Amerika Tinjauan dari Dalam, 24 April 2021
https://parstoday.ir/id/news/world-i95748-amerika_tinjauan_dari_dalam_24_april_2021
Perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai dengan beberapa isu penting termasuk penolakan para Jenderal AS atas keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 24, 2021 19:45 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS.
    Pasukan AS.

Perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai dengan beberapa isu penting termasuk penolakan para Jenderal AS atas keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan.

Keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik semua pasukan AS dari Afghanistan dianggap tidak sejalan dengan rekomendasi para komandan senior militer AS.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Minggu (18/4/2021), para komandan militer AS menentang keputusan Presiden Biden untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan, dengan alasan hal itu dapat merusak keamanan di negara tersebut.

Komandan Pasukan AS di Asia Barat, Frank McKenzie, Komandan Pasukan AS dan NATO di Afghanistan, Austin Miller, dan Kepala Staf Gabungan Mark Milley, tetap merekomendasikan perlunya mempertahankan 2.500 tentara Amerika di Afghanistan.

Padahal, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dalam wawancara dengan CNN pada hari Minggu, mengatakan ia tidak khawatir pemerintah akan jatuh ke tangan Taliban pasca penarikan pasukan AS atau NATO.

"Dalam dua tahun terakhir, pasukan keamanan dan polisi Afghanistan telah melakukan lebih dari 95 persen operasi," tambahnya.

Berdasarkan keputusan pemerintahan Biden, penarikan pasukan AS akan dimulai pada awal Mei dan berakhir pada 11 September 2021. Penarikan ini akan dilakukan bersamaan dengan pasukan NATO.

AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada 2001 dengan dalih memerangi terorisme dan menciptakan keamanan, tetapi kekacauan, terorisme, dan produksi opium di Afghanistan terus meningkat sampai sekarang.

Kasus Penembakan Massal di AS Meningkat pada 2021

Gun Violence Archive (GVA) menyatakan bahwa 150 kasus penembakan mematikan tercatat di Amerika Serikat hanya dalam 108 hari tahun ini.

Seperti dilansir IRNA, organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, GVA dalam sebuah tweet, Senin (19/4/2021) menulis, "Dalam beberapa hari dan minggu terakhir, gelombang kekerasan bersenjata telah meningkat, mulai dari pembunuhan warga sipil oleh polisi hingga kekerasan bersenjata di tempat umum oleh warga Amerika yang membawa senjata api."

34 kasus penembakan fatal terjadi di AS pada Januari 2021, 40 kasus pada Februari, 45 kasus pada Maret, dan 31 kasus pada April.

Menurut definisi GVA, penembakan mematikan adalah sebuah insiden yang menewaskan atau melukai empat orang atau lebih, tidak termasuk si penembak.

Dua kasus penembakan di Wisconsin dan Texas saja telah menewaskan enam orang pada hari Minggu.

Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa ia sangat menginginkan larangan membawa senjata serbu.

Meski mengkritik peningkatan kekerasan senjata api di AS, namun pemerintah Biden belum mengambil tindakan tegas untuk membatasi penggunaan senjata.

Toko senjata api di Amerika Serikat.

Aksi Penembakan di Supermarket New York

Penembakan kembali terjadi di sebuah supermarket di pinggiran New York, Amerika Serikat kemarin.

US News Rabu melaporkan, penembakan terjadi di sebuah supermarket di West Hempstead, Long Island, timur Kota New York, pada Selasa (20/4/2021).

Insiden ini menewaskan satu orang dan melukai dua orang lainnya.

Polisi New York berhasil menangkap seorang tersangka bersenjata sekitar empat jam setelah insiden penembakan tersebut.

Selain itu, polisi juga menutup jalan-jalan di sekitar kompleks apartemen Long Island sebelum menangkap tersangka yang diidentifikasi bernama Gabriel DeWitt Wilson.

Amerika Serikat sedang menghadapi gelombang kekerasan, penyanderaan, dan serangan bersenjata yang terus meningkat dari sebelumnya.

Ribuan orang terbunuh maupun terluka setiap tahun dalam aksi penembakan di seluruh Amerika Serikat.

Menurut laporan resmi, ada sekitar 270 hingga 300 juta pucuk senjata api di Amerika Serikat, yang menunjukkan hampir satu senjata per orang di negara ini.

Pembunuh George Floyd Divonis Bersalah

Derek Chauvin, mantan perwira polisi Minneapolis divonis bersalah atas pembunuhan George Floyd.

Sidang yang digelar Selasa (20/4/2021) belum memutuskan hukuman bagi Chauvin.

