Amerika Tinjauan dari Dalam, 10 Oktober 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i86118-amerika_tinjauan_dari_dalam_10_oktober_2020
Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai 26 negara menuntut pencabutan sanksi AS di tengah pandemi.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 10, 2020 20:04 Asia/Jakarta
  • PBB
    PBB

Dinamika Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai 26 negara menuntut pencabutan sanksi AS di tengah pandemi.

Isu lain tentang penolakan jerman terhadap kebijakan tekanan maksimum AS, dua satelit AS gagal mencapai orbit, pembunuh Floyd dibebaskan, dan Pentagon mengkonfirmasi jatuhnya drone AS di Suriah.

 

Gedung Putih

 

26 Negara Tuntut Pencabutan Sanksi AS di Tengah Pandemi

Sebanyak 26 negara dunia termasuk Republik Islam Iran, Suriah, Rusia, Cina, dan Irak mengumumkan sanksi ekonomi Amerika Serikat dan beberapa negara Barat terhadap negara-negara independen dunia, menjadi hambatan terbesar dalam melawan penyebaran Virus Corona, dan mereka menuntut pencabutannya.

Pernyataan bersama 26 negara ini dibacakan pada hari Senin (5/10) di sidang ketiga Majelis Umum PBB terkait hak asasi manusia oleh wakil dari Cina.

Ke-26 negara termasuk 9 negara Afrika ditambah Korea Utara, dan Belarus menegaskan, negara-negara yang menjatuhkan sanksi dengan melanggar HAM, telah menjadi hambatan terbesar bagi perang melawan wabah Covid-19.

Ditegaskannya, solidaritas global, dan kerja sama internasional sangat diperlukan untuk menghadapi pandemi ini.

Sanksi sepihak, dan menindas yang dilakukan Amerika yang meliputi barang kebutuhan pokok, bahkan obat-obatan dan keperluan medis, menyebabkan munculnya berbagai masalah bagi rakyat negara-negara yang disanksi Washington terutama mereka yang terpapar Covid-19.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif baru-baru ini memprotes kebijakan permusuhan Amerika di tengah pandemi global Corona dan mengatakan, dunia tidak bisa lagi diam menyaksikan terorisme ekonomi Amerika yang terhubung dengan terorisme medis.

 

 

 

Jerman Tolak Bergabung dengan Kebijakan Tekanan Maksimum AS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman, mengkritik pendekatan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Maria Adebahr dalam konferensi pers di Berlin, Jumat (9/10/2020) menanggapi sanksi baru Washington terhadap Tehran.

"Sanksi ini akan membuat pengiriman barang-barang kemanusiaan ke Iran menjadi lebih rumit dari sebelumnya," ujarnya.

Adebahr menegaskan Jerman menentang pendekatan sanksi AS terhadap Iran dan Berlin tidak akan terlibat dalam kebijakan tekanan maksimum Washington terhadap Tehran.

"Saluran kemanusiaan untuk perdagangan dengan Tehran di tengah krisis wabah Corona saat ini, benar-benar sangat penting,"

Departemen Keuangan AS pada Kamis kemarin, menjatuhkan sanksi terhadap 18 bank dan lembaga keuangan Iran.

Sanksi sepihak ini mencakup bahan-bahan pokok dan bahkan obat-obatan dan peralatan medis, yang akan menciptakan banyak masalah bagi warga Iran khususnya pasien Corona.

 

Donald Trump

 

Trump Kehilangan Kepercayaan Publik dalam Menangani Covid-19

Warga Amerika terus kehilangan kepercayaan kepada Presiden Donald Trump dalam menangani pandemi virus Corona.

Menurut jajak pendapat baru yang dilakukan Reuters dan Ipsos, 37% orang dewasa Amerika menyetujui penanganan pandemi Corona oleh Trump dan 59% tidak setuju.

