Kegagalan Kebijakan AS terhadap Venezuela
-
Presiden Donald Trump (kiri) dan Presiden Nicolas Maduro.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan permusuhan terhadap Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro. Dia memilih mendukung Juan Guaido, tokoh oposisi Venezuela dan menerapkan sanksi ketat terhadap negara itu.
Namun, langkah itu tidak membuahkan hasil dan membuat Trump kebingungan. Trump dalam wawancara dengan media Axios, mengatakan ia mempertimbangkan untuk bertemu Maduro.
"Saya terbuka untuk bertemu Maduro. Saya tidak percaya pada Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela. Dia telah gagal meskipun mendapat dukungan dari AS dan lusinan negara lain," ujarnya.
Saat ditanya apakah dia menyesal telah mengikuti saran dari mantan penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton tentang Guaido, Trump awalnya berkata, tidak terlalu, tetapi kemudian menegaskan, "Saya bisa hidup dengan itu atau tanpanya, tapi saya menentang keras terhadap apa yang terjadi di Venezuela."
Bolton dalam bukunya menulis, "Trump berpikir Guaido sebagai sosok yang lemah, sementara Maduro orang yang kuat."
Pengakuan Trump ini merupakan bukti atas kegagalan kebijakan AS terhadap Venezuela. Pemerintahan Trump sudah mengambil langkah-langkah serta mengancam Karakas dan juga Presiden Maduro, tetapi secara praktis tidak membawa hasil dan bahkan dukungan terhadap Guaido, tidak memberikan apapun kepada Washington.
Padahal para petinggi Washington sebelum ini berharap banyak kepada Guaido, namun mereka sekarang menyadari bahwa tokoh oposisi ini tidak memiliki legitimasi dan popularitas di tengah rakyat Venezuela. Trump bahkan sudah tidak tertarik kepada Guaido.
Juan Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Venezuela pada 23 Januari 2019 dan langsung memperoleh pengakuan dari AS. Ia mencoba memperoleh kekuasaan lewat dukungan Washington.
AS termasuk salah satu negara pertama yang mendukung oposisi Venezuela dan meminta semua negara mengakui Guaido sebagai presiden sah Venezuela. Para pejabat AS berulang kali menuding Maduro melakukan kecurangan dalam pemilu.
Rival kuat Trump dalam pilpres AS, Joe Biden mengkritik pernyataan Trump mengenai pemerintahan Maduro. "Trump berbicara dengan nada keras tentang Venezuela, tetapi memuji seorang diktator seperti Nicolas Maduro. Sebagai presiden, saya akan berdiri bersama rakyat Venezuela dan untuk demokrasi," tulis Biden di akun Twitter-nya.
AS menelan kegagalan lain dalam kebijakan luar negerinya selama era kepemimpinan Trump. Dia berbicara tentang pertemuan dengan Maduro ketika pemerintahannya terus menekan Venezuela yang sedang berjuang melawan virus Corona.
Dengan senjata sanksi, AS berharap Venezuela akan tertekan dari segala arah yaitu krisis ekonomi dan wabah virus Corona sehingga pemerintahan Maduro ikut terguling.
Trump berpikir bahwa pertemuan semata dengan para pemimpin negara-negara penentang hegemoni AS seperti Venezuela, akan menyebabkan cairnya hubungan kedua pihak. Padahal, pengalaman perundingannya dengan pemimpin Korea Utara menunjukkan bahwa pandangan seperti itu adalah keliru. (RM)