Hakim Peter Cahill mengatakan vonis hukuman bagi pria 45 tahun itu akan diputus pengadilan dalam waktu setidaknya delapan minggu ke depan.

Chauvin didakwa atas kematian Floyd pada 25 Mei 2020 karena mencekik leher pria kulit hitam tersebut hingga sesak napas dan meninggal dunia.

Chauvin didakwa atas tiga pasal yakni pembunuhan tingkat dua, pembunuhan tingkat tiga, dan pembantaian setelah hakim mempertimbangkan kesaksian dari 45 orang.

Selain Chauvin, tiga petugas lainnya yang turut menyaksikan insiden itu turut menghadapi dakwaan atas kematian Floyd. Para polisi itu diperkirakan akan diadili bersama pada Agustus mendatang.

George Floyd adalah warga negara kulit hitam Minnesota yang menjadi korban kebrutalan seorang perwira kulit putih Amerika pada 25 Mei 2020.

Diperkirakan sekitar 1.200 orang dibunuh oleh petugas polisi di Amerika Serikat setiap tahun, tetapi sekitar 99 persen dari petugas ini tidak dituduh melakukan kejahatan apa pun.

AS Menyambut Hasil Perundingan tidak Langsung dengan Iran

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan mengatakan kemajuan telah dicapai dalam pembicaraan tidak langsung dengan Iran.

Sullivan dalam wawancara dengan CNN, Rabu (21/4/2021), mengaku optimis atas pembicaraan yang berlangsung di Wina antara Iran dan kelompok 4+1 serta pembicaraan tidak langsung dengan delegasi Amerika.

“Kami telah membuat kemajuan, tetapi masih ada perbedaan yang perlu diselesaikan, namun pada akhirnya AS berkomitmen untuk kembali ke kesepakatan nuklir Iran atas dasar kepatuhan bersama,” ujarnya.

Sullivan mengklaim bahwa Iran sudah jauh meninggalkan komitmen kesepakatan nuklir.

“Masalah umum dan mendasar adalah sanksi apa yang akan dicabut dan sebagai imbalannya, Iran akan menerima pembatasan apa saja di bidang nuklir,” tambahnya.

Pemerintah AS secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 8 Mei 2018 meskipun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang kali mengakui kepatuhan Tehran atas semua kewajibannya.

Sullivan: Pembicaraan Tak Langsung AS-Iran Capai Kemajuan

Penasihat keamanan nasional pemerintah Amerika Serikat, Jake Sullivan mengumumkan, AS dalam dialog tidak langsung dengan Iran mencapai sejumlah kemajuan, dan Washington akan kembali ke perjanjian nuklir JCPOA dengan prinsip "kepatuhan untuk kepatuhan".

Dalam wawancara dengan stasiun televisi CNN, Rabu (21/4/2021), Jake Sullivan menjelaskan kondisi perundingan terbaru di Wina antara Iran dan Kelompok 4+1, serta dialog tak langsung dengan delegasi AS.

Saat ditanya terkait masalah Iran, apakah sudah disampaikan secara terbuka di hadapan publik siapa yang harus terlebih dahulu kembali ke JCPOA, sementara seluruh dunia percaya AS yang keluar dari JCPOA, dan ia yang harus lebih dahulu kembali.

Sullivan menjawab, "Di Wina Iran dan Kelompok 4+1 melakukan perundingan langsung, sementara dengan AS, tidak langsung. Kami sudah membicarakan dengan mereka soal dua masalah, penerapan pembatasan nuklir yang harus diterima Iran, dan pencabutan sanksi yang menjadi dampaknya."

Ia menambahkan, "Kami sudah mencapai sejumlah kemajuan, namun friksi masih tetap ada dan harus diselesaikan, pada akhirnya AS berkomitmen untuk kembali ke JCPOA dengan prinsip 'kepatuhan untuk kepatuhan' yang sudah kami umumkan sebelumnya."

Penjualan Senjata Api di Amerika Catat Rekor Baru

Penjualan senjata api di Amerika Serikat mencatat rekor baru pada kuartal pertama 2021.

Seperti dikutip Klub Jurnalis Muda Iran (YJC) dari Reuters, Jumat (23/4/2021), orang Amerika membeli 5,5 juta pucuk senjata api pada kuartal pertama 2021 atau naik 13 persen dari tahun 2020, dan tercatat sebagai penjualan tertinggi sejak 1999.

Naiknya penjualan senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika pada 2021 dipicu oleh kekhawatiran akibat pandemi Corona, kekerasan rasial, kerusuhan sosial, dan insiden penembakan mematikan baru-baru ini.

Berdasarkan laporan resmi, sekitar 270-300 juta senjata api beredar di Amerika atau hampir setiap warga sipil menguasai satu pucuk senjata.

