Amerika Tinjauan dari Dalam, 14 Maret 2020
-
DPR AS
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai keputusan DPR AS mengesahkan RUU pembatasan wewenang Trump dalam urusan perang dengan Iran.
Selain itu, keputusan pemerintah AS menghapus identitas warga Palestina, dua senator AS dikarantina, kinerja pemerintahan Trump atasi corona tuai kritikan, AS mengerahkan pasukan garda nasional untuk mengatasi penyebaran virus corona, dan Menlu AS mereaksi serangan ke pangkalan militer Taji di Irak.
DPR AS Setujui RUU Pembatasan Wewenang Perang Trump
Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan rancangan undang-undang mengenai aturan pembatasan wewenang Trump dalam urusan perang dengan Iran, dan terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan Kongres AS. Resolusi yang didukung 227 suara dan penentangan 186 suara di DPR-AS ini disahkan pada 11 Maret 2020.
Resolusi tersebut membatasi wewenang Presiden Donald Trump untuk bertindak secara militer terhadap Iran. Trump telah mengancam akan memvetonya. Berdasarkan resolusi ini, presiden diharuskan mengakhiri penggunaan angkatan bersenjata AS untuk memicu ketegangan dengan Iran atau bagian dari pemerintah dan militernya.
Selain itu, dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat AS tersebut, sebanyak 212 suara menentang penulisan poin tentang "penghapusan (syahid) Soleiman akan meningkatkan keamanan militer, diplomat dan warga negara AS, juga mitra dan sekutunya termasuk Israel dan dunia,". Sedangkan anggota DPR-AS yang mendukungnya 198 suara.
Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat AS mengeluarkan resolusi serupa pada Januari 2020, tetapi tidak mengikat dan menjadi usulan yang disampaikan ke Senat. Pada Februari 2020, Senat mengeluarkan resolusi serupa yang diusulkan oleh Senator Demokrat dari Virginia, Tim Kaine.
Bagian dari resolusi yang membatasi wewenang perang Trump terhadap Iran, yang didukung oleh kedua belah pihak, adalah pengalaman kedua Trump. Pada 2019, Kongres AS mengeluarkan resolusi yang bertujuan membatasi dukungan militer AS terhadap koalisi Saudi dalam perang Yaman, tapi diveto oleh Trump. Sebelumnya Gedung Putih telah mengumumkan akan menanggapi resolusi yang membatasi wewenang perang Trump terhadap Iran dengan memveto rencana apa pun yang akan membatasi kekuasaan sang presiden.
Pemerintah AS Hapus Identitas Warga Palestina
Departemen Luar Negeri AS mengubah deskripsi untuk warga Palestina yang tinggal di Timur Quds dari penduduk Palestina menjadi "warga Arab" atau "warga non-Israel."
Seperti dilansir The Jerusalem Post, Kamis (12/3/2020), Deplu AS dalam laporan tahunan tentang situasi Hak Asasi Manusia menyatakan warga Palestina di Timur Quds tidak akan lagi disebut sebagai warga Palestina, tapi sebagai warga Arab atau warga non-Israel.
Laporan itu menegaskan bahwa pemerintah Otorita Ramallah Palestina tidak memiliki kekuasaan di wilayah Quds pendudukan.
Rezim Zionis telah menerbitkan kartu identitas untuk warga Palestina yang tinggal di kota Quds dengan nama warga Yerusalem.
Mayoritas warga Palestina di Timur Quds tidak memegang paspor Israel, tetapi mereka memegang izin tinggal yang diterbitkan oleh rezim Zionis.
Tahun lalu, laporan tahunan Deplu AS masih menyebut penduduk Palestina sebagai "warga Palestina di Timur Quds" atau "warga Palestina di Yerusalem."
Pemerintah AS mengakui kota Quds sebagai ibukota rezim Zionis pada Desember 2017 dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada Maret 2019, dan kemudian mengumumkan prakarsa Kesepakatan Abad.
Di antara butir penting Kesepakatan Abad adalah mengakui Quds sebagai ibukota rezim Zionis, menyerahkan 30 persen dari wilayah Tepi Barat kepada Israel, mencabut hak kepulangan pengungsi Palestina ke tanah airnya, dan melucuti senjata kelompok Palestina.
Khawatir Sebarkan Corona, Dua Senator AS Dikarantina
Dua senator AS telah dikarantina di tengah meningkatnya jumlah kematian korban akibat virus corona di negara ini
Senator Ted Cruz dan Paul Gosar dikarantina dalam rumah mereka masing-masing setelah menghubungi dua orang yang dilaporkan positif terinfeksi virus corona.
