Yalda, Harapan dan Cinta di Malam Terpanjang
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i76689-yalda_harapan_dan_cinta_di_malam_terpanjang
Harapan dan cinta, dua kekuatan yang mendorong penting yang dijarkan alam semesta kepada manusia. Banyak cara dilakukan manusia untuk merawatnya, termasuk dengan menghidupkan tradisi Yalda, sebagai malam terpanjang dalam setahun.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 18, 2019 11:25 Asia/Jakarta
  • Malam Yalda
    Malam Yalda

Harapan dan cinta, dua kekuatan yang mendorong penting yang dijarkan alam semesta kepada manusia. Banyak cara dilakukan manusia untuk merawatnya, termasuk dengan menghidupkan tradisi Yalda, sebagai malam terpanjang dalam setahun.

 

Orang Iran  kuno percaya di malam terpanjang tahun ini, kekuatan jahat akan sirna. Sebab matahari akan terbit dengan cerah. Matahari dengan sinarnya telah memberikan kehidupan kepada bumi dan semua yang ada di dalamnya dari pepohonan yang hijau dan bunga yang berwarna-warni. Alam semesta ini mengajarkan dua hal; harapan dan cinta.

Orang-orang dahulu menjaga dan merawat keyakinan ini dengan berbagai bentuk, termasuk dengan tradisi Shab-e Yalda. Perayaan Malam Yalda adalah satu-satunya perayaan yang selalu ada dalam budaya masyarakat Iran setelah peringatan Nowruz (perayaan hari pertama musim semi dan awal kalender Iran). Salah satu penyebab tradisi tersebut masih tetap bertahan karena adanya tradisi yang terus dilestarikan hingga kini.

Selain itu, awal musim dingin dianggap sebagai berakhirnya aktivitas para petani dan panen serta awal dari masa-masa istirahat mereka. Perayaan Yalda juga menjadi pengingat masa lalu orang-orang Iran. Masyarakat di desa yang pergi ke kota di Malam Yalda telah menambah semaraknya perayaan tersebut dalam masyarakat kota.

Abadinya perayaan tersebut menunjukkan ikatan yang tak terpisahkan antara masyarakat Iran sekarang dengan budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Malam Yalda pada tahun ini jatuh pada Sabtu malam, 21 Desember.

 

Selamat  hari Yalda

Sejarah tradisi malam Yalda sangat panjang dan kembali ke era Persia kuno. Sejarah perayaan ini kembali pada sejarah peringatan ulang tahun matahari di hari pertama musim dingin atau yang dikenal dengan ritual Khorram Rooz. Tradisi musim dingin sangat penting bagi warga yang kehidupannya bertumpu pada pertanian dan peternakan. Perayaan diakukan seluruh lapisan masyarakat ketika itu.

Sejarah mencatat 7.000 tahun lalu, atau tepatnya 502 sebelum Masehi, orang-orang Iran telah menemukan penanggalan matahari hingga akhirnya mengetahui bahwa malam pertama musim dingin adalah malam terpanjang dalam setahun.

Masyarakat di masa lalu yang menyaksikan pergerakan matahari, bulan, bintang, perubahan musim, pendek dan panjangnya hari dan malam berusaha menyesuaikan aktivitas sehari-hari mereka dengan kondisi tersebut. Mereka banyak memanfaatkan fenomena itu dalam menjalani kehidupan mereka. Oleh karena itu, masyarakat Iran memuji fenomena alam dan mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

 

Yalda berasal dari bahasa Suryani yang berarti kelahiran. Dengan demikian menurut keyakinan orang Iran kuno, matahari terlahir di akhir malam musim gugur, yakni akhir bulan Azar dalam kalender mereka. Abu Rayhan al-Biruni, ulama Iran abad ke-10 dan 11 Masehi menyebut festival Yalda sebagai "Milad Akbar" dan yang dimaksud adalah kelahiran matahari. 

Masudi, sejarawan Muslim yang hidup di abad ke 10 Masehi, membagi tahun menjadi empat musim.  Mengenai musim ketiga, yakni musim gugur, Masudi menyebut malam terakhir musim gugur sebagai malam sebelum perubahan musim dingin atau awal bulan Dey (kalender Iran). Biruni mengungkapkan bahwa mulai hari pertama bulan Dey sebagai xwar (خور) dan di sebagain sumber disebut Khorram Rooz.