Ribuan orang tewas atau terluka setiap tahun akibat kekerasan bersenjata di berbagai kota di AS. Namun, lobi-lobi senjata begitu kuat sehingga Kongres AS gagal mengambil tindakan untuk memperketat aturan membawa senjata api.

Drone buatan Iran

Pengakuan AS atas Kekuatan Drone Iran

Komandan Pusat Komando Militer Amerika Serikat di Timur Tengah CENTCOM, Jenderal Kenneth McKenzie mengakui kekuatan pesawat tanpa awak Iran telah menyebabkan AS kehilangan dominasi dan keunggulan udaranya di kawasan Asia Barat.

Kenneth McKenzie dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Angkatan Bersenjata DPR Amerika Serikat menjelaskan, Iran dengan menggunakan berbagai jenis drone kecil dan menengah, telah merusak keunggulan udara AS di kawasan Asia Barat.

Ia mengakui kekuatan drone Iran telah menyebabkan AS untuk pertama kalinya sejak Perang Korea beroperasi tanpa superioritas udara penuh.

Menurut McKenzie, jauh lebih sulit untuk berhadapan dengan drone-drone kecil yang dijual bebas, dan dimodifikasi.

Saat ditanya soal superioritas udara yang dimaksudnya, Jenderal McKenzie menuturkan, "Penggunaan luas Iran atas drone-drone kecil dan menengah untuk operasi identifikasi dan agresi berarti bahwa untuk pertama kalinya sejak Perang Korea awal dekade 50-an, AS melaksanakan operasi udara tanpa superioritas udara penuh."

Komandan CENTCOM menegaskan, "Selama kita tidak mampu memproduksi jaringan untuk mengidentifikasi dan menghancurkan sistem drone Iran, maka kita tidak akan pernah memiliki superioritas udara penuh."

Pengakuan jenderal AS atas kekuatan drone Iran pada kenyataannya kembali membuktikan bahwa di tengah semua propaganda media Barat yang menyebutkan bahwa Iran melemah karena penerapan kebijakan tekanan maksimum di masa Presiden Donald Trump, namun Tehran ternyata berhasil membangun pasukan drone besar dengan bersandar pada kapasitas serta kemampuan serta ilmuwan dalam negeri, dan merusak superioritas udara AS di kawasan.

Realitasnya drone-drone Iran selain berhasil melancarkan berbagai operasi identifikasi terhadap peralatan militer dan pasukan AS di kawasan, pada saat diperlukan juga melakukan serangan dan agresi, sehingga membuat AS tercengang.

Dalam Pedoman Keamanan Nasional Strategis Interim AS atau INSSG yang dirilis Presiden Joe Biden pada 3 Maret 2021 ditekankan bahwa Iran sebagai pemain regional berusaha meraih kemampuan dan teknologi yang dapat mengubah aturan permainan.

Apa yang dimaksud Washington adalah prestasi-prestasi menonjol Iran di bidang teknologi drone, rudal dan nuklir yang mendapat reaksi negatif AS karena urgensitasnya yang terus meningkat dalam kekuatan militer dan industri negara dunia.

Iran dalam beberapa tahun terakhir melakukan sejumlah banyak langkah untuk mengembangkan berbagai jenis drone, dan penggunaan efektif drone-drone tersebut di arena operasi.

Peneliti di The Washington Institute, Michael Knights mengatakan, pengguna drone-drone tercanggih adalah Iran dan kelompok-kelompok dukungannya termasuk Ansarullah Yaman yang menjadi ancaman serius bagi Israel.

Kemajuan yang dicapai Iran di bidang pertahanan dan persenjataan terutama di bidang drone diakui oleh kawan dan lawan. Iran sekarang termasuk dari segelintir negara dunia yang mengalami kemajuan signifikan di bidang desain, pengembangan dan produksi berbagai jenis drone.

Masalah ini dengan memperhatikan kegunaan drone yang terus meningkat di berbagai bidang seperti perang darat, udara dan laut, juga perannya di banyak bidang non-militer, menjadi masalah yang sangat penting.

Sekarang Iran mampu mendesain dan memproduksi serta mengoperasikan secara luas mulai dari drone-drone kecil hingga yang sangat besar serta mengelola berbagai jenis tenaga penggerak baling-baling dan jet.

Drone-drone ini mampu melakukan banyak tugas termasuk identifikasi, tempur, mata-mata, serangan bunuh diri, patroli, dan tugas yang lain.

Statemen Komandan CENTCOM jelas menunjukkan kekhawatiran serius Washington atas kekuatan drone Iran, dan dampak negatifnya terhadap superioritas udara AS di kawasan. (RA)