Narasi Migrasi dalam Pameran Foto The Land of Bewilderment
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i74005-narasi_migrasi_dalam_pameran_foto_the_land_of_bewilderment
Pameran The Land of Bewilderment merupakan pameran independen pertama fotografer Iran, Mohammad Sayyad dengan pengalaman separuh abadnya di bidang fotografi profesional dan beluang untuk mengenal profesinya. Hasil jepretan Sayyad di tingkat dunia kebanyakan berkaitan dengan era Revolusi Islam, pendudukan kedubes AS di Iran dan peristiwa Tabas.
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
Sep 22, 2019 15:31 Asia/Jakarta
  • Pameran foto The Land of Bewilderment
    Pameran foto The Land of Bewilderment

Pameran The Land of Bewilderment merupakan pameran independen pertama fotografer Iran, Mohammad Sayyad dengan pengalaman separuh abadnya di bidang fotografi profesional dan beluang untuk mengenal profesinya. Hasil jepretan Sayyad di tingkat dunia kebanyakan berkaitan dengan era Revolusi Islam, pendudukan kedubes AS di Iran dan peristiwa Tabas.

Pameran foto Mohammad Sayyad, setelah berktivitas selama 47 tahun di bidang pers Iran, untuk pertama kalinya digelar di pusat pameran Tehran bagi para pecinta foto. The Land of Bewilderment tajuk pameran Mohammad Sayyad yang digelar di Tegran. Pameran ini mementaskan 100 foto meriwayatkan penderitaan pengungsi dan warga Kurdi Irak serta usaha mereka berlindung di wilayah Iran di era represi diktator Saddam Hussain terhadap etnis ini.

The Land of Bewilderment menceritakan detik-detik kehidupan di mana setiap foto memiliki kisah tersendiri dan identitas pemiliknya hilang di bawah bayang-bayang pengungsian ketimbang menonjolkan sisi politik dan etnis.

Pameran foto The Land of Bewilderment selain memamerkan sepenggal sejarah migrasi dan pengusiran paksa, juga mengenalkan seorang fotografer berpengalaman serta menceritakan sebagian kinerja atau memorialnya. Pameran foto hitam putih, masing-masing menceritakan kisah kehancuran dan migrasi.

Mohammad Sayyad contoh nyata monokrom sejarah visual Iran yang tidak memiliki latar belakang akademik fotografi berhasil menghasilkan foto-foto gemilang dan berpengaruh di sejarah empat dekade Iran yang diwarnai politik dan sosial paling rumit.

Mohammad Sayyad dilahirkan tahun 1326 Hs (1947) di Bandar Anzali. Sejak remaja ia pindah ke Tehran dan belajar seni fotografi dan bekerja. 50 tahun silam di tahun 1348 ia bergabung dengan asosiasi wartawan dan memulai profesinya. Selama tahun-tahun sebelum revolusi, ia bekerja sama dengan sejumlah koran untuk berita politik, olahraga dan sosial. Sementara menjelas revolusi Islam, ia mulai bekerja untuk Associated Press (AP). Ia bekerja selama 25 tahun untuk AP.

Di awal perang pertahanan suci, Sayyad selalu pergi ke medan perang untuk mengambil foto. Foto-fotonya ini dicetak di buku seperti Enghelab-e Noor, 444 Days: The Story of the American Hostages in Tehran, Romantic Defense, The Imposed War: Defense vs. Assault.

Sayyad di tahun 1358 Hs atas dorongan Kaveh Golestan, menerbitkan buku berupa narasi hari-hari menjelang kemenangan Revolusi Islam dalam bentuk foto. Di tahun 1359 Hs, Sayyad menyebet penghargaan fotografer terbaik Timur Tengah karena foto-fotonya yang berkaitan dengan kegagalan operasi AS di Tabas. Sejumlah foto Sayyad ini tersimpan di arsip AP dan terkadang dimuat di artikel asing. Meski demikian sangat jarang foto jepretan Sayyad dapat ditemukan di internet. Dan pameran ini merupakan awal perilisan foto-foto fotografer profesional Iran ini.

Foto-foto di pameran The Land of Bewilderment di bagi menjadi tiga bagian: foto yang dipotong dan asli ditempatkan di sebelah kiri, foto ukuran tunggal ditempatkan di satu deretan atau tiga dan tempat kaca bagi foto-foto kecil.

Foto-foto ini diambil antara tahun 1367-1370 Hs (1988-1991) dari pengungsi Kurdi Irak yang hijrah ke Iran akibat tekanan internal Irak dan pemerintah Saddam Hussein. Foto para pengungsi ini tengah melintasi perbatasan Iran dan Irak serta Turki atau ketika mereka tengah berada di kamp pengungsi. Tujuan mereka adalah kota-kota perbatasan Iran.

Dalam pandangan pertama, foto yang dipotong (foto cropped) diperbesar untuk menarik perhatian. Foto-foto cropped dan diperbesar ini terdapat titik-titik perak dan garis foto negatif, yang sepertinya menunjukkan luka-luka yang sampai sekarang menggerogoti jiwa.

Sementara di tempat kaca kita menyaksikan foto sang fotografer di wilayah perang dan daerah yang ia kunjungi. Selain itu ada film negatif dari berbagai tugas Sayyad, kamera dan lensanya yang ia gunakan selama tahun-tahun tersebut, media asing yang memuat fotonya, foto-fota Sayyad selama bekerja, negatif film dari pekerjaan lainnya seperti di medan perang pertahanan suci.

