Ekspansi NATO dan Kemarahan Rusia
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Jumat (30/4/2014) memperingatkan bahwa Rusia akan menerapkan langkah-langkah militer baru di wilayah utaranya jika Swedia memilih untuk bergabung dengan NATO.
Para pejabat NATO sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang keanggotaan Swedia, tapi mereka menganggap negara itu sebagai sekutu penting dan efektif organisasi tersebut.
Dalam hal ini, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan bahwa Moskow akan meningkatkan kemampuan angkatan bersenjatanya jika NATO melanjutkan kebijakan ekspansif di dekat perbatasan Rusia.
“Berbagai program militer termasuk pembangunan instalasi di dekat perbatasan Rusia oleh Amerika Serikat dan NATO akan memaksa Moskow untuk mengambil tindakan militer balasan,” tegasnya.
Hubungan Rusia dan NATO sebagai aliansi militer terbesar di dunia telah menjadi sebuah isu utama keamanan di wilayah Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan kedua pihak mengalami banyak pasang-surut di era pasca Perang Dingin.
Pada dasarnya, perseteruan serius Rusia dan NATO terkait krisis Ukraina telah membuat hubungan kedua pihak berada pada titik terendah di masa sekarang. Para pejabat Moskow senantiasa mencurigai gerak-gerik NATO baik di wilayah Eropa maupun pada tingkat internasional.
Kecurigaan ini semakin menguat setelah NATO mengambil langkah-langkah seperti, upaya aliansi ini untuk memperluas ekspansinya ke wilayah timur, keputusan untuk menempatkan sistem anti-rudal di Eropa bersama AS, dan yang terbaru upaya luas NATO untuk meningkatkan kehadirannya di Eropa Timur dan Laut Hitam.
Sensitivitas Rusia semakin melebar setelah NATO berusaha memperluas pengaruhnya di Eropa Utara serta mendorong keanggotaan Swedia dan Finlandia di organisasi itu.
Rusia sekarang menyaksikan dirinya berada pada situasi baru yaitu upaya NATO untuk merekrut negara-negara Eropa Utara sebagai anggota barunya. Langkah ini tentu saja akan memperlebar pengaruh dan zona operasi NATO serta meningkatkan konflik dengan Rusia.
Dalam merespon sikap agresif NATO, Rusia telah mengeluarkan peringatan tentang keanggotaan Swedia dan Filandia. Namun, sikap Rusia juga mendapat reaksi senada dari Swedia.
Swedia dan Finlandia sekarang dianggap sebagai dua negara yang berpotensi besar akan bergabung dengan NATO. Jika Swedia bergerak untuk mengajukan keanggotaannya, maka Finlandia dipastikan akan segera menyusul langkah tetangganya itu.
Meski demikian, ada dua faktor yang akan menjadi pertimbangan Swedia dan Finlandia yakni rasa khawatir terhadap respon Rusia dan ketidakcukupan kapabilitas politik-pertahanan Uni Eropa. Namun, kedua negara itu sekarang menjalin kerjasama yang dekat dengan NATO, termasuk partisipasi dalam latihan militer bersama. Pada akhirnya, kerjasama erat ini tampaknya akan mendorong Swedia dan Finlandia untuk menjadi anggota NATO.
Masalah ini tentu saja akan meningkatkan kekhawatiran Rusia dan memaksa Moskow untuk mengambil langkah-langkah agresif. Pada Juni 2013, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev secara tegas menentang keanggotaan Swedia dan Finlandia di NATO.
Meskipun keputusan itu merupakan urusan internal setiap negara, tapi ekspansi blok militer NATO di dekat perbatasan Rusia tidak bisa dianggap sebagai sebuah kejadian positif bagi Moskow, karena kekuatan militer NATO berpotensi digunakan untuk menyerang Federasi Rusia jika terjadi kekacauan di kawasan.
Jika Swedia dan Finlandia benar-benar memilih untuk menjadi anggota NATO, maka Rusia secara bersamaan akan menghadapi ancaman dari arah timur dan utara. (RM)