Sep 16, 2023 10:57 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 16 September 2023

Hari ini, Sabtu, 16 September 2023 bertepatan dengan 30 Safar 1445 H dan menurut kalender nasional Iran adalah tanggal 25 Shahrivar 1402 HS. Berikut ini adalah sejumlah peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini.

Hari Syahadah Imam Ridha as

 

Tanggal 30 Shafar 203 HQ, Imam Ali bin Musa as atau lebih dikenal dengan Ridha merupakan keturunan dari Rasulullah Saw gugur syahid.

 

Imam Ridha lahir pada tahun 148 Hijriah di kota Madinah.  Beliau menjadi imam setelah ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid. Beliau dipanggil Ridha karena sikap rela dan gembira menerima apa yang dikaruniakan kepadanya.

 

Makmun, Khalifah Bani Abbas pada tahun 200 Hijriah memerintahkan Imam Ridha as untuk pergi ke Marv, yang terletak di tenggara Turkmenistan sekarang yang dulunya merupakan bagian dari Khorasan besar. Meskipun pada lahirnya Makmun melantik Imam Ridha menjadi penggantinya, tetapi sebenarnya dia berniat untuk memperkokohkan pemerintahannya sendiri. Dalam kondisi ini, Imam terpaksa menerimanya.

 

Kedudukan tinggi ilmu dan spiritual Imam Ridha dan pengaruhnya yang semakin berkembang dalam opini umum secara berangsur-angsur menyebabkan Makmun menjadi takut. Akhirnya Makmun meracuni Imam Reza.

 

Antara kata-kata hikmah yang dapat dipetik dari kata-kata beliau, "Hamba Allah terbaik adalah mereka yang merasa senang setiap kali berbuat baik dan segera meminta ampunan setiap kali berbuat salah. Mereka akan menyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan kepadanya dan saat dililit masalah mereka tetap bersabar dan tidak murka."

 

Papua Nugini Merdeka

 

Tanggal 16 September 1975, Papua Nugini meraih kemerdekaannya.

 

Pada abad ke-16, Belanda menjajah kawasan tersebut, pada tahun 1884, Inggris berkuasa di Papua. Pada tahun 1906, sebagian wilayah Papua dikuasai oleh Australia. Sebagian wilayah Papua lainnya dikuasai oleh Jerman. Kemudian, Papua dibagi menjadi dua bagian, yaitu Papua di bawah kekuasaan Australia dan Nugini yang berada di bawah pengawasan PBB. Pada tahun 1949, kedua wilayah itu bersatu.

 

Baru pada tahun 1975 Papua Nugini menjadi sebuah negara merdeka. Papua Nugini bagian barat berbatasan dengan Indonesia dan bagian selatannya berbatasan dengan Australia. Negara ini memiliki luas wilayah 462 ribu kilometer persegi.

 

Allamah Sayid Murtadha Askari Wafat

 

Tanggal 25 Shahrivar 1386 HS, Allamah Sayid Murtadha Askari meninggal dunia dalam usia 98 tahun di rumah sakit Milad, Tehran.

 

Allamah Sayid Murtadha Askari lahir di kota Samarra pada 1293 HS dan berasal dari keluarga ulama. Ayahnya Ayatullah Sayid Mohammad Hosseini yang dikenal dengan sebutan Syeikh al-Islam merupakan anak dari Ayatullah Sayid Ismail Syeikh al-Islam dan menantu Ayatullah Mir Muhammad Syarif Askari Tehrani yang dikenal dengan sebutan Khatimah al-Muhadditsin.

 

Sejak berusia 10 tahun Allamah Askari telah memasuki hauzah ilmiah dan mempelajari tingkat awal dan menengah di kota kelahirannya. Pada 1310 HS di masa Marjaiyah Ayatullah al-Udzma Hairi Yazdi di Qom, beliau pergi ke kota Qom dan mempelajari pelajaran tingkat menengah hauzah kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Sheikh Mohammad Hossein Shariatmadari Saveji dan Ayatullah Sayid Shihab ad-Din Marashi Najafi di bidang. Kepada mereka Allamah Askari belajar fiqih dan ushul fiqih, dimana beliau berhasil menyelesaikan buku Lum'ah, Qawanin, Rasail dan Makasib.

 

Setelah itu Allamah Askari kembali ke kota Samarra dan melanjutkan buku Kifayah al-Ushul, kemudian fiqih dan ushul fiqih untuk tingkat mujtahid di kota itu. Beliau belajar kepada Ayatullah Agha Mirza Habibollah Ishtihardi dan Ayatullah Sayid Mohammad Reza Shoushtari.

 

Allamah Sayid Murtadha Askari memiliki metode baru dalam melakukan penelitian atas pelbagai masalah Islam atau dapat dikata pada dasarnya metode yang dilakukann beliau merupakan cara baru dalam menjelaskan Syiah dan membelanya. Contoh pertama penelitian beliau adalah buku Abdullah bin Saba wa Asathir Ukhra yang diterbitkan pada 1375 HQ. Buku ini dikenal luas di dunia Islam dan sangat berpengaruh. Di majalah al-Azhar terdapat dua artikel yang mengritisinya. Buku ini berlanjut hingga jilid keempat.

 

Setelah buku itu beliau menulis Khamsuuna wa Miah Shahabi Mukhtaliq (150 Sahabat Palsu) dalam tiga jilid, Maalim al-Madrasatain dalam 3 jilid dan al-Quran wa Riwayaat Madrasatain dalam 3 jilid. Akhirnya, dari risalah-risalah kecil beliau dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Bar Gostareh Kitab va Sunnah. Buku-buku beliau kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa dunia seperti Persia, Inggris, Turki, Urdu, Italia, Rusia dan lain-lain.