Lintasan Sejarah 8 September 2021
Hari ini Rabu, 8 September 2021 bertepatan dengan 30 Muharam 1443 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 17 Shahrivar 1400 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Perang Shiffin Meletus
1406 tahun yang lalu, tanggal 1 Shafar 37 HQ, Perang Shiffin meletus.
Perang ini terjadi antara pasukan Imam Ali as melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, rakyat Madinah membaiat Imam Ali as dan mengangkat beliau sebagai khalifah. Namun, Muawiyah, seorang Gubernur di Damaskus, menolak menerima kepemimpinan Imam Ali dan melakukan perlawanan bersenjata.
Awalnya, Imam Ali berusaha melakukan perundingan demi mencegah pertumpahan darah di antara sesama muslim. Namun Muawiyah tetap membangkang dan pecahlah perang di sebuah daerah bernama Shiffin di tepi sungai Furat, Irak. Ketika pasukan Imam Ali hampir mencapai kemenangan, penasehat Muawiyah bernama Amr bin Ash memerintahkan pasukannya agar menancapkan al-Quran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama al-Quran.
Imam Ali yang memahami tipuan ini memerintahkan pasukannya agar terus bertempur, namun sebagian kelompok menolak. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Atas desakan kelompok Khawarij pula, perang dihentikan dan diadakan perundingan antara kedua pihak. Dalam perundingan ini, delegasi Muawiyah melakukan tipuan. Akibatnya, kekhalifahan kaum muslimin direbut dari tangan Imam Ali dan jatuh ke tangan Muawiyah.
Pakta SEATO Diteken di Manila
67 tahun yang lalu, tanggal 8 September 1954, sebuah pakta pertahanan bernama SEATO yang merupakan perjanjian keamanan Asia Tenggara ditandatangani di kota Manila, Filipina.
Pakta ini ditandatangani oleh AS, Inggris, Australia, Pakistan, Thailand, Perancis, Selandia Baru, dan Philipina. Berdasarkan perjanjian SEATO ini, para anggota perjanjian akan memberikan bantuan militer kepada negara anggota lainnya yang diserang oleh pihak luar.
Pada tahun 1975, SEATO dibubarkan setelah terjadinya perubahan besar di kawasan Asia Tenggara, khususnya yang terkait dengan kekalahan AS dalam perang Vietnam.
Jumat Berdarah dan Pembantaian di Bundaran Shohada Tehran
43 tahun yang lalu, tanggal 17 Shahrivar 1357 HS, Jumat pagi Jenderal Gholamali Oveisi, Panglima Militer Tehran mengumumkan kondisi darurat militer kepada warga Tehran dan sekitarnya lewat radio.
Masyarakat yang tidak mendapat informasi tentang kondisi darurat militer ini, sejak jam 6 pagi turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi di hari keempat berturut-turut. Tempat berkumpulnya para demonstran adalah Bundaran Zaleh (sekarang bernama Bundaran Shohada).
Ketika warga tiba di jalan-jalan yang menuju tempat berkumpul, tiba-tiba mereka menyaksikan tank dan kendaraan lapis baja lainnya disertai tentara yang bersenjatakan senapan otomatis telah menanti mereka. Para demonstran benar-benar tidak siap dengan keadaan ini. Sementara tentara yang ada di sana setelah mengeluarkan beberapa kali peringatan langsung menembaki warga.
Jenazah terlihat di mana-mana di sekitar Bundaran Shohada dan darah tergenang di sisi jalan. Pada hari itu, kaki tangan Shah Pahlevi tidak membiarkan para demonstran berhamburan meninggalkan tempat berkumpul, tapi mengejar mereka hingga ke rumah-rumah warga yang berada di sekitar peristiwa pembantaian itu. Rezim Shah mengumumkan bahwa jumlah seluruh syuhada sekitar 58 orang dan aksi demonstrasi ini dikendalikan dari luar negeri. Sekalipun jumlah pasti dari korban pembantaian Jumat Kelabu ini tidak pernah jelas hingga sekarang, tapi dapat dipastikan jumlah korban lebih dari 4 ribu orang.
Sejak peristiwa itu, tanggal 17 Shahrivar diperingati sebagai Hari Jumat Berdarah Tehran.