Cina, Unilateralisme AS dan Sanksi Iran
-
Geng Shuang
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina baru-baru ini menegaskan kembali penentangan Beijing terhadap sanksi unilateral AS kepada Iran.
Menanggapi peringatan AS mengenai larangan pembelian minyak dari Iran, Geng Shuang mengatakan, hubungan perdagangan normal antara Cina dengan Republik Islam Iran benar-benar rasional dan legal. Ditegaskannya, Beijing tidak akan menyerah terhadap sanksi ilegal AS kepada Iran.
Jubir kemenlu Cina mengatakan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Cina dengan publik internasional, termasuk Republik Islam Iran sesuai dengan hukum internasional dan menjunjung tinggi prinsip saling menghormati.
Beijing selama ini menentang sanksi sepihak AS, dan terus melanjutkan pembelaan terhadap hak dan kepentingan nasional. Pemerintah Cina bukan pertama kalinya ini saja mempertahankan kerja sama ekonomi dengan Iran dan melanjutkan pembelian minyaknya dari Tehran setelah Amerika Serikat keluar dari JCPOA dan menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.
Pejabat Cina berulangkali menyatakan akan terus mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran, dan tidak takut dengan ancaman Gedung Putih demi memenuhi kebutuhan energinya yang terlepas dari tekanan Amerika.
Statemen terbaru juru bicara kementerian luar negeri Cina mengenai sikap negaranya akan terus membeli minyak dari Iran, sekaligus menegaskan Cina sebagai konsumen minyak terbesar Iran selama beberapa tahun terakhir, yang mengindikasikan penentangan Beijing terhadap unilateralisme AS.
Pemerintah AS saat ini sedang menjalankan pendekatan yang memaksakan aturan domestiknya terhadap negara lain, termasuk Cina sebagai mitra utama ekonomi Iran supaya mematuhi sanksi Washington terhadap Tehran.
Sejumlah analis pasar energi menilai Beijing tidak peduli dengan ancaman Washington, dan Cina bersama dengan India, menjadi salah satu importir minyak terbesar Iran di dunia yang tetap melanjutkan hubungan ekonomi dengan Iran, dan sama sekali tidak ingin menerima retorika ancaman Presiden AS, Donald Trump.
Selain Cina yang tegas menentang tuntutan irasional Amerika Serikat untuk memutus pasokan minyak dari Iran, pembeli minyak Iran lainnya terutama India, Korea Selatan dan Jepang juga menentang permintaan Gedung Putih tersebut karena bertentangan dengan kepentingan nasional mereka.
Selain kebijakan tegas pemerintah Beijing yang melanjutkan pembelian minyak dari Iran, perusahaan-perusahaan swasta Cina yang beroperasi di sektor energi juga juga menyerukan pembelian minyak dari Iran untuk menggantikan pasokan minyak dari AS.
Para pakar energi menilai Cina memiliki kebutuhan tinggi terhadap minyak demi mendorong perkembangan negaranya yang sedang tumbuh pesat, oleh karena itu tidak dapat mengabaikan minyak Iran.
Fakta ini menunjukkan kebijakan Trump untuk menggiring berbagai negara dunia supaya mengamini sanksi AS terhadap Iran menghadapi penentangan di tingkat global. Protes Cina telah membuktikannya.(PH)