Pesan Rahbar di Khutbah Idul Fitri
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i40372-pesan_rahbar_di_khutbah_idul_fitri
Rakyat Muslim Iran setelah berpuasa selama satu bulan penuh, hari Senin (26/6) menunaikan shalat Idul Fitri di di Mushalla Besar Imam Khomeini di Tehran yang diimami oleh Ayatullah Ali Khamenei, rahbar atau pemimpin besar Revolusi Islam. Di hari raya besar dan hari raya setelah satu bulan berpuasa serta ketaatan kepada Allah Swt, rakyat Iran baik di desa maupun kota menunaikan shalat Idul Fitri sesuai dengan perintah Tuhan sunnah Rasulullah Saw.
(last modified 2026-02-27T10:04:47+00:00 )
Jul 02, 2017 09:32 Asia/Jakarta

Rakyat Muslim Iran setelah berpuasa selama satu bulan penuh, hari Senin (26/6) menunaikan shalat Idul Fitri di di Mushalla Besar Imam Khomeini di Tehran yang diimami oleh Ayatullah Ali Khamenei, rahbar atau pemimpin besar Revolusi Islam. Di hari raya besar dan hari raya setelah satu bulan berpuasa serta ketaatan kepada Allah Swt, rakyat Iran baik di desa maupun kota menunaikan shalat Idul Fitri sesuai dengan perintah Tuhan sunnah Rasulullah Saw.

Perkumpulan rakyat yang paling meriah untuk menunaikan shalat Idul Fitri di Iran, berkaitan dengan shalat Ied di Musallah besar Imam Khomeini di Tehran yang setiap tahunnya diimami oleh Ayatullah Khamenei. Rahbar di khutbah pertamanya menjelaskan tuntunan moral dan spiritual dan di khutbah kedua menjelaskan poin-poin penting isu umat Islam.

 

Rahbar seraya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada seluruh umat Islam dan rakyat Iran, juga mengucapkan selamat kepada mereka yang berpuasa dan suskes keluar dari ujian Ilahi ini. Ayatullah Khamenei menilai bulan Ramadhan tahun ini sebagai bulan penuh berkah bagi bangsa Iran. Beliau berkata, “Tahun ini, alhamdulillah, bulan Ramadhan benar-benar penuh berkah bagi bangsa Iran. Apa yang kita saksikan dari dekat; masyarakat telah menunjukkan tanda-tanda tawassul dan takarrub dalam perilaku serta dalam berbagai acara mereka, dan telah melakukan berbagai ritual ibadah dan layanan. Suasana bulan Ramadhan benar-benar bernuansa maknawi, takarrub dan tawassul yang sebenarnya.”

 

Beliau menambahkan, “Berpuasa di hari-hari yang panas dan panjang itu sendiri merupakan sebuah maknawiyah, tanda keagungan jiwa dan ini semua dapat dirasakan di semua bagian negara, di titik-titik dengan suhu sangat panas; semua mengetahui para pemuda, laki-laki dan perempuan yang berpuasa.”

 

Menurut Rahbar, Jamuan iftar di masjid-masjid dan di jalan-jalan; sebuah tradisi yang telah digalakkan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu jamuan iftar sederhana baik di masjid-masjid, gang-gang atau di jalan-jalan, merupakan sebuah tradisi yang baik dan tahun ini alhamdulillah tetap berlangsung.

 

Rahbar juga menyinggung perbuatan baik rakyat Iran selama bulan suci Ramadhan termasuk bantuan membebaskan para tahanan yang terlibat kejahatan tak disengaja dan bantuan pengobatan bagi pasien yang membutuhkan. Ayatullah Khamenei berkata, “Bantuan untuk pembebasan para tahanan tindak kejahatan tidak disengaja dan mereka yang membutuhkan bantuan finansial, biaya pengobatan; banyak warga yang membantu, ini semua juga telah dilakukan. Bulan Ramadhan yang berpengaruh demikian bagi masyarakat, adalah bulan berkah dalam makna sejatinya.”

