Perjuangan Politik Syahid Ayatullah Modarres
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i64738-perjuangan_politik_syahid_ayatullah_modarres
Dalam sejarah Iran, para ulama memainkan peran besar dalam memperjuangkan kebenaran dan kebebasan masyarakat, dan mereka kadang harus kehilangan nyawanya di jalan ini.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 28, 2018 17:17 Asia/Jakarta
  • Syahid Ayatullah Sayid Hassan Modarres.
    Syahid Ayatullah Sayid Hassan Modarres.

Dalam sejarah Iran, para ulama memainkan peran besar dalam memperjuangkan kebenaran dan kebebasan masyarakat, dan mereka kadang harus kehilangan nyawanya di jalan ini.

Setelah kaum imperialis tiba di Iran, penentangan dan perjuangan para ulama terhadap mereka dan anteknya di dalam negeri semakin membara dan ulama memimpin sebagian dari perlawanan anti-despotisme dan imperialisme.

Syahid Ayatullah Sayid Hassan Modarres adalah salah satu ulama besar yang dengan kekuatan dan keberanian bangkit menentang kezaliman dan imperialisme asing sampai gugur syahid. Ia adalah seorang ulama hakiki, berwawasan, dan visioner yang tidak pernah diam ketika melihat kezaliman dan penindasan. Ia menghabiskan seluruh umurnya untuk memerangi musuh-musuh Islam dan bangsa Iran.

Untuk mengenang perjuangan anti-imperialisme dan despotisme melalui dewan legislatif, Republik Islam Iran kemudian menentapkan Hari Parlemen yang bertepatan dengan hari gugurnya Syahid Ayatullah Modarres.

Sayid Hassan Modarres dilahirkan di keluarga agamais di sebuah desa di sekitar kota Isfahan pada tahun 1870 Masehi. Dia belajar pendidikan dasar agama dari kakeknya dan kemudian melanjutkan studinya di Hauzah Ilmiah Isfahan. Ia mencapai derajat ijtihad setelah 13 tahun menekuni pendidikan agama.

Meski demikian, Sayid Hassan Modarres selanjutnya memilih hijrah ke kota Najaf, Irak untuk memperdalam ilmu agama dan belajar lagi dari sejumlah ulama besar di kota tersebut selama tujuh tahun. Pada usia 35 tahun, Ayatullah Modarres kembali ke Isfahan sebagai salah satu ulama dan mujtahid besar.

Kepulangannya ke Iran terjadi bersamaan dengan sebuah perubahan penting untuk mewujudkan Revolusi Konstitusi dan mencapai kemenangan pada 1906. Revolusi Konstitusional Iran adalah kebangkitan rakyat di bawah pimpinan ulama yang bertujuan memperjuangkan keadilan dan demokrasi di Iran serta menentang intervensi asing.

Sejak awal, Ayatullah Modarres bersama para ulama dan tokoh menyatakan dukungannya terhadap gerakan Revolusi Konstitusi dan praktis menentang tirani penguasa. Tentu saja ia tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang guru dan pengajar ilmu agama. Sebutan modarres (guru) juga diberikan oleh masyarakat karena profesinya ini.

Ajaran Islam mendorong Ayatullah Modarres untuk memperhatikan perkara agama dan masalah politik. Dalam Islam, mengurusi persoalan sosial dan politik adalah bagian dari tugas agama, dan seorang Muslim tidak hanya berkewajiban beramal saleh dan ibadah, tetapi juga memikul tanggung jawab sosial dan politik.

Sirah Rasulullah Saw, para khalifah, dan ulama mencatat bahwa mereka tidak hanya memperhatikan aspek individu agama, tetapi juga menangani isu-isu sosial dalam konteks ajaran Ilahi. Namun, orang-orang yang berpikiran kaku berpendapat seorang Muslim harus fokus pada ibadah dan kewajiban personal saja, dan tidak perlu mengurusi masalah sosial dan politik.

Kubu imperialis juga memandang campur tangan umat Islam dalam urusan politik akan menghalangi misi mereka menjajah dan menjarah negara-negara Muslim. Oleh karena itu, kaum imperialis gencar mempromosikan sekulerisme yaitu dalam Islam, agama harus dipisahkan dari politik.

