Melangkah Menyambut Bulan Ramadhan
https://parstoday.ir/id/radio/other-i69807-melangkah_menyambut_bulan_ramadhan
Salah satu tradisi menyambut bulan Ramadhan adalah membersihkan masjid dan tempat-tempat ibadah. Kaum Muslim ingin menikmati perjamuan yang agung ini di tempat yang suci dan bersih. Membersihkan tempat ibadah adalah sebuah langkah untuk mengusir kelesuan dan mempersiapkan hati untuk perjamuan Tuhan.
(last modified 2026-03-30T17:25:28+00:00 )
May 05, 2019 10:50 Asia/Jakarta
  • Melangkah Menyambut Bulan Ramadhan

Salah satu tradisi menyambut bulan Ramadhan adalah membersihkan masjid dan tempat-tempat ibadah. Kaum Muslim ingin menikmati perjamuan yang agung ini di tempat yang suci dan bersih. Membersihkan tempat ibadah adalah sebuah langkah untuk mengusir kelesuan dan mempersiapkan hati untuk perjamuan Tuhan.

Bulan Sya'ban adalah momen untuk berzikir, mengingat Tuhan, beribadah, dan beristighfar. Sebuah momen penting untuk mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan. Banyak orang telah menjalani puasa di hari tententu pada bulan Sya'ban dan terutama hari terakhir bulan mulia ini.

Rasulullah Saw bersabda, "Sya'ban adalah bulanku dan Ramadhan bulan Tuhan. Untuk itu, barang siapa yang berpuasa di bulanku, aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat dan barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, ia akan terjaga dari api neraka." Oleh karena itu, banyak orang menjalani puasa sunnah Sya'ban sebagai persiapan untuk menyambut Ramadhan.

Di sepanjang tahun, Ramadan menjadi satu-satunya bulan yang disambut suka cita oleh kaum Muslim untuk mengekspresikan penghambaan. Mereka menganggap bulan ini sebagai momentum berharga untuk meningkatkan ketaatan dan ibadah.

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as dalam doa ke-44 Shahifah Sajjadiyah, memperkenalkan Ramadhan sebagai berikut, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara jalan-jalan itu, bulan-Nya, yaitu bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan, dan bulan ibadah, yang diturunkan di dalamnya al-Quran, sebagai petunjuk kepada manusia dan penjelas dari petunjuk dan pembeda antara hak dan batil. Lalu Allah menjelaskan keutamaan-keutamaannya dibanding bulan lain, dengan memenuhi bulan ini dengan berbagai kehormatan dan keutamaan yang terang."

Salam atas Syahru Ramadhan, sebuah bulan laksana air yang memadamkan bara api keburukan dan dosa. Salam atas Syahru Islam, bulan penyerahan diri di hadapan Allah Swt. Salam atas Syahru Thahur, bulan kesucian, salam atas Syahru Tamhist, bulan memurnikan diri dari aib dan dosa, dan salam atas Syahru al-Qiyam, bulan untuk beribadah dan terjaga di malam hari.

Ketika menyaksikan hilal bulan Ramadan, Rasulullah Saw berdiri menghadap kiblat dan berdoa kepada Allah Swt, meminta keamanan dan keselamatan serta memohon agar Dia menemaninya dalam shalat, puasa, dan membaca al-Quran.

Rasul Saw mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Allah, munculkanlah ia (hilal itu) atas kami dengan (membawa) keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, kesehatan yang meliputi (semua orang), penolakan atas seluruh jenis penyakit, rezeki yang lapang, dan pertolongan untuk mengerjakan shalat, puasa, beribadah, dan membaca al-Quran. Ya Allah, serahkanlah diri kami kepada bulan Ramadhan, terimalah ia dari kami, dan sehatkanlah kami di dalamnya hingga bulan Ramadhan ini berlalu dan Engkau telah memaafkan kami, mengampuni kami, dan merahmati kami.

Rasulullah sangat gembira dengan datangnya bulan ketaatan dan penghambaan, serta menyambut rahmat dan berkah yang turun di sepanjang Ramadhan.