Foto-foto Sayyad sejak awal hari-hari Revolusi, perang dan berbagai peristiwa politik, sosial dan budaya selama beberapa tahun terakhir merupakan hasil kerja keras seorang fotografer tak kenal lelah yang berusia 71 tahun setelah 55 tahun aktif dan kedekatannya dengan kamera, sampai saat ini ia tidak meletakkan alat pembuat sejarah ini dan ia tidak pernah keluar dari rumah tanpa kamera.

Seraya mengisyaratkan pameran foto-fotonya setelah lebih dari lima dekade, Sayyad mengatakan, tugas seorang fotografer adalah merekam momen-momen penting sejarah sehingga dapat menjadi saksi bagi generasi mendatang dan Saya berusaha meriwayatkan realita kehidupan suku Kurdi di kondisi saat itu.

Menjawab pertanyaan apakah pemilihan foto berdasarkan foto terbaik atau urgensitas peristiwa yang direkam, Sayyad mengatakan, di foto berita kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Di sisi lain, di sejumlah peristiwa saya sebagai fotografer hadir di medan. Ada sejumlah foto seperti ini.

Sejak pertama menyaksikan frame foto seorang wanita tua dengan wajah kurus, pertanyaan mengenai foto ini mengemuka. Di samping foto asli wanita tua dengan lima bingkai foto lain dalam bentuk vertikal dipasang di samping foto yang diperbesar, ada foto perempuan dengan pakaian adat Kurdi. Wanita di puncak kesengsaraan itu indah, dan kerutan di wajahnya menunjukkan penderitaan yang dia dipaksa.

Lima bingkai foto lainnya menunjukkan sekelompok wanita dan anak-anak yang memandang kamera dan meneriakkan kesengsaraan para pengungsi. Beberapa foto disusun secara horizontal dengan deskripsi singkat. Namun mayoritas bingkai tersebut wanita dan anak-anak.

Pameran di dua susun foto dengan tata letak yang teliti. Penerangan yang digunakan adalah penerangan musim dingin, penerangan dingin dan bisu. Pakaian berlapis dan tebal yang dikenakan pengungsi menunjukkan saat itu musim dingin ekstrim. Hitam putih foto memperparah kepahitan para pengungsi.

Foto Piranshahr dan Sardasht di dekat perbatasan Iran dan warga yang mempertaruhkan nyawa untuk melintasi jalan sulit pegunungan. Para pengungsi yang membawa seluruh kehidupannya dalam karung goni di pundak mereka untuk mencapai kamp-kamp yang dipersiapkan bagi mereka dan saham mereka berupa tenda yang akan melindungi mereka dari kedinginan.

Dengan seluruh kondisi ini, sangat kentara semangat untuk tetap hidup di mata para pengungsi. Hal ini dapat disaksikan dengan jelas di frame yang menunjukkan kondisi kamp dan tenda para pengungsi. Para lelaki yang meski terpaksa mengungsi, tapi mereka optimis dengan masa depan. Sementara para perempuan yang tidak melupakan peran keibuan mereka dan menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak yang kelaparan serta membela mereka dan tetap menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Ada juga wajah anak-anak yang penuh dengan perasaan kontradiktif; wajah-wajah yang dipenuhi semangat hidup dan kelelahan ekstrim. Anak-anak yang lelah, marah, menangis, ingin tahu, kaget dan terkadang tertawa yang tidak menyadari bagaimana sejarah akan mengenang mereka.

Di salah satu frame foto ada anak sambil membawa spanduk berdiri dibarisan terdepan ketika aksi demo anti kejahatan Saddam. Ia menuntut kebebasan dan dihentikannya perang. Mereka anak-anak laki-laki dan perempuan yang membawa spanduk yang menceritakan penderitaan yang mereka alami.

Frame terakhir sebuah foto besar anak laki-laki dengan kaki telanjang dan penuh tanah yang berdiri tegak di depan kamera di hadapan dunia. Foto dipenuhi kebisuan. Seorang anak kecil dengan pakaian usang dan tak berwarna, manusia yang tengah menjauh. Sementara anak kecil itu dengan pandangannya yang penuh tanda tanya di The Land of Bewilderment sangat kesepian dan tengah mengalami masa-masa pertumbuhannya. Terserah audiens untuk memutuskan bagaimana menentukan nasibnya.

Hairani dalam bahasa berarti sesuatu yang menakjubkan, baik itu pengungsi yang menjadi obyek foto, atau pun audiens yang menyaksikannya. Keduanya menakjubkan, yang satu kagum pada rasa sakit yang telah menimpanya dan yang satu kagum memperhatikan penderitaan yang lain.

The Land of Bewilderment sebuah upaya untuk menampilkan penderitaan para pengungsi, kemiskinan dan pengungsian akibatnya. Sebuah kezaliman kepada orang lain akibat manusia-manusia tamak.

Foto-foto di pameran ini hanya sekelumit dari tragedi yang diciptakan oleh Saddam Hussein dan pendukunganya selama beberapa tahun lalu dan kita tahu bahwa kejahatannya selama delapan tahun perang pertahanan suci sangat besar dan tak terhitung. Generasi mendatang akan memutuskan bahwa kebungkaman masyarakat internasional seberapa besar menambah sisi kejahatan ini dan hak asasi manusia yang digaungkan Barat tak lebih sebuah slogan tanpa jaminan.