Mencermati Eskalasi Manuver Militer yang Semakin Meningkat di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/world-i85109-mencermati_eskalasi_manuver_militer_yang_semakin_meningkat_di_kawasan
Penyelenggaraan berbagai latihan militer tidak hanya mengganggu kedamaian negara yang tinggal di Kaukasus Selatan dan Mediterania Timur, tetapi juga menyebabkan ketidakamanan di wilayah tersebut.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Sep 10, 2020 05:09 Asia/Jakarta
  • Manuver militer Azerbaijan dan Turki
    Manuver militer Azerbaijan dan Turki

Penyelenggaraan berbagai latihan militer tidak hanya mengganggu kedamaian negara yang tinggal di Kaukasus Selatan dan Mediterania Timur, tetapi juga menyebabkan ketidakamanan di wilayah tersebut.

Di wilayah Kaukasus Selatan, setelah berakhirnya latihan militer bersama Republik Azerbaijan dan Turki selama 12 hari, Turki kembali mengadakan latihan di Republik Otonomi Nakhchivan. Menanggapi gerakan militer ini, manuver militer Armenia dan Rusia di dekat perbatasan Turki juga menjadi agenda.

Pada hakikatnya, harus dikatakan bahwa meskipun sejarah masa lalu bangsa-bangsa di wilayah ini menunjukkan kedamaian dan ketenangan yang relatif, mengadakan latihan ini justru mendorong pemerintah di wilayah ini untuk bersaing dalam persenjataan dan menghambur-hamburkan sumber daya keuangan.

Perseteruan Azerbaijan dan Armenia

Jelas, hasil dari pergerakan militer seperti ini adalah untuk menyeret sumber daya manusia dan material dari pemerintah dan negara-negara di kawasan ke perlombaan senjata. Tidak diragukan lagi, hasil nyata dari kenaikan biaya militerisasi adalah keterbelakangan bangsa-bangsa dalam pembangunan dan keamanan yang berkelanjutan. Lebih tepatnya, peningkatan biaya militerisasi akan secara signifikan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama negara berkembang.

Sementara Armenia dan Rusia telah mengadakan latihan dengan kehadiran ribuan pasukan dan peralatan dan senjata militer canggih di dekat perbatasan Turki, Ankara juga mengumumkan bahwa sebagai kelanjutan dari latihan gabungan Turki-Azerbaijan di Republik Otonomi Nakhchivan, pasukan yang berpartisipasi akan menggunakan unit angkatan darat dan udara menyerang posisi musuh imajiner.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Interfax, Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan berbicara tentang dukungan Ankara untuk Baku selama bentrokan baru-baru ini antara Republik Azerbaijan dan Armenia, serta hambatan untuk menyelesaikan konflik Nagorno-Karabakh.

"Kebijakan destabilisasi dan agresi Turki adalah ancaman bagi semua wilayah yang berdekatan dengan negara itu. Hari ini, Turki sedang mencoba untuk mengejar kebijakan destabilisasi di Kaukasus Selatan, dan ini adalah masalah yang sangat memprihatinkan. Turki dengan tindakannya tetap mengancam Armenia. Itulah sebabnya Armenia akan berupaya meningkatkan keamanan perbatasan, termasuk bekerja sama dengan mitranya," ungkap Menlu Armenia.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Armenia menunjukkan bahwa negara tersebut sedang berupaya untuk mengakhiri perselisihan yang telah berlangsung lama dengan Republik Azerbaijan atas kepemilikan wilayah Nagorno-Karabakh, sementara pada saat yang sama berusaha untuk mengurangi pergerakan Turki di wilayah Kaukasus Selatan.

Pada saat yang sama, pemerintah Turki berusaha mencegah Yunani kembali ke jalur pembangunan ekonomi dan eksplorasi minyak dan gas dengan mengadakan latihan militer di Mediterania timur. Sehubungan dengan hal ini, Menteri Luar Negeri Turki, dalam menanggapi klaim mitranya dari Yunani bahwa amunisi asli digunakan dalam latihan Mediterania Timur, mengatakan, "Latihan Turki dilakukan dalam kerangka Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO)."

Menyusul ketegangan verbal ini, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyatakan, "Turki dan Yunani telah mengadakan pembicaraan teknis tentang krisis Mediterania Timur, tetapi pejabat NATO ini mengungkapkan bahwa kedua negara telah gagal mencapai kesepakatan."

Sekaitan dengan hal ini, Arslan Bulut, seorang penulis dan pakar politik Turki mengatakan, "“Masalah kedua negara memiliki sejarah yang panjang dan hubungan kedua negara selalu dalam krisis. Namun belakangan ini, meskipun Yunani tidak memiliki perbatasan laut di Mediterania timur, telah keluar untuk mendukung Republik Siprus dan berusaha menerapkan tekanan terhadap Ankara untuk mencegah kemajuan program Turki di kawasan ini. Yunani tampaknya telah membentuk koalisi melawan Turki, di satu sisi, berusaha menarik dukungan Mesir dan rezim Zionis, dan di sisi lain, Uni Eropa dan Amerika Serikat, Mereka ingin membatasi Turki dalam batas perairannya tidak biarkan negara ini beroperasi di perairan bebas."

Ketegangan baru antara Turki dan Yunani

Ringkasnya, dari berbagai latihan militer yang diadakan oleh negara-negara yang bertikai di Kaukasus Selatan dan Mediterania Timur, dapat disimpulkan bahwa latihan-latihan ini dapat menjadi faktor provokatif dalam mempromosikan kekerasan dan ketidakpercayaan di antara pemerintah di wilayah tersebut.

Pada saat yang sama, tidak ada keraguan bahwa menciptakan kawasan dengan cara pandang keamanan lebih menguntungkan kepentingan negara-negara asing dan di luar kawasan, dan pemerintah dan negara-negara kawasan yang tidak boleh membiarkan nasib mereka ditentukan oleh pihak asing. Negara-negara yang sangat diuntungkan dari situasi yang tidak stabil ini.