Menurut data statistik terbaru penyebaran COVID-19 di Amerika Serikat, sebanyak 21 meninggal dan 490 orang terinfeksi virus corona.
Penyebaran virus corona telah membuat masyarakat di Los Angeles panik sehingga supermarket penuh dengan orang-orang belanja untuk menyetok barang kebutuhan sehari-hari.
Sebelumnya, kota terpadat di Amerika Serikat, New York menyatakan status darurat virus corona setelah terjadi peningkatan jumlah kematian di seluruh Amerika Serikat.
Informasi sebelumnya berdasarkan data dari Johns Hopkins CSSE per Minggu (8/3/2020) pukul 10.13 pagi, total kasus infeksi di AS menembus 428 orang.

Kinerja Pemerintah Trump Tangani Corona Tuai Kritik
Petinggi senior Amerika Serikat mengkritik kinerja Presiden Donald Trump yang masih mengabaikan penyebaran virus corona di negaranya.
Seperti dilaporkan Reuters, Ketua DPR Nancy Pelosi bersama Chuck Schumer, ketua minoritas Demokrat di Senat mengkhawatirkan bertambahnya warga yang terinfeksi Corona di negara ini, dan meminta Kongres AS tidak mendengarkan pernyataan Presiden Donald Trump dan pemerintahannya yang dinilai mengobarkan kekacauan.
Ted Lieu, anggota DPR AS dari negara bagian California di akun Twitternya juga mengkritik Trump dan pemerintahannya dalam menangani wabah Corona di Amerika. Ia menulis, "Jika kalian benar-benar warga AS, jangan dengarkan ucapan Trump terkait Corona, tapi dengarkan pusat pengendalian wabah yang merekomendasikan kalian sedapat mungkin tinggal di rumah. Trump Anda harus Malu."
Alex Azar, Menteri Kesehatan AS 1 Maret 2020 sehari setelah kasus kematian pertama pasien Corona di negara ini mengatakan, "Meski di kondisi saat ini ancaman terinfeksi Corona bagi warga AS cukup rendah, namun kondisi dapat cepat berubah dan kita akan menyaksikan kasus lebih banyak penderita wabah ini di Amerika."
Banyak pengamat menilai aksi pemerintah Trump yang menyembunyikan realitas penyebaran corona berdampak terhadap percepatan penyebaran wabah ini.

Atasi Wabah Corona, AS Kerahkan Pasukan Garda Nasional
Pasukan Garda Nasional AS akan ditempatkan di pinggiran kota New York setelah meningkatnya penyebaran virus Corona di wilayah itu.
Seperti dilansir AFP, Rabu (11/3/2020), Gubernur New York Andrew Cuomo memutuskan karantina dan memberlakukan pembatasan khusus di kota New Rochelle di utara New York, yang menjadi pusat penyebaran virus Corona.
Wabah Corona telah menyebar di 35 negara bagian di AS dan 1,016 kasus infeksi Corona telah terkonfirmasi di negara itu dengan 31 kematian.
Bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden dan Bernie Sanders telah membatalkan kampanye 11 Maret karena kekhawatiran penyebaran Corona.
Partai Demokrat juga mengumumkan bahwa acara debat kedua capres tersebut akan digelar tanpa penonton.(PH)
Menlu AS Reaksi Serangan ke Pangkalan Taji, Irak
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam sebuah pernyataan, meminta kelompok atau individu bertanggung jawab atas serangan ke pangkalan militer al-Taji, Irak.
"Serangan mematikan hari ini di pangkalan militer Taji, Irak tidak akan ditoleransi. Saya setuju bahwa mereka yang terlibat harus bertanggung jawab," tulis Pompeo di akun Twitternya seperti dikutip Farsnews, Kamis (12/3/2020).
Pompeo menyatakan setuju dengan pandangan mitranya dari Inggris, Dominic Raab bahwa pelaku serangan tersebut harus bertanggung jawab.
Pompeo dan Raab melakukan pembicaraan telepon setelah 10 roket mendarat di pangkalan militer al-Taji pada Rabu malam. Serangan ini menewaskan satu tentara Inggris dan dua tentara Amerika serta menciderai 12 lainnya.
Menurut media-media Irak, 10 roket ditembakkan ke pangkalan militer al-Taji pada Rabu malam yang menjadi markas bagi sejumlah pasukan teroris Amerika di Irak.(PH)