Polarisasi Blok Timur dan Barat di JCPOA
-
JCPOA
Keputusan Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada Mei 2018 mendorong kelompok 4+1 yang masih bertahan dalam perjanjian nuklir internasional untuk membujuk Iran melanjutkan komitmennya terhadap JCPOA.
Pada saat yang sama, pihak Eropa tidak memenuhi janjinya terhadap implementasi JCPOA dan Iran mengumumkan batas waktu 60 hari bagi mereka supaya menjalankan komitmennya tersebut dengan tenggat waktu yang berakhir pada 8 Juli 2019. Pada hari Senin, 1 Juli, Iran mengumumkan cadangan uranium yang diperkaya sebesar 3,7 persen Iran akan melebihi 300 kilogram.
Kini, anggota kelompok 4+1 mengadopsi dua pendekatan yang berbeda menyikapi langkah Iran yang membentuk polarisasi dua kutub besar. Rusia dan Cina, sebagai kubu timur kelompok 4 +1, melihat sikap Iran saat ini sebagai akibat dari langkah AS. Mereka juga berulangkali menekankan komitmen Tehran terhadap JCPOA.
Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Selasa, 2 Juli, menekankan urgensi komitmen terhadap JCPOA, dan menyebut sanksi AS sebagai faktor pemicu langkah Tehran untuk meningkatkan cadangan uraniumnya melampaui batas yang telah ditetapkan. Lavrov mengatakan,"Keputusan Iran untuk meningkatkan cadangan uraniumnya melampaui batas yang ditetapkan karena sanksi AS. Kami menekankan pentingnya komitmen bersama terhadap kesepakatan nuklir dengan Iran".
Moskow sebelumnya memperingatkan bahwa langkah sanksi AS akan memicu reaksi Iran dengan meningkatkan cadangan uraniumnya. Cina juga mengambil sikap senada. Kementerian Luar Negeri Cina memandang tekanan maksimal Amerika Serikat terhadap Iran sebagai penyebab utama ketegangan baru-baru ini mengenai kesepakatan nuklir. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang pada 2 Juli menekankan komitmen Beijing, dan mendesak semua pihak penandatangan JCPOA untuk mengambil langkah serius demi mempertahankan perjanjian tersebut.
Sementara itu, kubu Barat dari kelompok 4+1 yaitu Troika Eropa (Jerman, Prancis dan Inggris) dan Uni Eropa alih-alih mengecam langkah Amerika Serikat dan mengambil langkah secara serius untuk memenuhi kewajibannya terhadap JCPOA, justru meminta Iran melanjutkan komitmennya terhadap kesepakatan nuklir, termasuk tidak meningkatkan uranium yang diperkaya melampaui yang ditetapkan.

Pihak Eropa dalam hal ini Prancis, Jerman dan Inggris, bersama dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengekspresikan "keprihatinan mendalam" dan mendesak Iran untuk mundur dari langkah-langkah yang diambil saat ini. Troika Eropa dan Uni Eropa dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Selasa 2 Juli, menyatakan, "Komitmen kami terhadap JCPOA ditentukan oleh implementasi penuh komitmen Iran terhadap kesepakatan tersebut, dan menyesalkan langkah terbaru Iran tentang masalah ini," Mereka juga mendesak Iran untuk menahan diri dari tindakan lebih lanjut yang akan merusak JCPOA.
Kubu Eropa di JCPOA menyatakan akan terus melanjutkan hubungan dagang dengan Iran untuk melawan efek negatif dari sanksi sepihak AS terhadap Iran, dan akan meluncurkan mekanisme khusus Eropa dan Iran, Instex.
Tapi pihak Eropa belum mengambil langkah konkret dalam mewujudkan janjinya terhadap Iran untuk menangkal dampak destruktif sanksi nuklir Amerika Serikat terhadap Tehran. Ironisnya, ketika Iran mengambil langkah tegas dan serius dengan meningkatkan cadangan uraniumnya melebihi batas yang ditetapkan, Eropa malah menyikapinya dengan menyampaikan tekanan dan ancaman.
Menyikapi masalah ini, Iran menyatakan siap meninjau ulang langkah barunya hanya jika pihak Eropa mengambil tindakan serius untuk memenuhi 11 janjinya terhadap JCPOA. Sebagaimana ditegaskan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif bahwa Instex harus menjadi pembuka implementasi 11 komitmen Eropa terhadap JCPOA, termasuk masalah penjualan minyak Iran, pengembalian uang hasil penjualan minyak Iran yang dibekukan, investasi di Iran, transportasi, penerbangan, dan perkapalan.(PH)