Amerika Tinjauan dari Dalam 7 Maret 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i79323-amerika_tinjauan_dari_dalam_7_maret_2020
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai kesepakatan damai antara AS dan Taliban dan janji penarikan pasukan AS dari Afghanistan diragukan keseriusannya.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 07, 2020 12:45 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Afghanistan
    Pasukan AS di Afghanistan

Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai kesepakatan damai antara AS dan Taliban dan janji penarikan pasukan AS dari Afghanistan diragukan keseriusannya.

Selain itu, Ketua DPR AS, Nancy Pelosi menyebut Trump sebagai orang paling berbahaya dalam sejarah AS, Trump memutus 114.000 asuransi anak-Anak AS, dan seorang pegawai Pentagon ditangkap karena membocorkan rahasia ke Hizbullah, serta jumlah korban Corona di AS bertambah 12 orang.

 

Pasukan AS di Afghanistan

Janji Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Diragukan

Penandatanganan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Taliban tidak bisa dilepaskan dari ambisi kampanye pemilu Donald Trump yang selama ini dikenal tidak memiliki komitmen terhadap perjanjian internasional. Oleh karena itu, banyak analis politik yang meragukan keseriusan AS dalam implementasinya.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper telah memerintahkan Komandan Tertinggi AS di Afghanistan untuk memulai penarikan awal pasukan AS dari Afghanistan. Esper dalam konferensi pers di Pentagon mengatakan, setelah menandatangani perjanjian Perdamaian dengan Taliban diperlukan waktu selama 10 hari untuk memulai proses penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Menurut Esper, Amerika Serikat akan mengurangi pasukannya dari 13.000 menjadi 8600 dalam waktu 135 hari, dan akan mengevaluasi kembali situasinya.

Sebelumnya, pada Sabtu, 29 Februari 2020, AS menandatangani perjanjian damai dengan Taliban, dan Washington mengklaim telah meletakkan landasan bagi penarikan pasukan asing dari Afghanistan dan mengakhiri perang 18 tahun di negara ini. Namun, beberapa pengamat menggambarkan langkah itu sebagai perjudian kebijakan luar negeri Trump di tahun kampanye pemilu presiden, yang dapat memberikan legitimasi internasional kepada Taliban.

Perjanjian ini akan menghadapi banyak tantangan dan kesulitan pada tahap implementasinya. Trump yang sedang terburu-buru untuk mencapai kesepakatan, sekarang berpikir dia dapat menggunakannya sebagai kartu kemenangan dalam kampanye pemilunya. Namun, tidak ada masa depan yang jelas untuk pelaksanaan perjanjian AS-Taliban, dan tentu saja ada banyak kendala yang merintanginya.

Di sisi lain, AS tahu benar bagaimana menaruh kartu antara Taliban dan pemerintahan Kabul, dengan menempatkan dirinya sebagai mitra keduanya. Dengan demikian, jika penarikan pasukan AS dilakukan, barangkali tidak akan berusia panjang. Sebab, sebagaimana disampaikan Trump sendiri, Pentagon akan mendatangkan pasukan AS kembali di Afghanistan. Bahkan mungkin dengan jumlah yang lebih besar.

 

Kontak telpon Trump dengan pemimpin Taliban

 

Mantan Anggota CIA Kritik Kontak Telepon Trump dengan Taliban

Mantan anggota senior CIA, Edward Ned Price mengkritik komunikasi diam-diam Presiden AS Donald Trump dengan kelompok Taliban. Ned Price pada Rabu (4/3/2020) menulis via akun Twitter-nya bahwa Trump melakukan kontak telepon dengan salah satu petinggi Taliban, dan rakyat Amerika mengetahui kabar ini dari Taliban.

Trump pada Selasa kemarin, melakukan pembicaraan telepon dengan Deputi Politik Taliban Afghanistan, Mullah Baradar.

Juru bicara Biro Politik Taliban di Qatar, Suhail Shaheen mengatakan Mullah Baradar dalam pembicaraan dengan Trump menekankan bahwa jika AS menghormati kesepakatan damai, hubungan Taliban dengan Washington akan positif dan keluarnya pasukan asing dari Afghanistan akan menguntungkan semua pihak.

Baru kali ini seorang presiden AS terlibat pembicaraan telepon dengan salah satu petinggi kelompok Taliban. Setelah satu tahun perundingan intensif, perwakilan pemerintah AS dan Taliban pada Sabtu lalu, bertemu di Qatar untuk menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Afghanistan.

Pasukan Amerika dan asing secara penuh akan meninggalkan Afghanistan dalam 14 bulan ke depan jika Taliban mematuhi butir-butir kesepakatan.

AS dan sekutunya menyerang Afghanistan pada tahun 2001 dengan alasan memerangi terorisme dan menciptakan keamanan, tapi kekacauan, terorisme, dan produksi narkotika meningkat tajam sejak AS menduduki negara itu.

 

Nancy Pelosi

 

Pelosi: Trump, Orang Paling Berbahaya dalam Sejarah AS

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menyebut Donald Trump sebagai orang yang paling berbahaya sepanjang sejarah negara ini.

Nancy Pelosi, Ketua DPR-AS dalam sebuah wawancara dengan The Independent hari Rabu mengatakan bahwa dirinya memiliki masalah serius dengan Presiden Donald Trump, karena dia tidak mengatakan fakta sebenarnya, tidak menghormati konstitusi dan membahayakan anak-anak.