Namun, Ayatullah Modarres termasuk salah seorang ulama yang merasakan bahaya sekulerisme, selalu menekankan hubungan kuat agama dan politik dalam Islam dan secara lantang berkata, “Agama kita adalah politik kita dan politik kita adalah agama kita."

Ayatullah Modarres sebagai seorang ulama besar dan politisi yang merakyat, terjun ke dunia politik Iran pasca kemenangan Revolusi Konstitusi. Berdasarkan undang-undang hasil revolusi ini, lima orang fuqaha’ ditunjuk untuk memeriksa bahwa aturan yang diratifikasi oleh parlemen nasional tidak menyalahi syariat Islam, dan Ayatullah Modarres terpilih sebagai salah satu anggota tim lima pada periode kedua parlemen.

Dia hijrah ke Tehran untuk menunaikan tugas barunya dan dalam pidato pertamanya di parlemen, ia mengajak semua orang untuk bersatu dan kompak demi mencapai tujuan-tujuan Revolusi Konstitusi dan pelayanan masyarakat. Namun, parlemen periode kedua diliburkan setelah dua tahun beraktivitas karena intervensi Rusia dan bahaya kembalinya despotisme.

Ayatullah Modarres memanfaatkan kesempatan itu untuk mendidik para santri di Hauzah Ilmiah dan mengkader para ulama muda demi masa depan negara. Rumahnya menjadi tempat bagi masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan kesulitan. Dia dikenal sebagai seorang ulama yang istiqamah, peduli, dan berjiwa sosial tinggi.

Selama pemilu berbagai periode parlemen, Ayatullah Modarres selalu mendulang suara tinggi dan memperoleh dukungan besar dari masyarakat. Ia vokal dalam membela hak-hak masyarakat di parlemen dan di tempat lain sehingga berkali-kali menghadapi upaya teror.

Faktor lain yang membuat Ayatullah Modarres dicintai dan populer di masyarakat adalah gaya hidup sederhana dan merakyat. Gaya hidupnya bahkan lebih sederhana dari sebagian besar masyarakat dan tidak ada jarak apapun dalam berinteraksi dengan warga. Karena kesederhanaan dan kepedulian yang besar, ulama pejuang ini tidak pernah merasa takut memperjuangkan keadilan dan memerangi kezaliman.

“Jika kalian melihat aku berbicara bebas tentang banyak rahasia dan berkata benar tanpa rasa takut, itu karena aku tidak memiliki sesuatu dan juga tidak menginginkan apapun dari siapa pun,” tegas Ayatullah Modarres dalam salah satu pidatonya.

Ciri khas pemikiran Ayatullah Modarres adalah memperjuangkan independensi negara dan menentang keras imperialisme. Dengan wawasannya tentang situasi dunia dan sejarah kejahatan penjajah, ia percaya negara dan imperialis mana pun tidak berhak mencampuri urusan internal Iran.

Selama Perang Dunia I, pemerintah Iran mengumumkan sikap netral dan hal ini memicu kemarahan Rusia dan Inggris. Tentara Rusia dan Inggris kemudian menduduki banyak wilayah Iran di bagian utara dan selatan dan membunuh banyak orang.

Pada masa itu, berkat upaya Ayatullah Modarres, komite pertahanan nasional dibentuk dengan harapan bisa mencegah tragedi kemanusiaan yang lebih besar. Namun, tujuan itu tidak tercapai karena tentara agresor kian memperluas daerah jajahannya, dan Ayatullah Modarres mengasingkan diri ke wilayah kekuasaan Utsmani selama dua tahun.

Di antara perjuangan anti-imperialis Ayatullah Modarres adalah menentang keras kontrak politik 1919 antara Inggris dan Vosouq Al Dowleh, Perdana Menteri Iran waktu itu. Kontrak ini menyerahkan semua urusan negara dan sumber-sumber Iran kepada Inggris. Akan tetapi, pemerintah boneka Iran terpaksa mundur dari keputusannya karena derasnya penentangan ulama dan rakyat.  

