Lintasan Sejarah 21 Agustus 2021
Hari ini Sabtu, 21 Agustus 2021 bertepatan dengan 12 Muharam 1443 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 30 Mordad 1400 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Tawanan Karbala Tiba di Kufah
1382 tahun yang lalu, tanggal 12 Muharam 61 HQ, setelah Imam Husein dan para pejuang Karbala gugur syahid, para anggota kafilah yang tersisa, yaitu kaum perempuan, anak-anak, dan Imam Ali Zainal Abidin, yang saat itu tengah sakit parah, digiring oleh pasukan Yazid ke kota Kufah.
Selain sebelumnya Ubaidillah bin Ziyad telah melakukan propaganda salah untuk menentang Imam Husein as dan para keturunannya, dan memperkenalkan beliau sebagai orang asing, kini ia juga mendorong rakyat Kufah untuk hadir dalam pesta perayaan kemenangan.
Rakyat Kufah yang gembira atas kemenangan ini berdatangan ke lorong-lorong dan pasar untuk melihat para tawanan. Namun tiba-tiba kegembiraan sebagian besar dari mereka yang memiliki sedikit cahaya keimanan di dalam kalbu berubah menjadi api kebencian dan kesedihan saat mendengar pidato Imam Sajjad as dan bibinya, Zainab Kubra as yang mencerahkan.
Selama berada di Kufah, kedua manusia agung ini bersama mereka yang tersisa dari tragedi Karbala, berada di antara rakyat sebagai tawanan perang dan berjalan di antara kepala-kepala syuhada Karbala yang ditancapkan di ujung-ujung tombak.
Perlahan-lahan, para penduduk Kufah mempertanyakan keturunan dan asal para tawanan ini. Mereka memasuki Darul Imarah dengan keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang senada hingga akhirnya mendapatkan jawabannya dalam pertemuan Ubaidullah bin Ziyad, penguasa bengis Kufah dan penyebab utama kesyahidan Imam Husein as.
Di depan kemarahan para tawanan dan penduduk, Ubaidillah bin Ziyad mengambil tongkat kayu seraya memukul kepala mulia Imam Husein as dan menyatakan bahwa kejadian ini merupakan kemenangan baginya di medan laga, dan terbunuhnya Imam Husein merupakan kehendak-Nya. Saat itulah ia mendapatkan jawaban yang mematikan dan sangat pedas dari Zainab as dan Imam Ali bin Imam Husain as yang menyebabkan kehinaan Yazid dan para keturunan Yazid.
Setelah sehari (atau beberapa hari, menurut sebuah riwayat) Ibnu Ziyad membawa kepala-kepala para syuhada untuk berkeliling di lorong-lorong dan tempat-tempat di Kufah, ia kemudian mengirimkan mereka ke Yazid bin Muawiyah di Syam. Setelah itu, menyerahkan para tawanan pada tanggung jawab Mukhaddhar bin Tsa'labah ‘Aidzi dan Syimr bin Dzil Jausyan untuk membawa mereka ke Syam. Ia memerintahkan supaya tubuh Zainal Abidin as diikat, kedua tangannya dikuncikan di leher, kemudian dinaikkan ke atas seekor unta yang tak berperlengkapan.
Iran Mewajibkan Nama Marga Bagi Warganya
87 tahun yang lalu, tanggal 30 Mordad 1313 HS, Iran mewajibkan setiap warganya untuk memiliki nama marga.
Di Iran penggunaan nama marga telah populer di tahun-tahun Revolusi Konstitusi di kalangan cendekiawan. Tapi dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama dan di tahun 1304 HS, unit dari lembaga bernama Baladieh ditingkatkan menjadi Edareh (kantor) dan menyebut dirinya dengan nama Ehsaieh.
Setelah itu dan di masa pemerintahan kerajaan Reza Shah, pada 30 Mordad 1313 HS dengan disepakatinya undang-undang sipil, penggunaan julukan di tahun-tahun sebelumnya dihapus dan kemudian diwajibkan kepada seluruh warga Iran. Pada masa itu, para petugas catatan sipil dikirim ke seluruh negeri untuk mendata nama marga bagi setiap suku guna menjadi referensi hukum.
Pemilihan nama marga biasanya mengikuti beberapa cara dan salah satunya adalah dengan memakai nama salah satu kepala sukunya. Nama daerah dan nama atau tokoh paling populer dari keluarga (ayah, kakek dan seterusnya) merupakan cara lain yang biasa dipakai untuk memilih nama marga. Terkadang nama marga diambil berdasarkan pekerjaan dan profesi seperti Javahirian yang berasal dari tukang emas. Ada juga yang menjadikan nama marga dari ciri khas fisik orang itu, seperti Qahraman untuk seorang yang badannya kuat.
Akhirnya, dengan diratifikasinya undang-undang sipil di Iran pada tahun 1313 HS, maka pendaftaran nama marga juga diwajibkan. Berdasarkan undang-undang, pemimpin sebuah keluarga memilih nama marga untuk anggota keluarganya dan nama marga itu dipakai oleh seluruh anggota keluarganya. Sejak masa itu hingga kini lebih dari empat generasi dari warga Iran dipanggil berdasarkan nama marganya.
Masjid Al-Aqsa Dibakar Kaum Zionis
52 tahun yang lalu, tanggal 21 Agustus 1969, Masjid al-Aqsa yang merupakan kiblat pertama kaum Muslimin, dibakar oleh rezim Zionis.
Akibat kebakaran ini, Masjid al-Aqsa mengalami kerusakan berat. Rezim Zionis menyatakan bahwa pelaku pembakaran itu seorang turis asal Autralia yang kemudian ditangkap dan diadili. Namun, pengadilan sandiwara yang dilaksanakan di Tel Aviv memutuskan bahwa turis tersebut mengalami gangguan jiwa dan karena itu dia dibebaskan.
Menanggapi kejadian pembakaran ini, rakyat muslim di berbagai penjuru dunia melakukan demonstrasi. Selain itu, pembakaran masjid al-Aqsa ini mendorong pemerintah negara-negara Muslim mendirikan Organisasii Konferensi Islam dengan tujuan untuk mengadapi bahaya yang mengancam dunia dan kesucian Islam.