Jajak pendapat ini dilakukan dari hari Selasa hingga Kamis (8/10/2020) setelah Trump terinfeksi Covid-19 dan dirawat di rumah sakit.

Kinerja Trump dalam menangani virus Corona di AS telah meningkatkan kekecewaan publik terhadap dirinya menjelang pelaksanaan pemilu November.

Trump terus meremehkan bahaya penularan virus Corona bahkan setelah ia tertular virus ini. Dia juga dikecam oleh publik karena menyebarkan informasi yang salah tentang Covid-19.

Berdasarkan data resmi, kasus penularan virus Corona di AS telah mencapai 7.834.289 kasus dan dari jumlah ini, 217.750 orang meninggal dunia karena Covid-19.

 

Dua Satelit AS Gagal Mencapai Orbit

Dua satelit Amerika Serikat dilaporkan gagal mencapai orbit setelah diluncurkan menggunakan roket Vega.

Pada Jumat (9/10/2020), dua satelit AS gagal memasuki orbit bumi karena "situasi abnormal" yang terjadi pada roket Vega.

Setelah diluncurkan, dua satelit Lemur-2 AS gagal terpisah dari kontainer yang dipasang pada tahap keempat roket Vega sehingga tidak memasuki orbit.

Roket Vega yang diluncurkan dari Pusat Antariksa Guyana, Prancis bulan lalu membawa 53 satelit, delapan di antaranya dibuat di AS. Dua satelit AS gagal meninggalkan kontainernya.

 

 

Pembunuh Floyd Dibebaskan

Perwira polisi yang membunuh George Floyd, warga kulit hitam Amerika dilaporkan dibebaskan dari penjara dengan uang jaminan.

Associated Press melaporkan, mantan perwira polisi Amerika ini Rabu (7/10/2020) pagi waktu setempat dibebaskan dari penjara negara bagian Minesotta dengan uang jaminan sebesar satu juta dolar.

Derek Chauvin, 31 Mei 2020 dijebloskan ke penjara dengan dakwaan membunuh George Floyd.Chauvin Senin 25 Mei 2020 secara sadis membunuh George Floyd di kota Minneapolis, negara bagian Minnesota.

Berdasarkan video yang beredar di jejaring sosial Amerika, polisi kulit putih ini menekan leher Floyd di tahan hingga kehabisan nafas dan meninggal dunia.

Aksi ini dilakukan ketika Floyd berteriak, Saya tidak bisa bernafas, Beri Aku Air dan Jangan Bunuh Saya.

Kejahatan ini telah membangkitkan kemarahan rakyat Amerika. Polisi dan dinas keamanan Amerika atas instruksi Presiden Donald Trump menumpas para demonstran.

Selama aksi protes beberapa pekan terakhis di Amerika, ribuan orang dilaporkan cidera dan ditangkap.

 

Pentagon

 

Pentagon Konfirmasi Jatuhnya Drone AS di Suriah

Seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon mengkonfirmasi jatuhnya pesawat tanpa awak negara itu di utara Suriah.

Pentagon, Senin (5/10) mengkonfirmasi laporan-laporan terkait jatuhnya satu unit drone mata-mata Amerika di Suriah.

 Dalam wawancara dengan Voice of America, pejabat Pentagon itu menuturkan, sebuah drone militer Amerika, Kamis pekan lalu jatuh di salah satu wilayah yang dikuasai pasukan koalisi internasional anti-Daesh, karena hilang kendali.

Pejabat Pentagon itu mengklaim, drone ini tidak ditembak jatuh oleh musuh.

Surat kabar Al Watan sebelumnya mengutip saksi mata di utara Suriah mengabarkan jatuhnya sebuah drone militer Amerika di Provinsi Hasakah.

Menurut sumber itu, drone mata-mata Amerika tersebut jatuh di desa Al Dardara, Rif, Tall Tamr, Provinsi Hasakah, dan kendaraan-kendaraan lapis baja Amerika berusaha menemukan bangkai pesawat. (PH)