AS Ancam Keamanan Energi Eropa dan Protes Jerman
Setelah berkuasanya Donald Trump di Gedung Putih, hubungan Washington dan Berlin mulai mengalami ketegangan menyusul menurunnya level hubungan Eropa dan AS.
Seiring dengan terkuaknya isu penarikan pasukan Amerika dari Jerman, kini ada isu lain yang membangkitkan kemarahan petinggi Berlin. Pemerintah Jerman tidak puas dengan tindakan Amerika menjatuhkan sanksi kepada lembaga dan perusahaan Jerman karena terlibat di proyek pipa gas Nord Stream-2 dan Departemen Luar Negeri Jerman seraya mengkritik keras masalah ini , menyebut langkah tersebut sebuah intervensi serius di keamanan energi dan independensi Uni Eropa.
Koran Frankfurter Allgemeine Zeitung bersandar pada statemen Deplu Jerman menulis, "Langkah seperti ini sebuah tindakan hukuman terhadap proyek gas, intervensi serius di keamanan energi Eropa dan independensi Uni Eropa. Deplu Jerman menolak sanksi ini yang memiliki dampak trans-regional."
Mantan dubes AS di Jerman, Richard Grenell beberapa waktu lalu setelah pertemuan dengan anggota DPR Amerika menyatakan, sanksi lebih keras terhadap proyek pipa gas Nord Stream-2 mendapat dukungan luas dari kedua partai Amerika. Menurutnya meski ada kampanye pemilu, proses legislasi di masalah ini akan cepat terproses. Grenell meminta pemerintah Jerman merevisi secara mendasar kebijakannya terhadap Rusia.
Sebaliknya mayoritas wakil tinggi Jerman mengkritik keras keputusan Amerika ini. Menurut Fritz Felgentreu, anggota parlemen Jerman dari Partai Sosialis Demokrat, Amerika mengambil kebijakan hegemonik.
Perluasan hubungan energi Rusia dan Eropa menuai repson negatif Amerika dan dalam koridor ini, Washington di undang-undang anggaran pertahanan 2020 menetapkan sanksi terhadap jalur pipa gas yang tengah dibangun Rusia di Eropa termasuk pipa gas Nord Stream-2.
Trump bulan Mei 2019 di kritikan pedasnya terhadap proyek pipa gas Nord Stream-2 yang tengah dibangun dengan anggaran 11 miliar dolar menyebutkan sebagai sebuah senjata geopolitik dan mengatakan, proyek ini meningkatkan ketergantungan Eropa kepada gas Rusia.
Washington berulang kali memperingatkan ketergantungan besar Uni Eropa terhadap gas Rusia dan berencana menghentikan proyek besar ini dengan menjatuhkan sanksi. Menurut Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sanksi Amerika terhadap proyek pipa gas Nord Stream-2 sebuah pelanggaran hukum internasional dan contoh dari persaingan yang tidak seimbang.
Proses kemajuan proyek pipa gas Nord Stream-2 melambat mengingat sanksi ini dan mundurnya sejumlah kontraktor. Meski demikian Rusia yang memiliki kepentingan besar atas penyempurnaan proyek pipa gas ini serta perluasan hubungan energi dengan Eropa, berjanji dirinya akan merampungkan proyek ini.
Sampai saat ini lebih dari 2300 km dari jalur pipa gas sepanjang 2460 km telah selesai. Pipa gas Nord Stream-2 Rusia akan melalui Laut Baltik untuk mengirim gas ke Jerman. Perusahaan Rusia Gazprom adalah pelaksana proyek penting ini dan bersama konsorsium yang terdiri dari perusahaan Perancis, Austria, Belanda, Inggris dan Jerman seperti perusahaan Engie, OMV, Shell, Uniper dan Witershall bertanggung jawab atasi proyek ini.
Rusia eksportir gas terpenting ke negara-negara anggota Uni Eropa. Selain Jerman, Uni Eropa juga menekankan dilanjutkannya proyek ini. Organisasi Eropa ini bukan saja menilai sanksi terhadap proyek pipa gas Nord Stream-2 melanggar kepentingan Eropa, bahkan menilainya sebagai intervensi langsung di urusan internal negara-negara Eropa serta pelanggaran terhadap ketentuan Uni Eropa.
Meski demikian Amerika dengan memanfaatkan instrumen sanksi masih berencana menggunakan kekuatan dan meraih ambisinya di Eropa khususnya melawan peningkatan kehadiran Rusia di pasar gas benua ini. Masalah ini memicu perpecahan lebih besar hubungan antara kedua sisi Samudra Atlantik khususnya Eropa kini menyadari bahwa Washington bukan saja tidak segan-segan menjatuhkan sanksi kepada rival dan musuhnya, bahkan terhadap sekutu dan mitranya demi menjamin kepentingan dan merealisasikan ketamakannya. (MF)