Desakan Pemakzulan dan Ancaman Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i74315-desakan_pemakzulan_dan_ancaman_trump
Donald Trump melenggang ke Gedung Putih dengan slogan America First, tetapi sekarang demi menyelamatkan jabatannya, mengancam akan mengobarkan perang saudara di Amerika jika ia dimakzulkan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 02, 2019 09:30 Asia/Jakarta
  • Ketua DPR AS Nancy Pelosi (kiri) dan Presiden Donald Trump (kanan).
    Ketua DPR AS Nancy Pelosi (kiri) dan Presiden Donald Trump (kanan).

Donald Trump melenggang ke Gedung Putih dengan slogan America First, tetapi sekarang demi menyelamatkan jabatannya, mengancam akan mengobarkan perang saudara di Amerika jika ia dimakzulkan.

Proses pemakzulan Presiden Trump tengah bergulir di Dewan Perwakilan Rakyat AS dan langkah ini dipelopori oleh kubu Demokrat.

Demokrat mendesak pemakzulan Trump dari jabatannya setelah ia diketahui menyalahgunakan kekuasaannya selama pembicaraan telepon dengan presiden Ukraina.

Trump menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki Hunter Biden yang duduk sebagai salah satu dewan direksi di perusahaan gas Ukraina atas dugaan korupsi. Hunter adalah putra mantan Wapres AS Joe Biden, yang diprediksi akan menjadi pesaing Trump pada pilpres 2020.

Trump dituduh telah menghentikan bantuan militer AS ke Ukraina untuk menekan Zelensky. Kubu Demokrat di DPR dan Ketua DPR AS Nancy Pelosi menganggap Trump telah membahayakan keamanan nasional. Oleh karena itu, mereka membuka penyelidikan resmi untuk pemakzulan Trump.

Menurut transkrip pembicaraan Trump- Zelensky yang bocor, Utusan Khusus AS untuk Ukraina, Kurt Volker telah melakukan lobi dengan sejumlah pejabat senior Ukraina agar mereka memenuhi permintaan Gedung Putih.

Putra Mahkota Arab Saudi dan Trump dalam pertemuan di Gedung Putih. (dok)

Demokrat sejak awal berusaha untuk memakzulkan Trump atas tuduhan berkolusi dengan Rusia pada pilpres 2016 dan beberapa tuduhan lain termasuk cacat moral. Namun, Demokrat juga khawatir bahwa kegagalannya dalam proses pemakzulan justru akan meningkatkan popularitas Trump. Demokrat sekarang berani mengambil risiko setelah mencium berbagai pelanggaran yang dilakukan presiden di bidang keamanan, politik, dan ekonomi.

Setelah memenangi pilpres AS, Trump memberikan pengabdikan besar-besaran kepada rezim Zionis Israel.

Dia mengakui Quds sebagai ibukota Israel meskipun langkah ini berpengaruh terhadap kepentingan AS, mengakui kedaulatan rezim Zionis atas Dataran Tinggi Golan Suriah, menarik diri dari perjanjian nuklir JCPOA, mendukung serangan Arab Saudi di Yaman, dan kasus-kasus lain. Semua tindakan itu membuat AS terisolasi di forum-forum internasional dan kini Trump mengancam akan membuat kekacauan di dalam negeri jika ia dimakzulkan.

Karakteristik seperti ini tampaknya dimiliki oleh semua kalangan sayap kanan, seperti yang dilakukan Benjamin Netanyahu di tanah pendudukan Palestina. Dia mengambil langkah apapun termasuk memancing konflik baru dengan Gaza dan Lebanon demi menunda proses pengusutan terhadap kasus korupsinya.

Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman juga melakukan hal yang sama demi mempertahankan posisinya. Ia mengambil tindakan yang membahayakan kepentingan negaranya termasuk serangan ke Yaman, penumpasan oposisi, penangkapan para pangeran, pemberian suap kepada pemerintahan Trump, dan tudingan tak berdasar terhadap Iran.

Dengan melihat fakta-fakta ini, Trump kemungkinan akan melaksanakan ancamannya jika ia dicopot dari kursi presiden. Sejarah Amerika juga pernah menyaksikan perang saudara yang terjadi antara selatan dan utara. (RM)