PBB Ikut Mengritik Dampak Negatif Trump terhadap Kebebasan Media
Sejak memasuki Gedung Putih pada 20 Januari 2017, Presiden AS Donald Trump selalu menunjukkan ujung tajam dari serangan verbal terhadap media-media yang mengritisinya. Dari sudut pandang Trump, media adalah pembohong dan aktivis media adalah yang paling curang di dunia, dan itulah sebabnya ia menyerang mereka di setiap kesempatan. Perilaku Trump telah memancing kritik dari PBB.
Pelapor Khusus PBB tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi, David Kaye, pada hari Selasa (14/07/2020) mengritik "dampak negatif dari Donald Trump" pada kebebasan pers dunia, seraya mengutip serangan Gedung Putih terhadap media. Dia menyatakan harapan bahwa dengan kepergian Trump, serangan terhadap jurnalis Amerika akan berkurang.
"Jelas bahwa dalam empat tahun terakhir, Trump telah mengambil pendekatan yang merusak media dan kebebasan berekspresi," kata Kayei.
Pelapor Khusus PBB tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi menggambarkan tindakan Trump dalam hal ini, seperti mengritik insan media, menyebarkan berita palsu tentangnya, dan juga menyatakan bahwa mereka bekerja dengan media konservatif, sebagai contoh serangan terhadap para jurnalis. Ditanya apakah Trump memiliki dampak pada kebebasan pers di seluruh dunia, Kaye mengatakan ia memiliki dampak yang sangat negatif terhadap masalah ini.
Kritik langsung PBB terhadap pendekatan Trump terhadap media menggarisbawahi sifat sebenarnya dari tuduhan kebebasan berekspresi di Barat. Bahkan, Trump, sebagai presiden suatu negara yang mengklaim sebagai negara paling bebas di dunia, hanya percaya pada kebebasan berbicara dan media, yang hanya memuji kebijakan dan tindakannya, dan tidak mentolerir kritik atau protes sekecil apa pun terhadap dirinya atau kebijakan dan tindakannya.
Trump menyebut media yang kritis terhadap pemerintah "media palsu" atau "media berita palsu" dan menuduh mereka berbohong tentangnya, dan percaya bahwa banyak berita yang diterbitkan oleh media itu palsu. Presiden AS yang kontroversial itu dalam tweetnya selalu menuduh media selalu memburukkan tindakan dan posisinya.
Sensitivitas Trump telah tumbuh secara signifikan sejak media Amerika mengekspos kehidupan pribadinya dan kerusakan moral serta berfokus pada isu-isu seperti kritik terhadap kebijakan luar negerinya yang gagal. Trump bahkan telah berurusan langsung dengan wartawan di beberapa kesempatan. Trump telah dituduh oleh banyak surat kabar Amerika karena terus menyerang kebebasan pers.
Pada saat yang sama, Trump selalu berusaha menggambarkan media sebagai permusuhan bagi warga Amerika.
"Media berita palsu, seperti New York Times dan jaringan berita NBC News, ABC, CBS, dan CNN, bukan musuh saya, mereka musuh rakyat AS," tweet Trump. Di sisi lain, Trump, memegang rekor untuk mengadakan konferensi pers, wawancara dengan media yang berafiliasi, dan pertemuan tak terjadwal dengan wartawan, sekalipun pertemuannya dengan media sering penuh dengan kekacauan selama masa kepresidenannya.
Melihat berbagai kasus di mana Trump telah berurusan dengan media yang mengritisinya menunjukkan bahwa ia juga menggunakan strategi biasanya dengan mengintimidasi dan menekan secara luar biasa agar dapat menakuti pihak lawannya dan menerima tuntutannya yang berlebihan. Sekalipun demikian, pendekatan Trump tidak terlalu efektif, dan pers dan media Amerika telah mengambil sikap keras dalam mengritik dan melawan berbagai tindakannya. Pada bulan Agustus 2018, misalnya, sekitar 350 surat kabar dan majalah di seluruh Amerika Serikat mengritik pendekatan Trump untuk menyerang media dalam suatu langkah yang terkoordinasi dengan menerbitkan editorial.
Surat kabar Boston Globe menawarkan untuk menerbitkan editorial yang mengutuk perang Trump terhadap media. Merujuk pada kata-kata yang digunakan oleh Donald Trump terhadap wartawan, surat kabar itu meminta editor pers di seluruh Amerika Serikat untuk menanggapi apa yang disebut "perang kotor terhadap kebebasan media" pada hari tertentu. Fokus semua editorial ini adalah reaksi terhadap pernyataan Trump bahwa "media adalah musuh rakyat."
Reaksi kuat dan terkoordinasi dari pers Amerika, serta kritik keras terhadap perilaku buruk Trump oleh beberapa jaringan berita seperti CNN, menunjukkan bahwa ia tidak memiliki keunggulan dalam berurusan dengan media. Mengenai kebebasan berekspresi, perlakuan Trump terhadap media menunjukkan bahwa ia juga telah menerima umpan balik negatif di tingkat internasional.