 

Di bagian lain khutbah pertamanya Ayatullah Khamenei mengisyaratkan tawassul  dan permohonan rakyat Iran di malam-malam lailatul qadar dan mengatakan, “Air mata yang berlinang di wajah, ratapan dan hati yang tertuju pada Dzat Yang Maha Suci, itu semua sangat bernilai. Itu semua yang memperkokoh pondasi maknawi sebuah bangsa dan akan membantunya melalui jalan-jalan sulit.”

 

Rahbar juga mengisyaratkan pawai akbar di hari Quds sedunia di akhir Jumat bulan suci Ramadhan dan mengungkapkan, “Pawai akbar Hari Quds, dengan gegap dan keagungan, di cuaca panas dan di hari-hari terpanjang dalam setahun, masyarakat turun ke jalan-jalan, sebagian mereka bahkan bersama anak-anak, berpawai di jalan-jalan. Gerakan besar masyarakat ini sejatinya merupakan suatu pekerjaan besar, yang memiliki simbol dan historis; ini semua akan tercatat dalam sejarah sebagai kebanggaan sebuah bangsa.”

 

Di akhir khutbah pertama shalat Ied, Rahbar mengajak seluruh rakyat Iran menjaga khazanah yang diraih selama bulan suci Ramadhan. “Apa yang kalian dapatkan pada bulan ini adalah khazanah Allah Swt untuk kalian, simpanlah itu semua. Jagalah khazanah tersebut. Peliharalah khazanah tersebut dengan melanjutkannya. Jangan tinggalkan tilawah Al-Quran, kekhusyukan dalam shalat harus selalu diperhatikan, ini semua harus dijaga. Bulan ini adalah latihan penghematan, latihan fokus terhadap Allah Swt, manfaatkan latihan ini semaksimal mungkin, simpanlah khazanah ini untuk kalian, Insyaallah keridhaan dan rahmat Allah Swt akan meliputi kalian semua,” ungkap Rahbar.

 

Berdasarkan hadis dan riwayat, prestasi selama bulan Ramadhan seperti penyerahan diri, tawadhu terhadap Tuhan Swt, mengurangi dosa, mematahkan shahwat dan kesiapan untuk beribadah harus kita pertahankan. Ayatullah Javadi Amoli, salah satu ulama besar Syiah dan ahli tafsir al-Quran terkait hal ini mengatakan, “Tugas terpenting kita setelah bulan suci Ramadhan adalah menjaga hasil dan buah dari bulan suci ini, seperti yang diperintahkan Tuhan kepada kita untuk menjaga shalat kita حافِظُوا عَلَی الصَّلَواتِ (Peliharalah semua shalatmu) dan hal ini juga berlaku untuk puasa.”

 

Jika di al-Quran diperintahakan, peliharalah shalatmu, maka perintah ini tidak hanya terbatas pada shalat, tapi peliharalah ibadah kalian di mana ibadah tersebut memiliki pengaruhnya sendiri, namun mengingat shalat adalah tiang agama, maka ayat ini menyebutkan Peliharalah semua shalatmu, jika tidak, puasa juga akan diperintahkan serupa. Kita harus memelihara puasa kita dan menjaganya.

 

Ayatullah Javadi Amoli seraya menekankan pentingnya kontinyuitas dalam berdoa dan munajat pasca bulan Ramadhan mengakui, “Selama bulan suci Ramadhan, terlepas berpuasa, kita juga berdoa. Ini adalah pendidikan doa, doa sebuah dasar! Di bulan Ramadhan sangat dianjutkan untuk berdoa dan munajat, karena doa adalah ibadah dan sebuah saham yang menentukan. Berdialog dengan Tuhan dan memohon kepada-Nya serta mendapat jawaban dari-Nya, maka saya katakan bahwa menjaga bulan Ramadhan adalah menjaga doa-doa tersebut.”

 

Sementara itu, di khutbah kedua Idul Fitri, Ayatullah Khamenei membahas berbagai isu-isu penting nasional serta dunia Islam dan regional. Rahbar mengatakan, “Agar bangsa Iran jaya di mana telah melakukan hal-hal besar, berbahagialah, pupuklah harapan dalam hati kalian; kalian telah melakukan hal-hal besar.”

