Anggota Daesh, Alat Politik Baru Turki Tekan Eropa
-
Kementerian dalam negeri Turki
Kementerian dalam negeri Turki mendeportasi tujuh anggota kelompok teroris Daesh dari Istanbul ke negara asalnya.
Kementerian dalam negeri Turki dalam sebuah pernyataan mengatakan, enam warga negara Jerman dan satu warga negara Inggris yang tergabung dalam kelompok teroris Daesh dikembalikan ke negara mereka.
Langkah deportasi tujuh anggota Eropa dari kelompok teroris Daesh ke negara mereka baru-baru ini berhubungan dengan ancaman terbaru pemerintah Ankara terhadap negara-negara Barat. Jika pemerintah Barat tidak memenuhi janji keuangan mereka kepada pemerintah Turki, maka ribuan anggota kelompok teroris Daesh akan dikembalikan ke negara asalnya.
Pemerintah Ankara telah berulangkali mengancam negara-negara Barat untuk membuka perbatasan Turki bagi para pengungsi dan anggota kelompok teroris Daesh ke Eropa. Tujuan Turki tidak lain kecuali mendapatkan konsesi khusus dari Barat.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Turki Süleyman Soylu mengungkapkan, "Turki bukan hotel Daesh, dan pemerintah Ankara akan mengembalikan anggota kelompok teroris ini ke negara asal mereka di Eropa. Selain itu, dari sudut pandang pemerintah Ankara, pernyataan para pejabat Eropa tentang pembatalan kewarganegaraan para anggota kelompok teroris Daesh tidak dapat diterima, dan Turki akan mengembalikan pada tahanan Daesh ke negara mereka,".

Pejabat pemerintah Ankara juga menggambarkan pendekatan negara-negara Eropa terhadap para pengungsi dan anggota Daesh dari Eropa sebagai penghindaran tanggung jawab.
Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa, lebih dari 5.000 warga negara Eropa telah bergabung dengan kelompok teroris Daesh antara 2011 dan 2016.
Isu kembalinya anggota Daesh ke negara mereka adalah salah satu masalah keamanan utama bagi Uni Eropa. Faktanya, negara-negara Barat yang terlibat dalam memperkuat kelompok teroris Daesh demi mewujudkan kepentingan mereka di Suriah, Irak dan kawasan Asia Barat, kini tidak bisa mengelak dari tanggung jawab menerima teroris Eropa yang tergabung dengan kelompok teroris Daesh.
Presiden AS Donald Trump pada pertengahan Februari tahun ini mengatakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya telah menangkap lebih dari 800 warga Eropa yang menjadi anggota kelompok teroris Daesh, dan akan segera menyerahkan mereka ke negara asalnya di Eropa, terutama Inggris, Prancis dan Jerman. Trump bahkan mengancam akan membebaskan mereka jika pihak Eropa tidak menerimanya.
Tampaknya, Turki dan AS sedang bekerja sama untuk membawa anggota Daesh kembali ke Eropa demi menekan Uni Eropa.
Masalah kembalinya anggota kelompok teroris ke negara asalnya, selain menimbulkan ancaman keamanan dan sensitivitas politik, juga memiliki implikasi hukum khusus. Oleh karena itu, pemerintah Ankara harus segera menyingkirkan mereka sesegera mungkin.
Persoalan pelik kembalinya anggota kelompok teroris Daesh ke negara asalnya tidak hanya menimbulkan persoalan bagi Eropa, tapi juga bagi Rusia dan negara-negara Asia Tengah lainnya.
Turki menghadapi masalah yang lebih kompleks untuk mengembalikan anggota kelompok teroris ke Chechnya, dan Turkistan Timur atau Uighur di Cina. Pasalnya, kendali Chechnya bagi Rusia dan Uighur untuk Cina, sebagai dua negara besar yang dekat dengan Turki, tidaklah mudah. Masalah ini bisa merusak beberapa aspek hubungan ekonomi dan keamanan Turki dengan Rusia dan Cina.(PH)