambah jumlah pasukan di Asia Barat dengan dalih ancaman Iran, di sisi lain juga membahayakan sekutu-sekutu regional Amerika sendiri. Maka dari itu dapat diduga tujuan penambahkan pasukan Amerika ini lagi-lagi bertujuan ekonomis.
Salah satu buktinya pada hari Jumat (24/5) Pemerintah Gedung Putih resmi menggunakan "celah darurat nasional" dalam undang-undang kontrol senjata yang memungkinkannya lolos dari hambatan Kongres untuk menjual senjata ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yordania senilai 8,1 miliar dolar.
Trump menyatakan adanya kondisi darurat nasional yang timbul karena meningkatnya ketegangan Amerika dengan Iran, sehingga Gedung Putih bisa mengabaikan keberatan Kongres terkait kelanjutan penjualan senjata ke tiga negara Arab itu.
Sementara itu Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia merespon langkah Amerika dengan mengatakan, Washington berusaha mendorong konflik di kawasan ke arah yang tidak jelas dengan langkah provokatifnya, dan ini mungkin saja dapat membawa akibat buruk. (HS)