Peskov: Perang Melawan Teroris di Suriah akan Berlanjut
-
Dmitry Peskov, Juru Bicara Kepresidenan Rusia
Juru bicara kepresidenan Rusia hari Minggu malam, 1 Maret, mengatakan bahwa perang melawan teroris di Suriah akan terus berlanjut meskipun ada penentangan.
Menurut laporan IRIB, Dmitry Peskov, Jubir Kepresidenan Rusia mengutip serangan teroris terhadap posisi militer Suriah dan Rusia di Suriah menambahkan bahwa tindakan pasukan militer Suriah dalam beberapa hari terakhir ditujukan untuk melawan kelompok-kelompok teroris.
Peskov juga merujuk pada kesepakatan Sochi seraya mengatakan, sesuai dengan kesepakatan ini, Turki diwajibkan untuk menggagalkan kelompok teroris, tetapi sayangnya gagal memenuhi komitmen itu dan para teroris melancarkan serangan terhadap pasukan bersenjata Suriah.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 22 Oktober 2019, mencapai kesepakatan tentang Suriah utara, yang dikenal sebagai Perjanjian Sochi.
Perjanjian yang berisikan 10 butir tersebut menekankan komitmen kedua pihak terhadap integritas dan kedaulatan wilayah Suriah, memastikan keamanan nasional Turki, aksi bersama pada kelompok-kelompok separatis dan melawan terorisme, tetapi Turki gagal melakukannya.
Sekalipun Turki melanggar kesepakatan Sochi dan begitu juga tindakan kelompok-kelompok teroris dalam melanggar gencatan senjata di daerah-daerah zona de-eskalasi, militer Suriah dan sekutunya telah melancarkan operasi terhadap teroris di provinsi Adlib, Suriah utara, sejak Januari 2020.
Operasi militer Suriah dan sekutunya di provinsi Idlib, yang menjadi pangkalan kelompok teroris terakhir di negara itu, telah memicu serangan balasan dari Turki dan ancaman berulang kali.
Turki adalah pendukung utama kelompok-kelompok teroris di Suriah.
Dalam beberapa pekan terakhir, militer Turki telah berulang kali menargetkan posisi dan infrastruktur Suriah di provinsi Idlib untuk mendukung para teroris.
Krisis di Suriah dimulai pada tahun 2011 dengan serangan besar-besaran oleh kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Turki, Arab Saudi, Amerika Serikat dan sekutu mereka untuk mengubah persamaan wilayah yang mendukung rezim Zionis.
Militer Suriah baru-baru ini dapat menutup kasus kelompok teroris Daesh (ISIS) di negara itu dengan bantuan Republik Islam Iran dan dukungan Rusia.
Sekarang kelompok-kelompok teroris sedang menghadapi kekalahannya.