Setelah kontrak ini gagal, Inggris menyusun konspirasi baru untuk memperbesar infiltrasinya di Iran dan pada 22 Februari 1921, Inggris melakukan sebuah kudeta di bawah pimpinan Reza Khan, anteknya di Iran. Reza Khan – sosok yang kejam, arogan, dan pemimpin bertangan besi – pada awalnya diangkat untuk memimpin kementerian peperangan.

Ayatullah Modarres sudah mencium tipu daya Inggris dan dengan berani bangkit menentang tindakan arogan dan kepemimpinan Reza Khan. Ketika penguasa mengangkat slogan perubahan sistem pemerintahan dari revolusi konstitusi ke republik, Ayatullah Modarres yakin bahwa Inggris ingin mengkonsentrasikan kekuasaan melalui slogan republik di tangan satu orang; Reza Khan, tanpa mempedulikan tuntutan dan kehendak rakyat.

Ayatullah Modarres menyuarakan penentangan keras terhadap skenario itu dan memberi pencerahan kepada masyarakat dan tokoh. Reza Khan akhirnya mundur dari skenario pembentukan sistem republik versi Inggris. Namun tidak lama setelah peristiwa ini, Reza Khan menyerukan pembubaran Dinasti Qajar dan mendirikan Dinasti Pahlevi, dengan kata lain mengangkat dirinya sebagai raja Iran.

Makam Syahid Modarres di kota Kashmar, Provinsi Khorasan Razavi.

Kubu nasionalis dan ulama khususnya Ayatullah Modarres, menolak gagasan yang bertentangan dengan undang-undang dasar hasil Revolusi Konstitusi. Namun, Reza Khan dengan dukungan Inggris memaksakan dirinya sebagai shah Iran, dan mengancam kepentingan bangsa dan negara.

Pemilu parlemen periode keenam yang digelar di bawah Reza Khan, diwarnai kecurangan besar-besaran dan sebagian besar dari pendukung rezim lolos ke lembaga legislatif. Meski demikian, Ayatullah Modarres tetap terpilih sebagai anggota parlemen dengan memperoleh suara mayoritas di Tehran.

Di bawah rezim diktator, Ayatullah Modarres semakin meningkatkan upayanya memberikan nasihat dan kritikan kepada penguasa, sehingga pada satu kesempatan ia menjadi sasaran pemukulan dan juga pernah menghadapi upaya pembunuhan.

Nyalinya tidak pernah ciut dan tetap mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Inggris dan despotisme Reza Khan. Ayatullah Modarres berkata, “Allah tidak memberikan aku dua hal; rasa takut dan sifat rakus. Siapa pun yang membela kepentingan nasional dan urusan agama, aku juga akan bersamanya dan jika tidak, aku akan menentangnya.”

Sikap vokal ulama pejuang ini membuat Reza Khan murka dan pada pemilu periode berikutnya, pemerintah mengumumkan bahwa Ayatullah Modarres tidak mengantongi suara satu pun. Mendengar ini, ia mengeluarkan sebuah sindiran dengan berkata, “Paling tidak aku memperoleh satu suara yaitu suaraku sendiri, mengapa kalian tidak mengumumkannya?”

Setelah kekuasaannya kuat, Reza Khan mulai melancarkan aksi balas dendam terhadap Ayatullah Modarres dan kemudian mengasingkan ulama pejuang ini ke daerah terpencil, desa Khaf di timur laut Iran. Karena masih merasa terancam dengan perjuangan ulama besar ini, Reza Khan memerintahkan tentaranya untuk membunuh Ayatullah Modarres tepat tujuh tahun setelah diasingkan.

Perintah eksekusi dilaksanakan pada 1 Desember 1937, dan masyarakat Iran sampai sekarang masih mengenang perjuangan Ayatullah Modarres.

Imam Khomeini ra memuji keberanian, perjuangan, dan pengabdian Syahid Ayatullah Sayid Hassan Modarres.

“Syahid besar kita almarhum Modarres adalah bintang terang yang menerangi negara dari kegelapan kezaliman dan penindasan Reza Shah, dan orang yang tidak hidup di zaman itu, ia tidak akan memahami nilai dari sosok yang luhur ini. Bangsa kita berhutang pada pengabdian dan pengorbanan dia,” kata Imam Khomeini ra. (RM)