 

Rahbar menambahkan, “Di bulan penuh berkah dan tidak lama sebelum bulan Ramadhan, pertama kalian telah berhasil menunjukkan kepada dunia pemilu secara megah dan besar; itu adalah prestasi besar. Kedua, pada pawai akbar Hari Quds, yang merupakan prestasi sangat besar. Serangan tegas IRGC (Korps Garda Revolusi Islam Iran) kepada musuh, merupakan prestasi besar.”

 

Rahbar menyebut hal-hal ini sebagai khazanah sosial bangsa Iran yang serupa dengan khazana maknawi yang diraih selama bulan suci Ramadhan dan harus dijaga. “Capaian-capaian individu, maknawi dan ibadah kita adalah khazanah maknawi kita; itu semua adalah khazanah sosial kita; khazanah-khazanah tersebut harus dijaga. Menjaga khazanah ini terkait dengan pemeliharaan persatuan oleh masyarakat, menjaga persatuan dalam masyarakat, menjaga tekad-tekad revolusioner mereka, dan menjaga gerakan dalam mengacu tujuan serta cita-cita revolusi di hati mereka sebagai sebuah tujuan mulia,” papar Rahbar.

 

Terkait pentingnya perhatian di bidang budaya, Rahbar di khutbah Idul Fitri mengatakan, “Kita memiliki banyak celah kerusakan dalam budaya; titik-titik infiltrasi musuh dari sisi budaya. Ini harus dilakukan oleh para pejabat pemerintah dan juga oleh masyarakat umum.”

 

Rahbar sebelumnya saat berpidato di depan para mahasiswa menyebut pemuda sebagai perwira perang lunak dan menekankan mengingat adanya sejumlah kelemahan di lembaga budaya, pemuda harus saat berada di medan budaya harus memiliki Atash beh Ekhtiyar. Istilah Atash beh Ekhtiyar berarti tugas-tudas budaya spontan dan bersih; maknanya adalah bahwa para pemuda dan para pemikir, orang-orang yang memiliki animo, mereka dengan inisiatif mereka sendiri, melakukan tugas-tugas budaya tersebut, mendeteksi titik penyusupan budaya dan melakukan sesuatu dalam mengantisipasinya.

 

Atash beh Ekhtiyar bukan berarti ketidakteraturan, sikap kasar dan menyoal para pengklaim perspektif nihil atau gerakan-gerakan revolusioner negara. Elemen-elemen revolusioner harus lebih menjaga ketertiban negara, menjaga ketenangan negara, menjaga agar musuh tidak memanfaatkan kondisi negara serta menjaga peraturan; kehati-hatian ini pada tahap awal ditujukan kepada elemen-elemen revolusioner yang peduli, perhatian dan ingin agar negara bergerak mengacu tujuannya.

 

Sementara itu, terkait isu-isu dunia Islam, Rahbar mengatakan, “Terkait masalah-masalah dunia Islam harus kami katakan bahwa terdapat banyak luka pada tubuh umat Islam; krisis Yaman, telah meninggalkan luka menganga pada tubuh Islam; krisis Bahrain juga demikian; dan begitu juga dengan berbagai krisis di berbagai negara Islam. Dunia Islam harus dengan tegas mendukung rakyat Yaman serta menyatakan berlepas tangan dan membenci para kaum zalim dan penjahat yang mengagresi rakyat Yaman di bulan Ramadhan, di bulan penuh berkah, mereka harus mendukung rakyat Yaman, Bahrain dan Kashmir.”

 

“Bangsa kita dapat menjadi pendorong gerakan besar dunia Islam ini; sebagaimana kami telah mengumumkan dengan tegas sikap-sikap kami terhadap kawan, musuh dan penentang kami, dunia Islam [juga]—khususnya para cendikiawan, khususnya para ulama dunia Islam—harus mengikuti cara yang sama, menunjukkan sikap tegas dan agar Allah Swt meridhai mereka, meski orang lain dan kaum taghut tidak suka,” tegas Rahbar.

 

Di akhir khutbanya Rahbar berdoa, Ya Allah! Demi Muhammad dan keluarga Muhammad perbanyaklah limpahan taufik-Mu bagi umat Islam. Ya Allah! Demi Muhammad dan keluarga Muhammad buatlah kami semakin mengenali tugas-tugas kami.