Krisis Belarus dan Intervensi Asing
Krisis politik di Belarus masih terus berlanjut, kubu oposisi menuntut penyelenggaraan pilpres ulang di negara ini, sementara negara-negara Barat seraya mengobarkan krisis berencana mengubah kondisi di Belarus demi kepentingan mereka.
Sekaitan dengan ini, negara-negara anggota Uni Eropa, Inggris dan Amerika Serikat merilis statemen bersama kembali mengintervensi urusan internal Belarus dan seraya menuding petinggi negara ini tidak memperhatikan komitmen internasionalnya di bidang HAM dan demokrasi, meminta mereka untuk mematuhi komitmen tersebut.
Pilpres keenam di Belarus digelar 9 Agustus lalu dan berdasarkan hasil yang diumumkan, Alexander Lukashenko meraih lebih dari 80 persen suara dan memenangkan pemilu. Namun setelah pengumuman kemenangan Lukashenko di pemilu, kubu oposisi turun ke jalan-jalan di berbagai kota Belarus memprotes proses penyelenggaraan pemilu serta terlibat bentrokan dengan aparat keamanan.
Selama aksi protes ini, sampai kini ribuan demonstran ditangkap dan ratusan lainnya terluka. Kubu oposisi mengatakan terjadi kecurangan di pemilu. Mereka menuntut penyelenggaraan pemilu ulang. Tak hanya itu, kubu oposisi juga meminta intervensi negara-negara Barat dan penerapan kebijakan menghukum terhadap Belarus. Sekaitan dengan ini para pemimpin Uni Eropa akhirnya menunjukkan tanggapan terhadap pemilu dan aksi protes di Belarus serta berbicara mengenai sanksi terhadap petinggi negara ini.
Svetlana Tikhanouskaya, rival utama Lukashenko di pemilu presiden Belarus dan pemimpin kubu oposisi negara ini meminta Dewan Eropa untuk tidak mengakui secara resmi pemilu presiden yang ia klaim sebagai pemilu palsu dan menghormati pilihan rakyat Belarus.
Seiring dengan eskalasi protes di Belarus, Washington juga mengklaim bahwa pemilu Belarus tidak bebas dan juga tidak adil, serta meminta petinggi negara ini bersedia berunding dengan Dewan Oposiis. Klaim kubu oposisi dan sponsor asing mereka dirilis ketika presiden Belarus menyebut AS dan intervensi asing sebagai faktor krisis di negaranya saat ini. Lukashenko menyatakan bahwa AS tengah mengorganisir dan mengarahkan instabilitas terbaru serta Eropa juga mengekor kepada AS.
Belarus negara penting di kawasan strategis saat ini. Negara ini dari sisi ini memiliki posisi penting yang merupakan benteng terakhir Rusia melawan pergerakan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke arah perbatasan negara ini. Seluruh negara tetangga barat Rusia di Eropa Timur mencakup Polandia dan tiga negara kawasan Laut Baltik sejak lama telah bergabung dengan Barat dan menjadi anggota NATO. Dari sisi ini, pengamat meyakini bahwa protes saat ini di Belarus diorganisir dan diarahkan dari luar serta dikomandoi AS dan sekutunya. Hal ini karena berlanjutnya persatuan Belarus dan Rusia tidak selaras dengan kepentingan dan keamanan Eropa serta NATO. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini saat berunding dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta mereka untuk tidak mengintervensi urusan internal Belarus.
Elisa Bartolazi, pengamat politik Rusia di Italia sekaitan dengan ini mengatakan, Kerusuhan di Belarus lebih seperti revolusi warna daripada demonstrasi independen dari campur tangan asing. Faktanya, revolusi warna sedang terjadi di Belarus, tidak dipimpin oleh satu partai atau kelompok tetapi oleh sumber informasi dari Itu diberi makan di luar negeri dan pemimpin oposisi juga telah melarikan diri dari negara itu dan pergi ke luar negeri. Intinya adalah, setidaknya selama 20 tahun terakhir, CIA selalu berada di balik semua revolusi warna.
Kondisi di Belarus dan eskalasi intervensi asing telah meningkatkan kekhawatiran atas masa depan politik negara ini. Seperti yang diperingatkan Putin bahwa pemain asing berencana mempengaruhi transformasi Belarus, di mana mereka mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan politik mereka sendiri. Di kondisi ini, mulai santer isu mediasi dan berbagai negara menekankan lobi dan penyelesaian friksi melalui perundingan.
Sepertinya solusi friksi di Belarus melalui meja perundingan merupakan opsi terbaik bagi kubu oposisi dan pendukung Lukashenko, meski berlanjutnya intervensi asing masih mengobarkan krisis politik di negara ini. (MF)