 

 

Selama bertahun-tahun, perayaan Shab-e Yalda digelar di setiap rumah warga Iran. Ikatan emosional yang mendalam dari acara-acara keluarga di Shab-e Cheleh telah berubah menjadi sebuah kenangan abadi yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Biasanya, anggota keluarga merayakan Shab-e Yalda bersama orang tua atau mereka yang dituakan dalam keluarga dengan suasana  bahagia.

Di Malam Yalda, kebanyakan keluarga terlepas dari agama dan aliran yang mereka yakini duduk bersama keluarga mereka di bawah cahaya dan di depan hidangan khusus dalam perayaan tersebut. Hidangan itu di banyak daerah di Iran disebut sebagai "Shab Careh" yang biasanya terdiri dari tujuh jenis buah-buahan dan tujuh jenis kacang-kacangan, bahkan terkadang jumlah jenis buah dan kacang-kacangan itu lebih dari tujuh jenis.  Selain tujuh jenis kacang-kacangan dan buah-buahan, Shab Careh juga meliputi biji-bijian seperti gandum, dan kacang-kacangan seperti kwaci dari biji semangka dan biji bunga matahari.

Beberapa hari sebelum malam Yalda, pasar dan toko buah dan kacang-kacangan di Iran sesak dengan pembeli yang menyiapkan perayaan itu. Bahkan biasanya pasar dan toko tersebut ramai hingga tengah malam. Buah-buahan khusus Shab-e Yalda adalah semangka, delima dan anggur. Namun terkadang buah-buahan tersebut dilengkapi dengan buah-buahan di musim panas lainnya seperti apel, melon, mentimun dan buah "beh" (safarjal/quince).

Di antara buah-buahan yang paling penting di Malam Yalda adalah semangka. Ada sebuah pepatah kuno, jika seseorang memakan buah semangka malam Yalda, maka ia tidak akan sakit, atau kedinginan selama musim dingin.  Makan buah semangka dan delima di Shab-e Cheleh memiliki rahasia tersendiri, di mana warna merah kedua buah itu melambangkan kehangatan lembut di malam musim dingin.

 

Pada abad-abad terakhir, para keluarga di Iran lebih suka menghabiskan Shab-e Yalda untuk membaca dan menelaah buku dan syair-syair Hafez, seorang penyair besar Iran. Sebagian keluarga di Iran juga melewati Shab-e Cheleh dengan bercerita tentang berbagai kenangan dan pengalaman kakek dan nenek mereka.

Salah satu tradisi lain yang menghiasi Shab-e Cheleh adalah pemberian hadiah khusus kepada mereka yang baru menikah atau telah akad tetapi belum resepsi. Bagi mereka yang sudah membaca akad namun belum resepsi dan belum hidup serumah akan menerima hadiah-hadiah tertentu. Biasanya ibu mertua pengantin perempuan akan mengirim makanan-makanan khusus Shab-e Yalda yang telah dikemas dengan indah dan disertai dengan hadiah-hadiah seperti pakaian, kain dan emas kepada menantunya. Hal yang sama juga dilakukan oleh ibu mertua pengantin laki-laki, namun di sebagian daerah di Iran mertua pengantin laki-laki akan mengirimkan hadiah tersebut di malam berikutnya setelah Malam Yalda. 

 

 

Tradisi tersebut dilakukan dengan cara-cara yang berbeda di seluruh daerah di Iran. Masyarakat Azerbaijan di barat daya Iran,akan memberikan hadiah kepada calon menantu perempuan atau menantu perempuan yang baru menikah dengan berbagai hadiah yang disertai dengan semangka yang dibungkus dengan syal merah. Hal itu dilakukan karena mereka meyakini bahwa syal merah akan menyebabkan kebahagiaan dan keberuntungan bagi pengantin perempuan.

Sementara, masyarakat di Iran utara menghias semua item yang diperlukan di Shab-e Yalda dengan ikan besar dan mengirimnya kepada calon pengantin perempuan. Sementara masyarakat di Shiraz, sebelah selatan Iran, mereka menyiapkan Malam Yalda dengan menggelar Sufreh yangsama sekali tidak ada kemiripan dengan Sufreh Haft Sin di perayaan Nowruz. Sufreh tersebut dilengkapi dengan cermin, salah satu cabang bunga tulip, lilin yang indah dan berwarna-warni, piring dupa, buah-buahan, dan hidangan-hidangan Malam Yalda.

 

 

Malam Yalda dengan berbagai tradisinya yang masih lestari hingga kini memberikan berbagai pelajaran penting tentang harapan dan cinta yang harus tetap hidup dalam diri setiap manusia. Seperti matahari yang terus memancarkan sinarnya dan memberikan kehangatan bagi kehidupan ini. Selama hari Yalda.(PH)