"Katakanlah! Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS: Yunus, ayat 58)

Rasul melakukan persiapan maksimal untuk menyambut bulan Ramadhan dan mempersiapkan fisik untuk beribadah dan kembali kepada Allah Swt. Sebelum Ramadhan tiba, beliau melakukan puasa sunnah Sya'ban dan memberikan kabar gembira kepada para sahabat agar memperbanyak ibadah mereka selama Ramadhan.

Beliau juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan keistimewaan dan keutamaan bulan suci ini.

Rasulullah Saw dalam sebuah khutbah di penghujung bulan Sya’ban bersabda, "Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya merupakan paling utamanya hari, malam-malamnya adalah paling utamanya malam, dan detik-detiknya termasuk paling utamanya detik. Inilah bulan ketika kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini, nafas kalian dihitung sebagai tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah. Bermohonlah kepada Allah Tuhan kalian dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Dia membimbing kalian untuk menunaikan puasa dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini.

Pada bulan ini, diri kita merasakan lapar dan dahaga yang akan mengingatkan kita akan rasa lapar dan dahaga di hari kiamat kelak. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin, muliakanlah orang-orang tuamu, kasihanilah anak-anak kecil dan sambunglah tali persaudaraanmu.

…Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah kedua tanganmu untuk memanjatkan do’a dalam setiap waktu shalat, karena itu adalah waktu yang paling utama, di saat Allah memandang hamba-Nya dengan penuh rahmat. Dia menjawab mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan ketika mereka berdoa kepada-Nya."

Dapat dikatakan bahwa puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lain tidak hanya berhubungan dengan kegiatan fisik semata, tetapi gerakan yang bersumber dari akal dan hati yang tercermin lewat gerakan fisik. Oleh sebab itu, perbuatan yang tidak melibatkan nalar dan hati, ia akan menjadi sesuatu yang hampa dan tidak bernilai, serta tidak membawa pengaruh apapun pada pelakunya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Senandung spiritual bulan Ramadhan di setiap tahun tampak seperti sepotong surga, yang didatangkan oleh Allah ke dalam dunia materi yang membara ini dan memberikan kesempatan kepada kita untuk memasuki surga dalam perjamuan Ilahi di bulan ini. Sebagian orang menjadi ahli surga selama 30 hari, sebagian yang lain – karena 30 hari itu – menjadi ahli surga di sepanjang tahun, dan sebagian di sepanjang usianya, dan sebagian juga melewatinya dengan kelalaian, di mana patut disayangkan."

Dalam literatur Arab, Ramadhan berarti panas yang menyengat dan pancaran mentari di atas padang pasir. Sementara bulan Ramadhan adalah puncak pancaran rahmat Tuhan dan dampak dari pancaran itu adalah manusia akan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta. Salah satu media untuk mewujudkan perubahan di bulan Ramadhan adalah puasa.

Imam Ali as di salah satu khutbahnya, memperkenalkan puasa Ramadhan sebagai perisai dari azab Ilahi. Sebab, orang yang sedang berpuasa harus menjaga lisannya dari penyakit-penyakit hati seperti, menghina, mencela, membicarakan keburukan orang lain, berdusta, dan bahkan melakukan perdebatan.

Mengenai hasil dari berpuasa, sebuah hadis Qudsi menyebutkan, "Hasil puasa adalah (membuat seseorang) makan sedikit dan berbicara seperlunya. Keduanya akan mendatangkan hikmah, dan hikmah akan mendatangkan makrifat, dan makrifat akan mendatangkan yakin. Ketika seseorang mencapai derajat yakin, ia tidak akan takut dalam menjalani harinya baik itu berat atau mudah, dan kedudukan ini adalah milik orang-orang yang ridha (mencari keridhaan Allah Swt)..."

Mari kita sambut bulan mulian ini dengan mengucapkan doa Imam Sajjad as berikut ini, "Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan ilhami kami untuk mengenali keutamaan Ramadhan dan mengagungkan kemuliaannya." (RM)