Pelosi juga mendesak partai Demokrat untuk fokus melawan Trump, karena AS tidak akan bersamanya selama empat tahun lagi.

Nancy Pelosi, salah satu kritikus utama kebijakan Trump, juga mengecam langkah pemerintah AS pekan lalu mengenai pengendalian virus Corona.

Salah satu sikap konfrontatif yang ditampakkan Ketua DPR dan Presiden AS di Kongres negara ini mengenai sikap Trump yang tidak mau berjabatan tangan dengan Pelosi, yang dibalas Pelosi dengan merobek transkrip pidato Trump.

 

Bernie Sanders

 

Sanders: Trump Putus 114.000 Asuransi Anak-Anak AS !

Bakal calon presiden AS dari partai demokrat, Bernie Sanders mengkritik kebijakan kesehatan Donald Trump, dan mengatakan kinerja Trump telah merampas 114.000 asuransi kesehatan anak-anak AS.

Senator negara bagian Vermont ini dalam cuitannya Rabu malam menulis, "Di era Trump, kekayaan para miliarder meningkat 850 miliar dolar, tetapi asuransi lebih dari 114.000 bayi baru lahir, balita dan anak-anak usia prasekolah justru diputus,".

"Kita perlu merawat anak-anak kita, bukan memberikan konsesi korporat kepada para miliarder," tegas Sanders diakun Twitternya.

Sanders secara konsisten mengkritik kurangnya perhatian pemerintah AS terhadap asuransi kesehatan dan mahalnya biaya premi asuransi kesehatan.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengkritik undang-undang kesehatan di era Obama, ObamaCare dan menggantikannya dengan program lain.

Trump mengklaim, jika Mahkamah Agung AS membatalkan UU Obamacare, maka dia akan menawarkan alternatif yang lebih baik sebelum pemilu presiden 2020.

Hingga kini Trump berupaya untuk mencabut undang-undang ObamaCare, tetapi sejauh ini gagal. Departemen Kehakiman AS baru-baru ini meminta pengadilan banding untuk pencabutan UU ObamaCare.

 

Pentagon

 

Bocorkan Rahasia ke Hizbullah, Pegawai Pentagon Ditangkap

Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengabarkan penangkapan seorang pakar bahasa yang bekerja di Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon karena dituduh membocorkan informasi super rahasia negara ini kepada seorang warga Lebanon yang terkait dengan Hizbullah.

Pejabat Amerika yang dimaksud adalah John C. Demers, Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional Amerika, Timothy J. Shea, Jaksa Distrik Columbia, Robert Wells, Penjabat Asisten Direktur Divisi Kontra-Intelijen FBI, dan Timothy R. Slater, Asisten Direktur Washington Field Office.

Departemen Kehakiman Amerika, Rabu (4/3) malam mengumumkan penangkapan Mariam Taha Thompson, 61 tahun, karena mentransmisikan informasi pertahanan nasional rahasia yang sangat sensitif kepada seorang warga negara asing yang terbukti berhubungan dengan Hizbullah.

Menurut keterangan Departemen Kehakiman Amerika, Mariam Taha Thompson membocorkan identitas petugas militer aktif, termasuk nama mereka yang sebenarnya kepada warga Lebanon yang terkoneksi dengan Hizbullah.

Thompson yang ditangkap di sebuah fasilitas militer luar negeri Amerika pada 27 Februari 2020 itu, dalam rentang waktu antara 30 Desember 2019-Februari 2020, memiliki akses ke puluhan dokumen terkait personel militer Amerika termasuk nama, informasi pribadi, rekam jejak dan foto mereka.

 

virus corona

 

Jumlah Korban Corona di AS Bertambah 12 Orang

Jumlah korban virus Corona di Amerika Serikat mencapai 12 orang.

Reuters Kamis (05/02) melaporkan, Sebanyak 11 korban Corona di negara bagian Washington dan satu orang lainnya dari negara bagian California. Sampai saat ini dilaporkan 158 orang di Amerika terinfeksi virus Corona.

Media Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan korban meninggal akibat virus Corona di negara ini sebanyak 11 orang.

Kekhawatiran di Amerika terkait kinerja pemerintah Donald Trump dalam menangani wabah Corona semakin tinggo dan bahkan gubernur Washington mengumumkan kondisi darurat akibat ancaman Corona.

Laman trust out baru-baru ini mengungkapkan 28 juta orang di Amerika tidak memiliki asuransi di tengah penyebaran wabah Corona di negara ini.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika beberapa waktu lalu memperingatkan, Amerika cepat atau lambat akan menghadapi secara serius wabah virus Corona.

Virus Corona pertama kalinya ditemukan akhir tahun lalu di kota Wuhan di Provinsi Hubei, timur Cina dan selain menyebar di 30 provinsi negara ini, Corona juga telah merambah 86 negara lain termasuk Amerika Serikat, Inggris, Australia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Kanada, Perancis, Italia, Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Menurut data terbaru, sampai saat ini sedikitnya 96 ribu orang di dunia terinfeksi virus ini dan di antara jumlah tersebut 54 ribu berhasil disembuhkan. Sementara itu, 3300 pasien Corona meninggal dunia. (PH)